Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
158


Malam hari didalam hutan.


Nampak Haruka tengah bersiap-siap untuk keluar dari hutan, bukan hanya dirinya melainkan juga Norr dan Kirana.


"Haruka apa kau yakin? Bisa saja keluarga kerajaan mengenali kita, bukankah hutan ini tidak terlalu jauh dari Istana Yu?" ucap Norr dengan raut wajah sedikit resah.


Haruka yang tengah merapikan pakaian segera menoleh kearah belakang, dia melirik Norr yang tengah duduk diatas kursi panjang.


"Ya, aku tau, tetapi dengan penampilanku saat ini, aku sangatlah yakin siapapun tidak akan ada yang mengenali diriku." Ucap Haruka dengan pandangan penuh keyakinan.


Kirana yang berada disamping Norr nampak gugup, kemudian dia segera berbicara pada Haruka.


"Hm, tetapi aku sangatlah takut jika ada yang mengenali diriku." Ucap Kirana dengan perasaan bimbang.


Haruka kemudian melirik wajah Kirana yang nampak tidak mempercayai dirinya.


"Aku kan sudah memberitahu kepadamu, untuk memakai topeng yang sudah aku buatkan untuk kau kenakan Kirana." Ucap Haruka yang kemudian segera memalingkan pandangannya lagi.


Kirana kemudian menatap topeng yang terbuat dari kayu, Haruka dengan khusus telah membuatnya sendiri untuk ia kenakan, karena mereka berada didalam hutan, Haruka merasa beruntung dia dapat memanfaatkan batang pohon yang ada.


Tiga jam yang lalu didalam hutan, sebelum mereka akan bersiap untuk pergi menuju desa.


Tak lama suasana menjadi sangat sunyi dan nampak canggung, Haruka kemudian melirik kearah Kirana. Lalu dengan segera ia keluar dari dalam Gubuk. Kirana, Norr dan Leo nampak terkejut.


Kemudian mereka segera mengikuti Haruka, Kirana menatap Haruka yang tengah berada dihadapan salah satu pohon yang tidak terlalu tinggi, dan memiliki daun yang cukup lebat. Tak lama Haruka segera mengangkat tangan kanannya keatas, kini sebuah pedang telah berada digenggaman Haruka.


Kemudian dengan perlahan Haruka segera memangkas batang pohon itu, dengan perlahan pohon itu segera tumbang dan terjatuh kearah sampingnya. Haruka dengan cepat menghampiri pohon yang telah ia pangkas, kemudian dia segera membelahnya menjadi dua bagian, hingga kini nampak kulit dalam dari batang pohon itu.


Kirana, Norr dan Leo nampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Haruka, mereka baru pertama kali ini melihat tingkah seorang wanita yang tidak menunjukkan dia sebagai wanita.


"Biar aku tunjukkan kepada kalian, pedang ini kegunaannya bukan hanya untuk bertarung saja, tetapi dia bisa dijadikan salah satu alat untuk bekerja." Ucap Haruka yang melirik kearah ketiga temannya.


"Huh, baiklah jadilah pedang yang memiliki segala macam kegunaan oke, jika aku pikir-pikir mengapa tidak sedari dulu saja menggunakan pedang pusaka untuk bekerja, aku pastilah akan mendapatkan keuntungan yang amat besar." Dalam benak Haruka dengan perasaan senangnya.


Meskipun Haruka nampak dingin dan cuek tapi uang baginya juga sangat berarti, maka dari itu dia didunia modern menjadi seorang pembunuh bayaran kelas dunia, hanya saja sungguh sangat disayangkan dia harus mengakhiri kehidupannya di dunia modern, dan saat ini malah masuk dikehidupan masa lalu dan terlilit dengan masalah yang sangat rumit.


"Hah, tapi tak apa lah, siapa sangka aku pernah hidup didunia ini sebelumnya, yang lebih membuatku merasa senang karena Dewa tidak mengambil nyawaku, tetapi sekarang malah menjadi incaran para musuh, dahulu aku yang mengincar sekarang malah aku yang diincar." Dalam benak Haruka denga perasaan sedikit bersyukur.


Tak lama raut wajah Haruka nampak serius, kemudian Kirana segera mendekat kearah Haruka, dia melihat kemahiran tangan Haruka yang tengah membuat sesuatu. Setelah beberapa lama akhirnya Haruka dapat membuat satu buah topeng yang amat bagus, kemudian dia segera memberikannya pada Kirana.


Warna hijau ia dapatkan dari daun yang menjadi pewarna alami, sedangkan warna biru dia mendapatkannya dari bunga butterfly pea.


Kirana menatap kearah topeng wajah itu, kemudian dia segera menerimanya.


 


°^°^°^°^°^°^°^°^°^°^°^


 


Didalam Istana Yu, Putri Yuri yang nampak jenuh berada didalam ruangan Kaisar Yu kemudian segera berbicara kepada Kaisar Yu.


"Hm, Kaisar sepertinya saya nampak lancang jika masih berada disini, dan mendengarkan pembicaraan kalian, bolehkah saya menemui Pangeran Kichiro, hmm tadi saat diperjalanan saya melihat ada sebuah pertunjukkan seni didalam desa, jika anda berkenan saya sangatlah ingin mengajak Pangeran Kichiro untuk melihatnya." Ucap Putri Yuri dengan raut wajah lugunya.


Kaisar Yu yang berada ditempat duduknya kemudian segera menatap wajah Putri Yuri, tanpa pikir panjang Kaisar Yu dengan senang hati mempersilahkan Putri Yuri untuk melihat pentas seni itu.


"Tentu saja, kau boleh pergi bersama Kichiro, dia pasti sangatlah senang karena kau yang memintanya sendiri, dia berada didalam ruang kerjanya." Ucap Kaisar Yu dengan raut wajah sumringah.


Putri Yuri yang mendengar hal itu nampak sangatlah senang, kemudian dia segera bangun dari duduknya, dan memberikan Hormat kepada Ayah dan Kaisar Yu.


"Kalau begitu saya mohon pamit, selamat malam." Ucap Putri Yuri sambil memberikan hormatnya.


Kaisar Yu dan Raja Age hanya tersenyum menatap kearah Yuri, kemudian Putri Yuri segera memalingkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan Kaisar Yu dan sangatlah ingin menemui Pangeran Kichiro.


"Hmm." Dalam benak Putri Yuri, dengan cepat raut wajah dingin, dan licik terlihat dari senyum tipisnya.


Putri Yuri segera keluar dari dalam ruangan Kaisar, kemudian dia melirikkan bola matanya kearah kiri dan kanan, memandangi setiap sudut Istana itu.


"Sebentar lagi aku akan menjadi Istri dari Pangeran, jika tidak bisa mendapatkan Rendra aku masih bisa mendapatkan Kichiro." Dalam benak Putri Yuri dengan licik.


Kichiro yang tengah berada didalam kamar Hanna, segera bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan dan segera keluar dari dalam kamar itu.


Pangeran Kichiro berjalan menuju kearah ruang kerjanya lagi, Putri Yuri yang tengah termenung itu kemudian melihat Pangeran Kichiro yang baru saja kelur dari dalam ruangan. Dengan segera ia merapikan pakaiannya dan bersikap anggun sebagaimana mestinya seorang Putri kerjaan.


"Hmm, itu dia Pangeran aku harus menarik perhatiannya." Dalam benak Putri Yuri, yang segera berjalan untuk menemui Pangeran Kichiro.