Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
102


Amuya sangat terkejut mendengar ucapan dari kichiro, dia benar benar mencampakkannya begitu saja.


Amuya menatap hanna yang berada dibelakang Kichiro, dia sangat kesal, dan jengkel mengapa selalu Hanna, Hanna dan Hanna.


Dalam batin Amuya "Sungguh memalukan aku kalah dari gadis itu, terlebih lagi permaisuri jian tidak memihakku, sekarang apa yang harus aku lakukan?"


Segera Amuya menundukkan kepalanya dan mengepalkan kedua tangan, dia membenturkan tangannya ke tanah.


"Selamanya aku tidak akan pernah melupakan penghinaan ini, Hanna kau pantas mati, aku tidak akan membiarkan mu bahagia, seharusnya aku yang bersama Kichiro bukan kau, mengapa keberuntungan selalu memihakmu, mengapa!! Dalam batin Amuya dengan perasaan benci.


Segera dia bangun dari sujudnya, kemudian dia menatap seluruh orang yang berada di Istana Yu.


"Baik, saya akan pergi dari sini, namun saya tidak akan begitu saja melupakan penghinaan ini, Pangeran Kichiro jika anda tau siapa Hanna sebenarnya pasti lah anda tidak akan terus bersamanya." Ucap Amuya sambil menatap Hanna.


Kaisar Yu terkejut mendengar ucapan dari Amuya. "Apa maksudmu itu?" Tanya Kaisar Yu dengan penasaran.


Amuya menatap Kaisar Yu. "Hm, iya dia mungkin terlihat baik, namun pasti dia sudah merencanakan sesuatu yang buruk terhadap kalian, itu pasti." Ucap amuya dengan tegas.


Kichiro sedikit melirik Hanna yang berada dibelakangnya.


"Apa kau punya buktinya? Jika Hanna akan melakukan sesuatu yang buruk pada keluarga kami?" ucap Kichiro melirik Amuya dengan tatapan sinis.


"Cepat atau lambat, pasti kebusukan nya akan terungkap." Ucap Amuya meyakinkan Kichiro.


Kirana melirik Hanna yang berada dibelakang Kichiro, segera dia berjalan menghampiri Hanna.


Hanna melirik kirana yang berada disampingnya.


"Ada apa?" ucap Hanna.


Hanna hanya tersenyum sinis, kemudian dia menatap Kirana.


Kirana yang merasa bingung karena Hanna tidak sedikitpun merasa panik ataupun takut jika rahasianya terbongkar.


"Apa kau sedikitpun tidak merasa khawatir?" ucap Kirana dengan suara lirih.


Hanna memalingkan wajahnya dan menatap Amuya yang tidak berdaya itu.


"Jika kau tidak memiliki bukti, sama saja itu dengan menipu, dan kau menggunakan cara seperti itu untuk menjatuhkan Hanna, aku sungguh tidak menyangka kau sungguh sangat rendah." Ucap Kichiro dengan tegas.


Perasaan kesal terlihat jelas dari raut wajah pria itu, Ibunda Kichiro menatap putranya yang begitu mempercayai Hanna.


Dalam batin Permaisuri Jian "Aku harus bisa memisahkan kichiro dari gadis keji itu, bagaimana pun juga Hanna adalah wanita yang kejam, dia memang memiliki niat buruk terhadap keluarga kami."


"Tetapi benar juga apa yang di katakan oleh Amuya, siapa sangka jika isterimu ini memang lah bukan gadis baik-baik." Sahut Permaisuri Jian.


Kichiro segera menatap bundanya yang berkata begitu pada Hanna.


"Jika bunda memiliki bukti, maka aku pasti akan mempercayai anda, namun jika itu hanya omong kosong belaka jangan salahkan saya jika saya tida bisa mempercayai anda." Ucap Kichiro dengan serius.


Permaisuri Jian sangat terkejut, dia tidak menyangka kichiro lebih mempercayai Hanna dibandingkan dengannya, ibunya sendiri.


"Nak, aku ini ibumu, mengapa kau tidak pernah mempercayaiku?" Bentak Jian.


"Aku tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai bunda, namun tanyakan pada diri bunda apa yang membuat ku mempercayai Hanna di banding bunda." Ucap Kichiro.