Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
157


Istana Yu.


Mentari nampak terperosok dari atas langit, kini yang terlihat hanya separuh dari lekuk tubuh lingkarnya itu. Dengan dipenuhi cahaya berwarna oranye kemerahan, menandakan sudah waktunya dia untuk pamit. Dan berganti malam yang akan menemani Pangeran Kichiro dalam kesendirian. Iya, dia sedari tadi tengah duduk didalam ruang kerjanya, sambil menatap kearah jendela kaca. Untuk menyaksikan kepergian sang mentari.


Tidak butuh waktu lama dengan perlahan mentaripun terbenam, kini telah berganti malam. Sorot dari kedua bola mata hijau itu nampak sayu, seperti tengah membendung sebuah rindu, yang segera ingin menjadi temu. Tetapi entah kepada siapa ia harus mengadu, entah kemana lagi ia harus mencari, jika orang yang paling dikasihi telah pergi dengan kehendaknya sendiri.


Ruangan besar itu nampak sunyi, sesekali Pangeran Kichiro merendahkan pandangannya kebawah, lalu dia segera menoleh kearah kanan dan bangun dari duduknya, tubuhnya nampak gagah dengan balutan kain berwarna putih, sehingga menambah kewibawaannya. Kemudian Pangeran melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam ruang kerjanya. Dia membuka pintu dengan perlahan, dan segera berjalan untuk menuju kesuatu tempat.


Saat dia tengah berjalan, langkahnya terhenti hanya karena ingin melihat taman, tempat dimana dia dan Hanna bersama, saat itu juga Pangeran Rendra yang baru saja menemui Kaisar Yu yang berada didalam ruangannya, tidak sengaja melihat Pangeran Kichiro tengah termenung, seperti orang yang tengah memikirkan sesuatu hal, tanpa pikir panjang segera dia menghampiri Pangeran Kichiro. Sambil menepuk bahu adiknya itu, Pangeran Rendra segera berbicara kepada Pangeran Kichiro.


"Sedang apa kau disini?" tanya Pangeran Rendra dengan wajah penasarannya.


Pangeran Kichiro nampak sedikit terkejut, dia sungguh tidak menyangka dengan kedatangan Kakanya yang secara tiba-tiba.


"Ah, tidak ada. Hmm lalu apa yang tengah kakak lakukan disini?" jawab Kichiro seraya menoleh kearah samping.


"Aku hanya tidak sengaja melihatmu, jadi akupun mendekati dirimu." Jawab Pangeran Rendra dengan tegas yang segera menurunkan tangan kanannya.


"Oh, hari sudah mulai larut kak, sebaiknya kau segera beristirahat." Jawab Pangeran Kichiro dengan suara yang agak serak-serak basah itu.


"Hm. Bagimana pendapatmu mengenai Putri Yuri?" tanya Pangeran Rendra dengan maksud hati ingin menjodohkan adiknya, dengan seorang Putri dari negeri seberang yang beberapa hari lalu Kaisar Yu memperkenalkannya pada kedua Pangeran Itu.


"Tidak ada!" Jawab Pangeran Kichiro dengan cepat, nada bicaranya mulai tinggi dan perasaannya mulai semakin tidak membaik.


Kemudian dia segera berjalan untuk meninggalkan kakanya, Pangeran Rendra nampak terkejut dengan perilaku Kichiro yang terlihat sangat dingin kepadanya.


"Apa yang masih kau pikirkan? Hanna?! Dia sudah pergi meninggalkanmu, dia juga seorang pembunuh, dia sangatlah tidak pantas untuk mendapatkan cintamu, lupakan dia! Jika kau menyayangi ayah segeralah menikah dengan Putri Yuri!" ucap Pangeran Rendra dengan nada bicara yang agak tinggi.


Pangeran Kichiro kemudian segera menghentikan langkahnya, dengan perasaan kesal dia mengepalkan telapak tangan kanannya, dia menjawab ucapan dari kakanya dengan lantang.


"Aku ingin mendengarnya langsung dari mulut Hanna." Ucap Pangeran Kichiro yang masih membelakangi kakanya.


"Kau....! Apa kau ini bodoh! Apa memang kau telah dibutakan oleh cintamu itu! Sadarlah hai Kichiro!" bentak Pangeran Rendra dengan raut wajah kesalnya.


