Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
Siapakah dia?


Di dalam Goa Elang Emas, terlihat Kaisar Yu tengah melayani Ratu Elang dan juga Suaminya, Kaisar Yu merasa sangat muak dengan hal itu, Ratu Elang Emas yang melihat diri Kaisar Yu tampak sangat kotor dan menjijikkan bagi dirinya, dengan segera ia berbicara kepada diri Kaisar dengan nada bicara dingin dan sinis terhadap dirinya.


"Hei, kau! Tubuhmu itu sangat menjijikkan sekali, dan kau juga begitu sangat bau, aku sungguh muak melihatmu disini! Jangan kembali sebelum kau membersihkan tubuhmu itu!" Ucap, Ratu Elang Emas dengan tatapan tajam.


Kaisar Yu, hanya terdiam ketika mendengar perkataan itu dapat dilontarkan oleh Ratu Elang Emas, tutur katanya membuat dirinya merasa sangat sakit hati, Kaisar Yu yang sudah merasa sangat muak berencana untuk melarikan diri dari tempat itu.


"Cih! Sungguh beraninya kau menghina diriku! Kau hanyalah Siluman rendahan yang ingin tidak bisa dibandingkan dengan diriku! Awas saja kau, aku akan mengambil terlurmu dan memakannya, aku yakin dengan memakan telur Elang tubuhku akan menjadi sangat kuat, setelah itu aku akan membunuh kalian semua, dan pergi dari tempat tekutuk ini!" Dalam benak Kaisar Yu, sambil tersenyum licik ketika menatap telur Emas milik Ratu Elang.


"Baik Ratu, saya mohon undur diri." Ucap, Kaisar Yu, kemudian dia segera membalikkan tubuhnya untuk dapat keluar dari dalam Goa itu.


Ratu Elang Emas bersama dengan Suaminya hanya terdiam ketika melihat Kaisar Yu yang pergi meninggalkan mereka, tak lama kemudian Raja Elang Emas melirik Permaisurinya yang saat itu tengah memakan buah-buahan.


"Istriku, apakah kau benar-benar yakin dengan Pria tua bangka itu?" ucap, Raja Elang Emas dengan perasaan curiga.


Ratu Elang Emas yang mendengar ucapan dari Suaminya, segera ia melirik ke arah Raja Elang Emas dengan raut Wajah dingin Ratu Elang Emas segera menjawab pertanyaan dari Suaminya.


"Hmh! Kau tenang saja, tua bangka itu tidak akan pernah berani berbuat aneh-aneh ditempat ini, biarkan dia mengabdi kepadaku, sebenarnya aku tidak benar-benar menginginkan dirinya, dia hanyalah Pria tua bangka yang sudah tidak berguna, tetapi karena sebentar lagi Pangeran Elang Emas akan lahir ke dunia ini, aku masih membutuhkan darahnya, untuk dijadikan santapan Putraku." Ucap, Ratu Elang Emas yang segera menatap ke arah telur besar disamping dirinya, kemudian dia kembali menatap Suaminya dengan tatapan licik.


Raja Elang Emas yang mendengar ucapan dari Istrinya dengan segera ia membalas senyuman licik yang tengah diberikan oleh Istrinya kepada dirinya itu. Dari balik dinding Goa terlihat diri Kaisar Yu tengah berdiri, sambil memperlihatkan sikap kesal dan bencinya terhadap kedua Siluman itu.


"Sebelum kalian melakukan itu, aku yang akan terlebih dahulu memakan anakmu! Dasar Siluman sialan!" Dalam benak Kaisar Yu, telapak tangannya kemudian segera ia kepalkan dengan sangat erat.


Ketika hari sudah semakin gelap, Kaisar Yu yang masih berada diluar Goa, terlihat tengah menatap langit malam yang begitu gelap, hanya ada sinar rembulan yang menyinarinya. Kaisar Yu terlihat begitu sangat tidak sabar untuk dapat mengambil telur milik Ratu Elang Emas. Terlihat dirinya tengah merasa cemas, tetapi. Karena dirinya sudah tidak sanggup lagi terus menjadi seorang budak dari Siluman yang begitu sangat rendah, membuatnya menghalalkan segala cara untuk dapat menjadi kuat.


Kaisar Yu, yang tengah menatap langit malam dengan segera ia tersenyum licik, sepertinya dirinya telah menemukan suatu cara untuk dapat mengakali Ratu dan Raja Elang Emas itu. Kaisar Yu kemudian segera meninggalkan Goa dekat gunung, ia berjalan dengan perlahan untuk dapat pergi ke suatu tempat. Sepertinya dia begitu sangat yakin dengan apa yang akan ia lakukan.


