
Haruka bahkan dapat melumpuhkan mereka sebelum mereka menyerang dirinya.
"Mata yang sangat bagus, aku yakin dengan begini teman-temanku pasti dapat diselamatkan." Ucap, Haruka sambil tersenyum puas.
Beberapa serangan yang diberikan oleh kedua bayangannya itu dengan mudah dapat ia halau.
"Aku ingin tau apa kekuatan dari bulu phoenix ini." Ucap, Haruka yang segera menatap ke arah bulu Phoenix miliknya.
Saat Haruka menggerakkan tangannya, tak lama keluar percikan api dari dalam tangannya. Haruka dibuat terkejut dengan hal itu, tetapi sepertinya kekuatan itu harus ia asah terus menerus karena semuanya nampak belum sempurna. Jika ia ingin menyelamatkan teman-temannya maka ia harus melepaskan cinta sejatinya. Itulah pantangan dari semua kekuatan yang ia pelajari, saat dihadapan dengan situasi yang sangat rumit ia harus memilih salah satunya. Dan melepaskan hal yang tidak terlalu bermakna dalam dirinya.
"Aku hanya ingin menyelamatkan teman-temanku, hm itu nampak naif sekali. Tentu saja aku ingin merasakan kebahagian yang tidak pernah aku dapatkan selama ini. Haha, jika ini adalah pantangannya aku akan menerimanya, lagipula aku memanglah tida memiliki cinta sejati." Ucap, Haruka dengan segera mengepalkan tangan kanannya sambil terpejam sesaat kemudian terjaga kembali.
Xiao Chen yang melihat Haruka dari balik jendela nampak memperlihatkan wajah sendunya, entah mengapa setiap kali menatap Haruka saat merasa ia mampu, hati Xiao Chen terasa amat sakit. Semuanya nampak tidaklah adil untuknya, mengapa harus dia yang menanggung semua penderitaan ini. Jika saja Haruka memilihnya pastilah nasibnya tidak akan menjadi seperti ini, dia telah salah mencintai seseorang yang tidak akan mungkin ia dapat menggapainya.
Haruka yang berada di taman belakang, tidak sengaja melihat ke atas, ia begitu heran saat melihat Xiao Chen yang tengah memperhatikannya dari balik kaca jendela. Xiao Chen yang terkejut segera memalingkan wajahnya dan bergegas menghindar.
Haruka hanya terdiam ia nampak tidak begitu perduli dengan apa yang dilakukan oleh pria itu. Ia tetap fokus terhadap pelatihannya, sampai tak terasa hari sudah mulai gelap. Ia belum juga selesa berlatih. Xiao Chen yang khawatir segera menghampiri Haruka dengan segera ia berjalan menuju taman belakang.
Dilihatnya Haruka tengah berlatih dengan sangat keras, Xiao Chen kemudian berjalan untuk menghampiri Haruka yang tengah berlatih denga pedang pusakanya itu.
"Hah... Kau benar Chen, aku juga sudah merasa lelah sekali, baiklah aku akan menyudahi latihan hari ini." Ucap, Haruka sambil memutarkan pedang pusakanya, kemudian dia segera membalikkan tubuh untuk berjalan terlebih dahulu.
Xiao Chen yang melihat hal itu nampak tersenyum tipis, kemudian dia segera mengikuti Haruka.
"Aku sudah menyiapkan makan malam untuk dirimu." Ucap, Xiao Chen yang berada disamping Haruka.
Haruka yang tengah mengamati pedang pusakanya dengan segera menatap wajah Xiao Chen.
"Benarkah? Kau pandai memasak rupanya?" ucap, Haruka yang memperlihatkan tampang mengejek terhadap Xiao Chen.
"Tentu saja." Ucap, Xiao Chen denga tegas.
"Aku pikir di dunia atas pekerjaanmu hanya makan tidur, makan tidur saja." Ucap, Haruka dengan tersenyum tipis kepada Xiao Chen.
Saat melihat ekspresi dari Haruka yang nampak begitu senang, meskipun ia tau banyak beban yang ia pikul dipundaknya itu. Membuat Xiao Chen jadi mengerti di bawah cakrawala ini semuanya dapat terjadi da ternyata kehidupan di buk sungguh sangat serumit itu.