"Jika iya memang kenapa?! Bukankah itu lebih baik daripada menjadi seorang yang selalu berada dibalik bayangan orang lain, yang akan terus menjadi robot untuk ayah. Aku tidak bisa diperintah oleh siapapun meskipun itu ayahku sendiri, aku bukanlah kaka dan kaka jika kau terus seperti ini maka sampai kapanpun tidak akan pernah bisa menjadi seperti diriku!" ucap Pangeran Kichiro yang segera memalingkan pandangannya kearah belakang, dengan tatapan tajamnya dia menatap kedua bola mata Pangeran Rendra.


Pangeran Rendra nampak terkejut saat mendengar ucapan dari adiknya, segera dia berbalik dan berjalan untuk pergi meninggalkan Pangeran Kichiro sendirian.


Pangeran Rendra memasang wajah kesalnya, kemudian dia segera berjalan memasuki salah satu ruangan tertutup miliknya. Pangeran Kichiro yang melihat hal itu hanya terdiam, kemudian dia segera memalingkan wajahnya dan berjalan memasuki salah satu kamar, yang dahulu disana adalah tempat Istirahat Hanna dan dirinya.


Dengan perlahan Pangeran Kichiro membuka pintu yang tertutup rapat, segera dia memasuki kamar itu. Pangeran Kichiro memperhatikan setiap sudut ruangan, kasur besar berwarna putih sangatlah tertata rapi dengan selimut besar juga kedua bantal yang bersampingan.


Perlahan Pangeran Kichiro berjalan menuju kasur besar itu. Kemudian dia segera duduk diatas kasur.


"Hmm, kau sangat ingin bersembunyi dari diriku, sampai berapa tahun lagi Hanna? Seratus tahun! Hm sebegitu inginnya kau menjauhi diriku, apa kau ini sangatlah takut jika aku berhasil menemukanmu maka hidupmu juga akan berakhir!" ucap Pangeran Kichiro dengan raut wajah kesalnya.


Malam hari itu didalam Istana Yu kedatangan seorang tamu jauh dari negeri seberang, dia adalah Raja Age dan Putrinya Yuri Mou Jie. Raja Age bermaksud untuk bekerja sama dengan Kaisar Yu yang amatlah cerdas dalam berperang, juga kedua Putranya yang sama-sama dapat diandalkan, Raja Age memanfaatkan ke akrabannya dengan Kaisar Yu untuk menguasai beberapa wilayah yang masih termasuk daerah kekuasaan Kaisar Yu. Dan lagi kini Istana Lin yang berada di Kota Shian telah tenggelam karena tragedi peperangan beberapa bulan lalu. Kaisar Yu kini telah mangambil alih daerah itu dan dia juga bermaksud untuk mempersempit persembunyian dari Hanna dan Kirana. Agar memudahkan dirinya untuk menemukan kedua wanita itu.


Raja Age datang kesana dengan mengendarai sebuah tandu kerajaannya, dengan membawa Putrinya untuk ikut serta mendampingi dirinya, Kaisar Yu yang berada didalam Ruangannya nampak terkejut saat tiba-tiba salah seorang Pengawalnya memasuki Ruangan besar itu.


Kaisar Yu memperhatikan Pengawalnya yang segera bersujud dihadapan dirinya.


"Kaisar, diluar sudah ada Raja Age beserta Putri Yuri, mereka ingin bertemu dengan anda." Ucap Pengawal itu.


Kaisar Yu yang mendengar kabar tak terduga itu nampak sangatlah senang, kemudian dia segera memerintahkan kepada Pengawalnya untuk memperbolehkan kedua orang itu memasuki ruangannya.


"Biarkan mereka masuk, jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama diluar sana." Ucap Kaisar Yu.


Pengawal yang mengerti segera undur diri dari hadapan Kaisar Yu, dan berjalan keluar, disana sudah ada Raja Age dan Putrinya Yuri yang tengah menunggu didepan pintu. Pengawal yang melihatnya segera mempersilahkan Raja Age dan Putrinya untuk memasuki ruangan kaisar Yu.


"Silahkan, Raja dan Putri kedatangan kalian sudah dinanti oleh Kaisar Yu." Ucap Pengawal Itu sambil merendahkan tubuhnya sebagai tanda menghormati.