Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
07


Istana Lin.


"Leo kau boleh pergi." Ucap Hanna.


Harimau itu pergi meninggalkan, Hanna berjalan masuk ke Istana.


Pelayan menatap Hanna.


"Putri anda sudah kembali." Ucap Yuan menyambut.


"Apa selama aku pergi ada orang yang datang ke istana?." Ucap Hanna.


"Itu permaisuri dan Putri pertama dengan Putri kedua, mereka menanyakan Putri beberapa hari ini, saya hanya menjawab bahwa putri sedang sakit flu dan tidak ingin di temui oleh siapapun, karna di khawatirkan akan menulari siapapun, bodohnya mereka percaya." Ucap Yuan.


"Tentu saja mereka percaya, karna dengan begitu menurut mereka aku tidak akan hadir dalam saimbara." Ucap Hanna yang terduduk dikursi.


"Saya sudah menyiapkan baju yang esok akan dikenakan Putri." Ucap Yuan.


"Yuan mulai dari sekarang dan seterusnya tetaplah jadi Yuan yang seperti ini." Ucap Hanna.


Pagi hari di Istana Lin.


Putri berkumpul untuk pemberkatan dari Sang Kaisar


"Putriku hari ini semoga keberuntungan dipihak kalian, ayah selalu menyertai kalian." Ucap Kaisar.


"Terimakasih atas doa restu dari ayah." Ucap Amuya.


"Hanna kau sudah sembuh? Kata pelayanmu beberapa hari kemarin kau sakit lagi?" Ucap Permaisuri.


"Benar, Hanna fisikmu sangatlah lemah." Ucap Zofan Lin.


"Kaka takut kamu tidak sanggup mengikuti saimbara ini, dan kamu akan jatuh sakit lagi." Ucap Amuya.


"Ibu dan kakak-kakak ku tersayang, adik baik-baik saja tidak ada yang perlu dirisaukan." Ucap Hanna.


"Kalau benar begitu kalian boleh pergi Putri-putriku." Ucap Kaisar.


Dengan serentak. "Kami undur diri ayah." Memberi salam dan meninggalkan.


Istana Yu.


Putri menuruni tandu dan masuk ke dalam Istana mereka disambut dengan hangat.


"Silahkan masuk Putri." Sambut salah seorang Pelayan.


Seseorang Putri dari Kerajaan Aoman berbisik pada salah satu Putri. "Aku sangat penasaran dengan wajah Pangeran kedua, katanya selain tampan dia juga memiliki seni bela diri tingkat tinggi, kekuatannyapun sangat luar biasa.


"Aku dengar juga begitu." Sahut Puteri lain.


Hanna tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


Dalam batin Hanna. "Jadi begitu." Dia berdiri di belakang mereka.


Tes Pertama \= "Tes IQ"


Setiap Putri di berikan beberapa pertanyaan oleh Permaisuri dan mereka harus menjawab dengan cepat, dan tepat Putri yang berhasil akan masuk tes kedua.


Tes berlangsung Permaisuri meloloskan Putri yang berhasil beberapa tes sudah diberikan tersisa empat Putri.


"Apa lagi kali ini?" Ucap Hanna.


"Aku sangat gugup, apakah kau tidak?" Ucap Puteri Nora dari kerajaan Guin yang bertanya pada Hanna.


"Tidak ini kan hanya tes biasa, apa yang perlu ditakutkan." Ucap Hanna.


"Iya." Jawab Hanna dingin.


"Ini adalah saimbara pencarian istri untuk Pangeran, dan kau bilang ini tes biasa? Aku sebenarnya tidak berniat mengikuti saimbara ini tapi karna sudah jadi ketentuan setiap Putri aku harus mengikutinya." Ucap Puteri Nora.


"Tidak perlu gugup kalau terpilih kau bisa jadi seorang Permaisuri atau Selir dari Pangeran." Ucap Hanna.


"Aku tidak ingin terpilih, jadi aku mohon semoga kau yang berhasil memenangkan saimbara ini." Ucap Puteri Nora.


"Hey, meskipun aku menang, kau tetap akan menjadi Selir." Ucap Hanna.


"Aku mohon bantu aku, aku tidak mau menjadi Permaisuri atau Selir aku mohon." Ucap Puteri Nora.


"Baiklah." Ucap Hanna.


Kali ini tes penentuan hanya ada satu Putri yang akan dijadikan Pemaisuri dan Putri yang kalah akan dijadikan Selir.


Tes dari sang Pangeran sendiri, memanah sambil berkuda tapi dengan mata tertutup kami sudah menyediakan alat, kuda dan pakaian untuk putri kenakan.


"Wow cukup menantang." Ucap Hanna yang merasa tertantang.


Di tempat berkuda.


Aturan main hanya diberi satu kesempatan dan Putri yang sanggup menembakkan panahnya tepat mengenai sasaran ia dinyatakan lolos.


Tes dimulai.


"Cuma begini aku pasti bisa, saya main duluan." Ucap Putri Zofan.


Disaksikan oleh seluruh Putri yang gagal, dan Keluarga kerajaan.


"Pangeran saya akan menjadi istrimu." Menatap pengeran Kichiro Yu. Segera dia menaiki Kuda dan mengelilingi arena. Satu tembakan dilepaskan namun gagal karna tidak mengenai sasaran. "Ah sial!" ucap Zofan kesal.


"Heh dasar bodoh kau terlalu percaya diri, biar aku mencobanya." Ucap Amuya.


Amuyapun gagal pula ia sengat geram, dengan dirinya sendiri.


"Heh kaka sekarang kau juga bodoh." Ucap Zofan.


"Aku akan mencobanya, aku tidak akan bermain serius semoga kau berhasil." Ucap Puteri Nora yang menatap Hanna.


"Gadis ini ingin sekali aku menang." Dalam benaknya.


Karna Putri Nora bermain tidak serius dia akhirnya gagal.


Puteru Nora segera menghampiri Hanna. "Sekarang giliranmu."


Kaisar yang tengah duduk singgah sananya. "Ini memang cukup sulit, Pangeran Kichiro sengaja melakukan ini agar tidak ada Putri yang berhasil." Sambil menatap Kichiro.


"Adiku sepertinya kau sengaja memberikan tantangan ini pada putri agar mereka gagal." Ucap pangeran Rendra dia menatap Kichiro yang duduk disampingnya.


"Memang." Ucap Kichiro dengan tersenyum memandang kakanya.


"Tapi kita belum melihat putri yang terakhir ini." Ucap Pangeran Rendra.


Hanna menatap Pangeran Kichiro dengan tatapan dingin.


Pangeran Kichiro terkejut melihat raut wajah Hanna. "Menatapku dengan tatapan seperti itu? Apa maksudnya?" ucap Pangeran dengan bingung.


Hanna mengelus Kuda, kemudian dia menaikinya sambil menutup mata dengan kain, dan memegang alat memanah.


"Hak." Segera dia menarik tali kuda dan mengelilingi arena pertadingan. Sambil mengambil tiga anak panah dalam wadah yang ia bawa dibelakang punggungnya bersiap-siap dan Hanna melesatkan tembakannya.


Semua orang dibuat terkejut karna ketiga anak panah itu mengenai sasaran dengan pas.