
Haruka kemudian segera bangkit dari tundukkannya, lalu Haruka segera menghampiri Tuan Aximing yang saat itu tengah berada disampingnya dengan membawa seekor Kuda putih yang amat gagah.
"Tuan Aximing, terima kasih atas kebaikan yang sudah anda berikan, pastilah saya akan menjaga Kuda ini dengan baik, saya mohon pamit sekarang juga." Ucap, Haruka yang menatap Tuan Aximing yang tengah berada dihadapannya itu.
Tuan Aximing yang mendengar perkataan dari diri Haruka segera ia menganggukkan kepalanya, lalu Lizue yang saat itu tengah berada ditempatnya, segera ia berjalan untuk dapat menghampiri diri Haruka.
"Semoga kita lekas dipertemukan kembali ya kakak." Ucap Lizue dengan perasaan senang dalam dirinya.
Haruka yang mendengar perkataan dari Anak gadis kecil itu, tak mampu ia menjawab ucapan darinya, yang hanya dia lakukan untuk membalas ucapan dari Lizue hanyalah sebuah senyuman.
"Tuan Aximing, saya mohon pamit." Ucap, Haruka yang menatap diri Tuan Aximing.
Lalu segera pandangannya ia kembalikan kepada Lizue yang saat itu tengah berada dihadapannya.
"Selamat tinggal Lizue." Ucap, Haruka yang segera mengusap rambut Lizue dengan sangat lembut.
Haruka kemudian segera membalikan tubuhnya dan ia mencoba untuk mendekati Kuda putih itu, dengan perlahan Haruka mengangkat lengan kanannya untuk dapat mengusap tubuh dari Kuda putih itu.
"Namanya adalah Ren, dia Kuda jantan, berhati-hatilah dengan dirinya, dia Kuda yang cukup agresif." Ucap, Tuan Aximing yang menatap ke arah Haruka.
Tetapi nampaknya Kuda putih itu begitu amat bersahabat dengan diri Haruka, terlihat dia begitu dengan mudahnya dapat menyentuh tubuh Ren tanpa terkena pukulan sedikitpun.
"Aku mengerti, Changyi mari kita pergi." Ucap, Haruka yang segera menatap ke arah Pangeran Kichiro yang saat itu masih berada ditempatnya.
Pangeran Kichiro yang mendengar perkataan dari diri Haruka segera ia berjalan untuk dapat mendekati Wanita itu, tanpa pikir panjang lagi Haruka dan Pangeran Kichiro segera meninggalkan Tuan Aximing dan Putrinya Lizue.
"Hiakk." Ucap, Haruka yang segera menarik tali Kuda putih itu.
Mereka pun akhirnya meninggalkan Tuan Aximing dan Lizue, langkah dari Kuda putih itu begitu amat cepat sehingga membuat Haruka dan Pangeran Kichiro perlahan menghilang dari pandangan Tuan Aximing dan Lizue.
"Siapakah Wanita itu?" dalam benak Tuan Aximing dengan perasaan curiga.
°^°^°^
Ketika mereka sudah dalam perjalanan Haruka dan Pangeran Kichiro saat itu tengah menunggangi seekor Kuda putih yang amat gagah, Pangeran Kichiro yang tengah menunggangi Kuda putih itu menatap diri Haruka yang tengah berada dihadapannya. Tak lama Pangeran Kichiro yang tengah memperhatikan diri Haruka segera berbicara kepada Haruka.
"Ternyata kau begitu sangat menyukai anak kecil, apakah kau sudah memiliki seorang anak?" tanya Pangeran Kichiro yang tengah menatap diri Haruka dari arah belakang, ia berbicara dengan perasaan penuh harap dalam dirinya.
Haruka yang mendengar perkataan dari diri Pangeran Kichiro segera ia terkejut akan hal itu, dengan Haruka pun menjawab pertanyaan Pangeran Kichiro dengan perasaan yang sedikit gugup.
"Tidak, anak kecil bagiku hanya merepotkan saja." Jawab Haruka dengan nada bicara tegas, sambil bola Mata birunya melirik ke arah Pangeran Kichiro yang saat itu tengah berada dibelakangnya.
