Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
241


Pangeran Rendra yang masih dihadapkan dengan Wanita Siluman ular terlihat ia tengah melawan Siluman itu dengan sangat keras, tersadar bahwa kekuatan yang dimiliki sang Wanita Siluman itu terlihat tidak lah seberapa membuatnya merasa sangat yakin bahwa ia yang akan memenangkan pertarungannya kali ini.


Pangeran Rendra terus mengamati Siluman Wanita ular yang tengah mengelurkan kekuatan dengan cahaya merah kehitaman yang begitu sangat kental tengah berada didalam genggamannya itu, Pangeran Rendra terlihat tidak ingin kalah, ia menguji kebolehannya juga dalam pertarungan. Pangeran Rerndra segera menatap ke arah langit-langit goa, tak lama kemudian ia segera mengangkat lengan kanannya dibawah langit-langit goa, dengan seketika lengan kanannya itu dikelilingi oleh sinar hijau yang menyelimuti lengan kanannya, hingga nampaklah sebuah ujung runcing dari sebuah Pedang yang terlihat sangat tajam, Pangeran Rendra yang terlihat sudah sangat siap untuk menyerang itu sungguh tidak lagi membuang kesempatan yang sudah Dewa berikan kepada dirinya.


Dengan cepat ia segera menarik dan mengarahkan ujung Pedangnya itu tepat dihadapan sang Siluman Wanita Ular itu, Siluman Ular itu menatap tajam diri Pangeran Rendra, dengan perlahan si Siluman Ular menggerakkan lengan kirinya, saat hal itu terjadi dengan segera Siluman Wanita Ular itu, melayang dengan sangat cepat ke arah Pangeran Rendra, begitupun juga dengan Pangeran Rendra langkahnya dengan cepat mengarah ke arah si Siluman Wanita dengan tubuh setengah Ular itu.


Saat kekuatan milik sang Siluman ia arahkan kepada diri Pangeran Rendra dengan cepat ia menghindari serangan yang Siluman Wanita Ular itu berikan, kemudian dengan lihainya Pangeran Rendra segera memutarkan Pedangnya dan dengan cepat ia menusukkan ujung Pedangnya itu tepat pada perut si Siluman dengan sangat nafsu, bahkan Pangeran Rendra terus mendorong Pedangnya untuk dapat masuk kedalam perut sang Siluman agar dapat merobek perutnya.


Sang Siluman Ular yang melihat hal itu sungguh dibuat sangat kesal, dan juga tubuhnya terasa begitu sangat sakit, ia tidak lah tau kekuatan semacam apa yang dimiliki oleh Pangeran Rendra. Namun, tubuhnya begitu terasa sangat sakit dan menderita saat Pedang yang sangat tajam, dan memiliki ujung runcing itu megoyak perutnya dengan sangat kasar itu.


Hal itu tentu saja membuat sang Siluman Ular merasa sangat kesal, dan seakan ia tidak memiliki harga diri didalam wilayahnya itu, ia tidak lah tau siapakah sebenarnya Pangeran Rendra, namun Siluman rendahan seperti dirinya memang bukanlah tandingan seorang Pangeran seperti Pangeran Rendra.


Pangeran Rendra yang melihat tubuh Siluman Ular itu tidak berkutik sama sekali, membuat dirinya mengeringai, namun apa yang terjadi saat setelah darah dari dalam tubuh si Siluman Ular itu mengaliri Pedang milik Pangeran dan dengan derasnya menetes dan membasahi dasar goa? Pangeran Rendra sungguh dibuat terbelalak, saat ia mendapati sepasang kakinya yang terikat oleh darah hitam milik sang Siluman Ular yang membungkus sepasang kaki Pangeran Rendra dengan sangat kuat.


Pangeran Rendra yang saat itu tengah memperhatikan pandangannya ke arah sepasang kakinya itu tidak memperhatikan diri sang Siluman Ular, saat ia dengan segera mengangkat wajahnya sungguh hal tidak terduga terjadi begitu saja, bahkan sebelum Pangeran melihatnya dengan jelas terlebih dahulu.


Sebuah sinar hitam dengan segera membungkus tubuh Pangeran Rendra sehingga membuat tubuhnya tidak dapat ia gerakkan, bahkan Pedang miliknya pun dapat terlepas dari dalam perut sang Siluman, hal itu seakan membuat diri Pangeran Rendra tidak mempercayainya.


