
Norr dan Leo kemudian menganggukkan kepala mereka, dengan segera Norr mengubah dirinya menjadi Seekor Burung besar dihadapan Kirana dan Leo.
"Kau benar, cepatlah naik kepunggung ini." Ucap, Norr yang sedikit melirik ke arah Kirana.
Kirana yang melihatnya kemudian dia segera bangun dari duduknya, perlahan ia menuruni kasur, kakinya yang telanjang, menyentuh dinginnya lantai didalam tempat itu. Kirana kemudian segera berjalan menghampiri diri Norr, Leo yang melihatnya kemudian segera keluar melalui jendela kaca yang tertutup rapat, dia menerabas kaca besar dan tebal itu dengan tubuhnya secara langsung, Norr dan Kirana yang melihat hal itu agak terkejut, kemudian Norr segera mengangkat sayapnya untuk menutupi tubuh Kirana agar pecahan kaca itu tidak melukai dirinya.
Kirana nampak tersentak dengan sikap dari Norr yang terlihat begitu ingin melindungi dirinya, entah itu hanya dugaannya saja atau memang lah benar adanya bahwa Norr tidak ingin Kirana terluka. Norr memperhatikan Leo yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan tempat itu, perlahan Norr menurunkan sayapnya, dia kemudian segera menatap wajah Kirana.
"Kau tidak terluka kan?" tanya Norr dengan sepasang mata hijau yang tajam menatap wajah Kirana.
Kirana yang melihat hal itu, dibuat gugup sampai ia bingung harus berkata apa, jantungnya berdegup dengan cepat wajahnya pun sedikit memerah, Norr yang menyaksikan hal itu kemudian segera bertanya lagi kepada Kirana.
"Mengapa pipimu memerah? Apakah kau demam?" tanya Norr dengan tegas.
Kirana nampak tersentak saat mendengar ucapan dari Norr, dia tidak lah menyangka dirinya dapat merasakan sesuatu hal yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata entah sejak kapan, namun saat ini sepertinya Kirana telah jatuh hati kepada pria dingin dan acuh perlakuannya terhadap dirinya itu.
"Hm, ya aku baik-baik saja." Ucap, Kirana yang segera menaiki punggung Norr.
Norr yang melihat hal itu hanya terdiam tanpa berfikir macam-macam pada Kirana, kemudian dengan segera Norr terbang keluar melalui kaca jendela yang sudah dipecahkan oleh Leo. Norr dan Kirana kemudian segera meninggalkan Istana Iblis itu, suasana dimalam hari itu nampak sunyi terlebih lagi Norr dan Kirana hanya ter dia tanpa ada yang memulai perbincangan, angin berhembus dengan kencang membuat tubuh Kirana merasa sangat kedinginan, dengan cepat kedua tangan Kirana menggenggam erat sebuah jubah merah yang melekat ditubuhnya itu.
Kirana sempat memejamkan matanya, kemudian dengan perlahan cuaca berganti menjadi sangat panas, ternyata kini mereka tengah memasuki tempat mengerikan dengan kawah api yang begitu panas, dari kejauhan saja sudah membuat tubuh Kirana berkeringat.
Kirana kemudian menatap sekitar, Leo yang tengah berada di atas dahan pohon, segera menghentikan langkahnya sambil menatap ke arah sebuah tempat dengan lubang yang terlihat menganga, sangat besar. Sisan terdapat api biru yang berkobar-kobar, iya kini meraka tengah berada disebuah tempat yang disebut dengan "Mulut Neraka"
Norr kemudian segera menghentikan gerakannya, Kirana yang melihat hal itu kemudian dia segera bertanya kepada Norr dan Leo.
"Mengapa kita berhenti? Bukankah kita harus segera mencari keberadaan Haruka?" ucap, Kirana yang sedikit melirihkan suaranya, dia hanya tidak ingin jika Norr dan Leo akan merasa tidak suka lagi dengan dirinya.
"Apa kau siap?" tanya Norr dengan suara yang tegasnya.
Kirana terdiam sejenak kemudian dia segera menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku siap." Ucap, Kirana dengan tegas.
Kirana memejamkan kedua matanya sambil mengangkat satu tangannya ke atas langit-langit malam. Segera terlihat sebuah Pedang berwarna merah miliknya, Kirana menatap tajam ke arah api biru yang tengah berkobar tak lama dari dalam api itu terlihat seekor binatang dengan warna merah merekah dihadapan mereka semua.
Leo yang tengah berada dibelakang Norr menatap tajam hewan aneh itu, tubuhnya nampak sekelas dia adalah seekor banteng, namun kepalanya tidaklah mirip dengan kepala banteng, seperti seekor siluman karena kepalanya berupa manusia dengan lidah panjang yang menjulur keluar. Kirana kemudian segera berbicara kepada Norr agar dia merendahkan dirinya.
"Turunkan aku, kita harus menghadapinya." Ucap, Kirana kepada Norr.
Belum berlalu ucapan Kirana yang Norr dengar saat Norr ingin mencari tempat yang aman untuk menurunkan Kirana, dia dikejutkan dengan api yang menyembur dihadapannya. Yang membuat Norr harus segera mundur dengan cepat. Leo kemudian dibuat tercengang dengan banyaknya hewan yang sama keluar dari balik api biru yanh berkobar, Hingga membuat Leo menjadi semakin waspada.
Kirana yang melihat tida adanya kemungkinan bagi Norr untuk mendaratkan diri membuat Kirana memutuskan diri untuk mengambil suatu resiko yang cukup membahayakan keselamatannya.
Kirana memperhatikan sekeliling terlebih dahulu, api-api yang berkobar layaknya seperti tengah menari karena jika salah satu api menjulang ke atas api di sampingnya akan masuk kedalam tanah. Kirana kemudian mulai mengamati api-api itu, segera Kirana berhitung sampai tiga yang membuat api pertama berhenti keluar.
"Satu...." Ucap, Kirana kemudian api paling terkahir menghilang dan api pertama masih berkobar.
"Dua...." Ucap, Kirana yang memperhatikan api kedua padam dan api terkahir menyala keluar.
"Tiga..." Ucap, Kiran sambil memperhatikan api pertama masuk kedalam tanah.
Saat melihat hal itu Kirana kemudian segera turun kebawah dan melewati api pertama, dihadapannya kini masih ada api kedua, disusul api ketiga, keempat dan yang terakhir kelima.
Norr yang melihat tindakan Kirana yang begitu membahayakan keselamatannya kemudian Norr segera berteriak keras kepada Kirana.
"Kirana?!" ucap, Norr dengan kesal.
Kirana yang masih fokus dengan api kedua kemudian dia segera memalingkan pandangannya kebelakang untuk menatap wajah Norr.
"Aku baik-baik saja." Ucap, Kirana sambil tersenyum memandang wajah Norr.
Norr yang melihat hal itu kemudian dia hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Sejak kapan dia menjadi senekat ini layaknya seperti Haruka, dasar para wanita!" ucap, Norr dengan suara lirih.