Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
148


Tak lama mereka sampai didalam hutan, disaat Norr dan Kirana berjumpa. Kirana menatap kearah hutan itu.


"Dimana kediamanmu, Kirana?" tanya Norr.


"Didekat jalan setapak itu, kau akan menemukan sebuah pohon besar yang menjulang tinggi disampingnya, terdapat gubuk kecil itulah rumahku." Ucap Kirana menjelaskan.


Segera Norr menghampiri tempat itu, dan mendaratkan tubuhnya setelah sampai didekat pohon besar, kemudian mereka melihat sebuah gubuk tua dan lusuh, kecil juga gelap. Haruka yang melihatnya merasa amat prihatin, dalam pikirnya pastilah Kirana telah menjalani hidup yang sangat sulit, Haruka segera turun dari tubuh Norr, diikuti dengan Kirana, tak lama Norr merubah tubuhnya menjadi manusia, Leo yang sudah berada disamping Haruka segera menatap Gubuk tua itu.


"Mari." Ucap Kirana yang mempersilahkan teman-temannya sambil berjalan menuju kearah Gubuk tua itu.


Haruka yang melihatnya segera berjalan untuk mengikuti Kirana. Kirana membuka pintu, cahaya matahari segera memasuki ruangan didalam gubuk itu. Haruka memperhatikan setiap ruangan itu.


"Silahkan duduk, aku akan menyiapkan minuman untuk kalian." Ucap Kirana yang sedikit memalingkan wajahnya kearah Haruka.


Haruka segera menatap waja Kirana, kemudian dia memalingkan pandangannya. Dia menatap sebuah kursi panjang dengan satu meja kayu yang berada disamping kirinya itu. Haruka segera duduk di kursi panjang itu dengan diikuti oleh Norr dan Leo yang segera duduk tegap di lantai.


"Sepertinya sesuatu yang sangat buruk tela menimpa dirinya." Ucap Leo sambil menatap sekeliling.


"Hmm, kita harus menanyakannya langsung pada Kirana." Ucap Haruka yang melirik kearah Leo.


Tak lama Kirana datang dari balik ruangan, sambil membawakan tiga cawan air yang berada diatas nampan besar, Haruka menatap Kirana, tanpa pikir panjang dia kemudian segera bertanya pada Kirana, dengan apa yang sudah terjadi dengan dirinya.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu?" tanya Haruka.


Kirana yang tengah berjalan segera menatap wajah Haruka, kemudian dia meletakkan minuman itu diatas meja kayu.


"Ceritanya panjang, semua dimulai saat kau membunuh Permaisuri Jian, setelah aku mendengar bahwa Pangeran Aska mencari dirimu, untuk membunuhmu, aku tidak bisa tinggal diam, dengan cepat aku mengejarmu. Namun, langkahku tidak bisa secepat Pangeran Aska yang menaiki kuda, tapi aku terus berusaha untuk membantumu. Tak lama saat aku telah sampai disana, aku tak sengaja melihat Raja Satoru yang diam-diam akan pergi meninggalkan Istana Lin, aku mencoba untuk mencegahnya dengan melawan. Tidak disangka kemahiranku dalam bertarung masih sangat bagus. Dia berhasil kubunuh dengan Pedang merah. Belum sempat aku bertemu denganmu, kau sudah tidak berada di Istana Lin, disana aku hanya melihat Istana Lin yang hancur tanpa sisa, dan jasad dari pasukan Pangeran Aska juga beserta dirinya. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke istanaku, dengan harapan aku dapat berjumpa dengan ibunda. Namun, siapa sangka Istanaku terlihat sangat kacau, rakyatku terlantar. Dan kepemimpinan diambil alih oleh Paman Jou. Mereka berkata ibuku sudah tiada, dia bunuh diri saat mendengar ayahku dibunuh Kaisar Yu, dan saat itu juga aku yang dipaksa menikah dengan Pangeran Rendra. Mereka mengusirku dari Istana akhirnya aku memutuskan untuk pergi, dan aku menemukan tempat ini disaat aku sudah tidak tau lagi harus pergi kemana?!" ucap Kirana yang terduduk disamping Norr dengan wajah penuh kebenciannya.


Haruka yang mendengarnya nampak iba, dia sungguh tidak menyangka, Kirana telah mengalami semua kemalangan itu sendirian.


Oh, iya lalu bagaimana denganmu?" tanya Kirana yang segera menoleh kearah Haruka.