Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
39


Kichiro segera melepaskan Hanna, Hanna terkejut dan membuka matanya.


"Apa sekarang kau sudah merasa tenang? ucap Kichiro.


Hanna segera mendorong tubuhnya, dan mengangkat sebuah, bantal dibelakang ia sedikit bersandar dan menaruh bantal itu dekat perutnya.


"Iya."


Batin Hanna seperti memberontak, satu sisi dia takut jika dia jatuh cinta, dan menyayangi lelaki ini, hatinya akan terluka dan Hanna akan kehilangan semuanya lagi.


Namun. Disisi lain dia tidak dapat memungkiri bahwa hati nya sangat tenang saat berada dalam pelukan pria yang sekarang ada dihadapannya.


Yang hanna fikirkan hanya, balas dendam, membunuh, dan membunuh sedari dulu, tidak pernah menyangka akan berada dalam kehidupan yang seperti ini.


Hanna terdiam cukup lama, matanya terpejam sejenak, Kichiro terus menatap Hanna dengan perasaan khawatir.


Dalam batin Kichiro. "Mungkinkah aku sudah menjatuhkan hatiku pada gadis ini? Hanna siapa kah dirimu sebenarnya? Mengapa aku selalu merasa ada sesuatu yang tersimpan dalam dirimu, rahasia apa yang sebenarnya belum aku ketahui?


"Apakah kau sudah tertidur? ucap Kichiro yang menatap Hanna kemudian dia menyentuh tangan Hanna.


Kichiro tersenyum, dia berdiri dari duduknya, dan mengangkat tubuh hanna yang sudah tertidur pulas, Kichiro meletakkan tubuh Hanna kembali ke kasur, dia mengambil bantal dan menjatuhkan kepala hanna dengan perlahan.


Kichiro segera menyelimuti tubuh istrinya.


"Apakah kau sangat lelah? Atau kau merasa takut? Apa yang sebenarnya kau rasakan sekarang? Dan mengapa kau sembunyikan jati dirimu yang sebenarnya pada semua orang? Apakah aku begitu tidak pantas untuk kau percaya? Sampai harus kau bungkam mulut mu? Dalam benaknya.


Kichiro mencium kening Istrinya dalam benaknya "Terimakasih sudah menyelamatkan hidupkum"


Pagi hari di Istana Yu.


"Dia sudah pergi rupanya, bagaimana ini jika aku berkata bahwa yang membunuh Zofan adalah aku sendiri, bukan masalah hukuman yang aku khawatir kan, tapi samaranku, mereka akan tau siapa aku yang sebenarnya, jika begitu mungkin aku akan sangat sulit untuk menyerang istana ini." Ucap Hanna.


Pelayan Putri Hanna memasuki kamar, dia berjalan dengan ragu dalam fikirnya "Mungkinkah putri masih marah padaku?


Hanna menatap pelayannya dengan sedikit berfikir. "Apakah dia sangat takut padaku??


"Ada apa? kemarilah." Ucap Hanna.


Yuan yang berdiri dekat tempat rias, menghampiri putrinya.


"Mohon ampun tuan putri, hamba bersalah, saya sudah lancang berbicara, saya pantas di hukum, namun saya mohon jangan bersedih lagi." Ucap Yuan.


Sambil membungkukkan tubuh, Yuan begitu tulus memohon untuk diampuni.


Hanna menatap dengan pandangan bersalah dalam batin. "harusnya aku yang meminta maaf padanya, dan sekarang dia mengkhawatirkanku.


"Yuan tidak perlu begitu, kau tidak salah perkataan mu memang lah benar, aku semalam hanya ingin sendiri." Ucap Hanna sambil menatap Yuan.


"Putri, saya tau bagai mana perasaan anda, anda sudah banyak menderita. Anda sudah banyak merasakan pahitnya kehidupan, anda tidak pernah bahagia sedari dulu anda selalu teraniaya. Namun sekarang anda bangkit kembali, menurut saya itu wajar-wajar saja, karna orang jahat melihat orang lemah semakin mereka berani berbuat jahat." Ucap Yuan yang segera menganggkat kepalanya.


Hanna tersenyum menatap Yuan. "Kau sangat pintar."


"Karna saya belajar dari anda putri." Ucap Yuan denngan tersenyum.


Hanna dalam batin bersuara. "Aku akan menuntut balas, mereka harus merasakan apa yang sudah mereka tanam sejak awal."