Entah kemana ia akan pergi namun, Kaisar Yu begitu sangat yakin dengan tujuannya kali ini, setelah ia berjalan untuk dapat melewati jalan bebatuan, akhirnya dia dapat keluar dari tempat menjijikkan itu, terlihat Kaisar Yu tengah berjalan untuk dapat kembali ke pedesaan, setelah berjalan cukup lama akhirnya dia dapat kembali ke Istananya yang sudah runtuh itu, Kaisar Yu memperhatikan sekitar ia begitu sangat takut jika nantinya ada penduduk desa yang melihat dirinya ditempat itu. Jujur saja ia sangat malu dengan kondisinya yang sudah seperti itu, setelah dirasa kondisi ditempat itu aman.


Kaisar Yu segera bergegas untuk dapat berjalan mendekati Istananya, sebelum Kaisar Yu masuk ke dalam Istananya yang sudah hancur, dirinya terus memastikan bahwa tidak ada satu orangpun yang melihat keberadaannya ditempat itu. Di rasa sudah aman Kaisar Yu dengan segera masuk ke dalam Istananya dia melihat reruntuhan tembok Istananya yang begitu sangat besar, timbul rasa kesal dalam dirinya terhadap Raja Age dan juga Putrinya Yuri. Kaisar Yu yang tengah melihat sekeliling merasa begitu sangat murka.


"Age! Yuri! Kalian semua tidak akan pernah aku maafkan seumur hidupku!" Ucap, Kaisar Yu yang tengah mengepalkan kedua telapak tangannya.


Pangeran Rendra yang masih berjalan tak tau arah, kemudian dia teringat akan suatu hal.


"Kichiro, benar aku harus bertemu dengannya, tetapi... Kemana dia pergi?" pangeran Rendra terlihat tengah memikirkan suatu hal, ketika ia tengah terlarut dalam pikirnya tak lama ia tersadar kembali kemana ia harus pergi.


"Rumah Kayu didalam Hutan, benar itu tempat dimana Kichiro selalu menghabiskan waktunya, semoga saja dia berada disana, aku mohon Dewa." Ucap, Pangeran Rendra yang segera bergegas untuk dapat menuju Rumah Kayu didalam Hutan.


Tap...


Tap...


Tap...


Terdengar suara langkah kaki, dan langkah dari kaki hewan yang tengah berjalan dengan tergesa, Norr dan juga Leo terlihat sangat tidak ingin membuang waktunya untuk dapat berjumpa dengan Haruka. Kedua Pria itu terlihat begitu sangat menghawatirkan Haruka.


"Seharusnya kau tidak mematuhi perkataannya, jika saja kau ikut dengan dirinya mungkin semua tidak akan menjadi seperti ini." Ucap, Leo yang terlihat kesal, sambil terus berjalan menyusuri Hutan.


Norr yang mendengar ucapan dari Leo yang seakan-akan dirinya bukanlah seorang teman yang baik untuk Haruka, membuatnya merasa sedikit kesal.


"Apa maksud dari ucapanmu itu, Leo?! Kau anggap aku tidak bisa melindungi Haruka dengan baik? Aku mematuhi ucapannya karena dia sebenarnya adalah Tuanku!" Ucap, Norr dengan nada bicara tegas, tatapannya begitu tajam ketika menatap Wajah Leo.


Leo yang mendengar perkataan dari Norr membuatnya tersenyum sinis, sambil terus berjalan menyusuri Hutan.


"Aku tidak pernah berkata seperti itu padamu Norr, bukankah kau sendiri yang telah mengakuinya? Aku tidak ingin berdebat dengan dirimu, saat ini sebaiknya kita mempokuskan diri kita terhadap Haruka." Ucap, Leo yang terlihat tidak ingin mengetahui alasan apapun dari Norr.


Norr yang mendengar ucapan dari Leo, terlihat sedikit kesal, tak lama kemudian langkah mereka terhenti karena mendengar suara kaki yang menapak dari atas dahan Pohon. Norr dan Leo kemudian saling menatap satu sama lain, mereka kemudian menunjukkan sikap waspada.


"Berhati-hatilah mungkin saja itu adalah Xiao Chen atau mungkin Putri Kirana." Ucap, Norr yang segera mengeluarkan kekuatannya dari dalam telapak tangannya.