Haruka kemudian kembali terdiam, pandangannya begitu amat serius ketika menatap jalanan, tujuannya kali ini untuk melenyapkan Xiao Chen, entah seberapa sulit ia dapat mengalahkan Xiao Chen. Namun, tekadnya sudah bulat untuk melenyapkan Pria itu.
"Karena kau begitu sangat mencintai diriku, maka aku akan memberikan sebuah hadiah kepada dirimu, Xiao Chen tunggu kedatanganku ya." Dalam benak Haruka dengan perasaan penuh keyakinan.
Langit biru semakin cerah, sinar dari mentari begitu amat terik menerpa tubuh mereka. Kuda putih yang tengah mereka tunggangi berlari dengan amat cepat, keempat kakinya itu bagaikan sebuah roda yang tidak akan pernah berhenti berputar.
Ketika Haruka tengah sangat pokus dengan perjalanannya itu, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan langit yang semula begitu amat cerah berganti menjadi gelap dipenuhi kabut hitam, sontak saja hal itu membuat diri Haruka dan Pangeran Kichiro merasa amat terbelalak.
"Apa yang telah terjadi?!" Ucap, Haruka dengan terus memperhatikan sekitar.
Bahkan Kuda yang ia tunggangi itu pun nampak begitu ketakutan, dan memberontak dengan mengangkat tubuhnya ke atas.
"Kikk?!"
Haruka yang melihat reaksi takut dan cemas dari Kuda putih itu segera ia menunjukkan sikap yang begitu amat waspada.
"Tenanglah... Tenanglah.... " Ucap, Haruka terhadap Kuda putih itu, sambil dengan perlahan lengan kanannya ia lekatkan diatas punggung Kuda putih itu.
Pangeran Kichiro yang terlihat begitu amat curiga dengan keadaan yang berubah drastis, segera ia meloncat untuk dapat turun dari atas tubuh Kuda putih itu. Sedangkan Haruka masih berada diatas tubuh Kuda putih itu, sambil terus mengelus tubuh Kuda putih itu dengan lembut. Tak lama kemudian Kuda putih milik Tuan Aximing segera terdiam, dan Kuda putih itu juga menurunkan kedua kaki depannya yang semula terangkat, Pangeran Kichiro yang melihat Kuda putih itu dapat Haruka kendalikan dengan mudah, membuat diri Pangeran Kichiro mengingat kejadian pada saat saimbara yang diadakan Istananya dahulu.
"Hmm?!" Dalam benak Pangeran Kichiro dengan perasaan terkejut ketika melihat diri Haruka.
Haruka kemudian segera berbicara kepada diri Pangeran yang tengah berada disampingnya itu dengan tegas, raut Wajahnya pun nampak begitu sangat dingin ketika menatap langit yang tiba-tiba saja menggelap itu.
"Berhati-hatilah, aku rasa ada seseorang yang mencoba untuk berkenalan dengan kita." Ucap, Haruka dengan nada bicara yang terdengar begitu amat tegas.
"Hmh!" Ucap, Pangeran Kichiro yang sedari awal sudah sangat siap dengan apa yang nantinya akan dihadapi oleh dirinya itu.
Tak butuh waktu lama dengan segera dari arah depan Haruka mendengar suara gemuruh entah itu air, atau angin yang sepertinya akan segera menerpa diri mereka. Haruka dan Pangeran Kichiro terus menatap ke arah depan dengan sepasang bola Mata biru dari keduanya, Haruka kemudian segera mengangkat salah satu alis kirinya, hingga tak lama kemudian terlihatlah sesuatu dari arah depan yang terlihat begitu sangat gelap tengah mendekat ke arah mereka.
"Apa itu?!" Ucap, Haruka dengan perasaan terkejut ketika melihat sesuatu dengan warna hitam itu tengah mendekat ke arah mereka.
Bentuknya jika dilihat dari kejauhan, nampak seperti kabut hitam yang akan menyerang mereka. Namun, ketika sudah semakin dekat barulah nampak jelas apa yang akan mereka hadapi.
"Segerombol Burung gaib, datang menyambut rupanya." Ucap, Pangeran Kichiro dengan segera ia mengeluarkan Pedangnya.
Haruka yang masih berada diatas tubuh seekor Kuda putih, segera ia meloncat ke bawah untuk dapat memijak kan kakinya diatas jalanan berpasir.