Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
27


Leo segera menurunkan Hanna.


"Hanna berhati-hatilah." Ucap Leo.


"Hm, ya." Hanna segera melihat sekeliling.


"Leo cepat jalan." Kemudian dia berjalan memasuki lembah.


Tiba-tiba tanah yang Hanna injak berguncang cukup besar."


Hanna segera mundur, Leo menatap kearah Hanna dengan pandangan waspada.


Tak lama ada seekor ular yang cukup besar keluar dari tanah.


Ular besar itu segera menyemburkan api dari mulutnya.


"Hanna hati-hati." Ucap Leo yang menatap Hanna.


Hanna segera menghindar dengan cepat.


Ular besar itu mengelilingi Hanna dengan ekor panjangnya.


Hanna yang menatapnya segera mengeluarkan pedang pusaka yang ia miliki.


"Dia bukan lah hewan biasa, melainkan dia seekor siluman." Ucap Leo memperingati.


Hanna menatap ular besar itu sambil menggenggampedangnya. "Jadi begitu, sungguh menjijikkan."


"Kau berani datang kemari, dan mengusikku! bentak ular besar itu.


"Tentu saja, bukankah kau diciptakan untuk diusik?! ucap Hanna.


"Sungguh lancang! Kau berani berkata seperti itu padaku?! ucap Ular itu sambil menyemburkan bisa.


Hanna segera menghalangi dengan kekuatan bumi miliknya. "Untuk apa takut padamu? Aku memiliki mulut yang dewa ciptakan untuk Bicara, bukankah benar apa yangku katakan? Mengapa harus marah?


Ular besar itu menggerakkan ekornya.


Leo yang melihatnya segera mencakari ekor Ular Siluman itu."


"Ah beraninya kau." Ucapnya sambil menghempaskan ekor.


Leo menghindar dengan cepat.


"Ah sayang sekali ekormu terluka, karna hewan kesayanganku." Menatap ekor siluman ular itu.


"Aku akan membunuhmu." Ucapnya sambil mengeluarkan bisa bercun.


Uca Hanna yang terus menghindar :"Apa hanya itu kemampuan yang kau miliki? membosankan sekali!


"Beraninya kau merendahkanku! Rasakan ini. Tiba-tiba ular kecil yang sangat banyak keluar dari tubuh siluman itu.


"Hih menjijikkan sekali." Ujar Leo dengan perasaan jijik.


Hanna segera menatap Leo. "Leo, kau urus yang kecil biar aku yang menghadapi Nyonya Ular ini." Dengan cepat Hanna berlari mendekati Siluman Ular itu.


"Baiklah, hmm sungguh sangat menjijikkan." Ucap Leo mengeluarkan kekuatan yang dimilikinya.


Hanna segera mendekati Siluman Ular itu.


"Pengendali udara." Sambil mengangkat pedang. Angin berhembus cukup kencang, Hanna berlari dan meloncat sampai menaiki tubuh Silumam Ular itu.


"Turun kau dari kepalaku, berani-beraninya kau menginjak kepalaku." Ucapnya dengan kesal.


"Upss maaf." Sambil berdiri tegak dan mengarahkan pedang pada kepala Ula."


"Rasakan kekuatanku." Ucap Siluman Ular itu.


Tiba-tiba Hanna merasa suhu pada ular itu semakin memanas.


"Hanna siluman itu memiliki api, didalam tubuhnya." Ujar Leo memperingati.


"Hahaha kau tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi." Ucap Siluman itu.


"Begitukah? Benih petir, awan menjadi hitam pekat dan angin berhembus dengan cepat. Hanna mengangkat pedang dengan cepat ia menusukkan pedang tepat di kepala Siluman Ular.


Siluman ular berteriak dengan sangat kesakitan. "Aaaaakh!


Hanna meloncat turun dan menatap Siluman Ular itu.


"Beraninya kau! Tubuh Siluman Ular itu bertambah besar dan warna mata berubah menjadi merah darah.


Hanna menatapnya dengan sedikit terkejut.


Siluman Ular itu segera mengeluarkan bisa beracun berwarna hitam.


Hanna yang melihatnya segera menghindar. "Dimana letak kelemahannya, dia ternyata cukup tangguh juga."


"Hanna dia ternyata cukup tangguh berhati-hatilah, jika bisa itu mengenai tubuh mu maka kau akan terluka cukup parah." Ucap Leo memperingati.


"Aku tau itu, aku hanya cukup mencari kelemahannya."


"Dia memiliki kekuatan api yang cukup luar biasa." Sambung Leo.


"Ah itu dia kelemahannya." Ucap Hanna


"Hah? ucap Leo yang terlihat bingung.