Terlihat kini tubuh Pangeran Rendra tengah terbungkus oleh sesuatu benda dengan warna hitam pekat, disertakan dengan aroma yang tercium sangat wangi, namun hal itu semakin membuat diri Pangeran Rendra merasa tidak nyaman, wewangian yang ia hirup dari dalam benda yang membungkus tubuhnya itu membuat pandangannya menjadi sangat kabur, kelapanya pun terasa amat sakit, ia tidak lah tau apa yanb telah terjadi. Namun, ia merasa kantuk yang sangat luar biasa, bahkan hal itu tidak dapat ia bendung lagi, hingga pada akhirnya pandangan Pangeran Rendra mulai tidak terjaga, dan dengan perlahan ia sudah tidak dapat lagi menatap wajah sang Siluman yang saat itu tengah berada dihadapannya, Pangeran Rendra hanya berharap semoga saja tidak terjadi sesuatu hal yang tidak ia inginkan saat ia berada pada kondisi tidak sadarkan diri.




Sedangkan diluar Rumah kayu terlihat Putri Kirana tengah termenung sambil terus menatap ke arah langit yang sudah hampir gelap, menyisakan separuh dari tubuh sang Mentari. Namun, Haruka belum juga kembali, saat ia ingin pergi meninggalkan Rumah kayu untuk dapat mencari dimana keberadaan Haruka, ia dikejutkan dengan kehadiran Leo yang datang dengan sangat tiba\-tiba dari dalam Ruma kayu, sambil berbicara pada diri Putri Kirana yang saat itu tengah termenung dalam sepinya.




Putri Kirana yang mendengar perkataan Leo yang begitu menusuk hatinya, karena memang lah Leo selalu saja berkata kasar, bahkan ia merasa tidak pernah sekalipun Siluman Harimau putih itu memiliki tutur kata yang lembut saat berhadapan dengan dirinya. Segeralah ia menjawab perkataan dari Leo sambil memiringkan kepalanya ke arah samping kanan, dan sepasang matanya itu segera menatap tajam wajah dari Leo yang saat itu tengah berada dibelakangnya.



"Tapi apakah kau juga tau terkadang penghianatan itu terjadi saat salah seorang yang tidak pernah bisa untuk dapat mempercayai diri seseorang! Aku masih memiliki logika, bahkan aku masih memiliki perasaan! Apa kau pikir sebuah pertemanan dapat ditukar begitu saja dengan sebuah kekuasaan?!" Ucap, Putri Kirana yang sedikit terpancing emosi dengan perkataan yang sudah Leo lontarkan terhadap dirinya.



Leo yang mendengar perkataan dari Putri Kirana saat ia dapat menjawab ucapannya dengan sangat lantang, membuat sang Siluman Harimau putih itu merasa semakin tertantang untuk dapat beradu argumen dengan Wanita yang memiliki keturunan darah Kerajaan itu.



"Hm, banyak hal mengapa seseorang tidak dapat mempercayai suatu perkataan, salah satunya karena dia tidak dapat dipercaya! Permisi." Ucap, Leo yang segera membalikkan tubuhnya lalu dia segera bergegas pergi untuk masuk kembali kedalam Rumah Kayunya itu.



Putri Kirana yang mendengar perkataan dari Leo, membuat dirinya merasa sangat sakit hati, kemudian ia segera mengepalkan kedua lengannya, dan tak lama ia pun segera pergi untuk dapat meniggalkan Rumah Kayu, dan langkahnh begitu sangat cepat saat ia berjalan untuk dapat masuk ke dalam hutan.



Sedangkan didalam hutan terlihat Haruka tengah mengambil beberapa ranting pohon yang sudah mengering, dan jatuh diatas tanah. Saat dirasa kayu\-kayu yang ia kumpulkan sudah cukup untuk dirinya dan Pangeran Kichiro, Haruka kemudian segera menatap ke arah atas dahan pohon yang terlihat disana tengah dikelikingi oleh beberapa buah\-buahan, Haruka tidaklah tau buah apa itu dari warnanya terlihat sangat menarik ia memiliki warna ungu dan memiliki aroma yang sangat sedap, hal itu membuat diri Haruka begitu sangat ingin mengambil beberapa untuk dijadikannya santapan makan malam bersama dengan Pangeran Kichiro.