
Haruka yang tengah terluka dengan beberapa anak panah yang menancap pada tubuhnya, tidak membuatnya menyerah begitu saja. Seberat apapun lawan yang dihadapinya di harus terus yakin bahwa dia mampu untuk mengalahkan musuh yang akan jauh lebih hebat darinya.
Aroma darah segar begitu amat menusuk hidung, membuat Haruka merasa amat pusing. Panah yang menancap pada tubuhnya bukanlah panah biasa, namun panah itu telah dilumuri dengan racun.
Haruka mencoba untuk bangkit, namun ekor dari Kalajengking raksasa itu terus saja mencoba untuk melukainya. Haruka yang melihatnya segera bangkit dan menghindari serangan dari Kalajengking itu.
"Huh, jika terus begini, maka aku akan kehilangan semua tenagaku, dia dapat menyerap kekuatanku. Gerakannya pun sangat cepat bahkan aku tidak dapat melihat apa yang sebenarnya dia lakukan." Dalam benak Haruka yang terus menghindar dari serangan Kalajengking raksasa itu.
Norr yang tengah terlilit oleh rantai besi yang sangat panas, tidak mampu untuk bergerak, seluruh tenaga dan kekuatannya telah diserap ole pria misterius itu. Darah kental berwarna merah terus bercucuran dari sela-sela ratai besi itu.
Saat ini semuanya tengah bergantung pada Haruka, maka dari itu ia ters mencoba untuk bertahan.
"Menyerahlah, serahkan dirimu kepadaku!" ucap pria misterius itu yang terus menatap wajah Haruka.
Haruka kemudian memiringkan kepalanya untuk melirik pria itu dengan pandangan dingin dan kesal Haruka segera mengepalkan kedua tangannya yang berada disamping pinggang.
"Memangnya kenapa?! Apa kau merasa takut, jika aku memusnahkanmu!" ucap Haruka dengan raut wajah kesalnya.
Pria misterius itu tersenyum licik menatap wajah Haruka, kemudian dia segera tertawa begitu keras.
Haruka kemudian segera menarik nafas panjangnya, dia menggenggam begitu erat Pedang Pusakanya, tanpa pikir panjang dia segera mengeluarkan kekuatan dari benih petir. Angin berhembus semakin kencang, kedua bola mata Haruka nampak begitu mengerikan, tubunya dipenuhi oleh oleh cahaya petir.
"Jika aku yang kau inginkan, berhentilah untuk menyakiti teman-temanku!" bentak Haruka dengan pandangan benci.
Tanpa pikir panjang dia segera menyerang pria misterius itu, dengan mengarahkan pedang pusakanya tepat dihadapan pria itu. Beberapa orang tengah bersiap untuk menyerang Haruka dengan panah yang mereka genggam. Begitupun dengan Kalajengking raksasa yang siap untuk mengoyak tubuh mungil Haruka.
"Baiklah, apapun yang akan terjadi nantinya, aku tidak perduli. Saat ini yang terpenting kalahkan mereka semua, entah bagaimanapun caranya!" dalam benak Haruka yang penuh dengan keyakinan.
Sinar berwarna biru memenuhi tempat itu, pria misterius dengan mengenakan penutup kepala hanya tersenyum licik, sambil menggerakkan tangannya keatas tak lama sebuah sinar berwarna merah muncul, seperti pusaran yang terus berputar diatas langit.
Dengan segera pria misterius itu mengarahkan kekuatannya untuk menyerang Haruka. Namun dengan segera kekuatannya dihalau oleh sebuah cahaya berwarna emas, hal itu membuat semua orang tercengang. begitupun dengan Haruka.
"Siapa yang membantuku?!" ucap Haruka dengan terkejut. Tak lama kekuatan benih petir milik Haruka menghilang karena telah terserap oleh kekuatan dari pria misterius itu.
Haruka terlihat sudah sangat lemas tubunya pun dipenuhi dengan luka, darah tidak berhenti mengalir dari dalam tubuhnya. Pria misterius yang menyerang Haruka terlihat sangat kesal, dia nampak tak menyangka ada yang dengan beraninya menghalangi pertarungannya itu.
"Siapa yang dengan berani ikut campur dalam urusanku!" ucap pria itu dengan raut wajah kesal.