Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
165


"Oh jadi kekuatan turun temurun ya." Dalm benak Haruka yang tengah termenung memikirkannya.


"Haru, kekuatan itu bukanlah sebuah kekuatan yang mudah untuk ditaklukkan, kau harus tau itu." Ucap Putri Kirana yang segera menatap wajah Haruka.


Haruka yang tengah termenung kemudian segera tersadar. Dia dengan segera menjawab ucapan dari Putri Kirana.


"Hm, ya aku tau." Ucap Haruka dengan raut wajah dinginnya, dia kemudian segera melanjutkan langkahnya lagi.


Haruka memperhatikan sepanjang jalan didalam sebuah desa yang nampak gelap juga sunyi, tak lama angin berhembus dengan cepatnya. Membuat Haruka, Norr dan Kirana merasa curiga. Kedua bola mata biru Haruka mengamati setiap sudut dipedesaan yang nampak sunyi dan gelap itu. Dengan perasaan waspada Haruka melangkah dengan hati-hati.


SYATT..... Tidak lama terdengar suara anak panah yang melesat begitu cepat kearah mereka. Haruka dan Norr yang tersadar akan hal itu dengan segera menghindar dengan berjalan kearah samping, mereka nampak sangat terkejut. Namun, sayangnya salah satu dari anak panah itu mengenai tubuh bagian belakang Putri Kirana.


Aahh.... Suara rintih kesakitan dari Putri Kirana membuat Norr dan Haruka yang berhasil menghindar dibuat terkejut.


Dengan segera Haruka berjalan mendekati Putri Kirana yang tengah kesakitan. Norr, yang masih berdiri sambil memperhatikan kedua anak panah yang menancap kedalam batang pohon. Kemudian Norr segera menoleh kearah belakang, bola matanya berputar kekanan, dan kekiri. Tatapan wajahnya nampak kesal kedua bola mata merah itu menatap tajam setiap sudut tempat itu.


"Kirana, apa kau baik-baik saja?!" ucap Haruka dengan khawatir.


"Iya, aku baik-baik saja." Ucap Kirana sambil menahan sakit dari anak panah yang menancap ditubuhnya itu.


"Sial, jadi sejak tadi kita telah diawasi! Kirana, kau masih bisa bertahan kan?!" ucap Haruka yang memeluk tubuh Kirana agar tidak terjatuh.


"Mungkin, aku rasa anak panah ini sudah dilumuri dengan racun." Ucap Kirana dengan menahan sakit pada tubuh, kini wajahnya nampak pucat, keringat mengucur dengan perlahan.


"Hm, sepertinya aku tidak asing dengan pria itu, aku seperti pernah bertemu dengannya hmm, tapi dimana ya?" dalam benak Haruka, dia menatap wajah pria itu dengan sorot mata mengerikannya.


"Haruka, sepertinya pria itu adalah orang yang sama saat kita berjumpa disungai dalam hutan, bukan!?" ucap Kirana dengan menoleh kearah pria yang berada dibelakangnya itu.


Haruka terkejut mendengar ucapan dari Kirana, dia baru tersadar pria itu memanglah sangat mirip dengan sosok yang dia temui disungai dalam hutan.


"Kau benar." Ucap Haruka dengan perasaan marah.


"Bawa Kirana pergi dari sini, biar aku yang hadapi mereka." Ucap Norr dengan raut wajah seriusnya.


"Tidak bisa, kita sudah terkepung, mau tidak mau aku juga harus menghadapi mereka. Oh ya Kirana, apa kau masih bisa untuk bertahan sebentar saja, aku berjanji ini tidak akan lama." Ucap Haruka sambil menatap wajah Kirana.


Putri Kirana Hanya menganggukkan kepalanya, Haruka yang melihatnya kemudian segera melepaskan genggamannya dan berdiri sambil menatap beberapa kelompok orang yang tengah mengepung mereka.


"Hati-hati Norr." Ucap Haruka yang segera membalikkan tubuh dan menatap kearah beberapa orang yang tengah berdiri menatapnya dengan tajam.


"Hm. Mereka tidak akan membunuhku, karena yang mereka cari adalah dirimu." Ucap Norr yang sedikit menoleh kearah belakang.


"Hm. Pintar juga kau Norr, aku rasa tebakanmu kali ini benar." Ucap Haruka yang terus menatap orang-orang yang tengah mengepung dirinya.