Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
Menginap.


Sedangkan ditempat dimana Haruka dan Pangeran Kichiro berada terlihat Haruka tengah mencoba untuk menyalakan api dari ranting pohon yang ia dapatkan dari dalam hutan, dengan menggunakan kekuatan kekuatan benih petir ia membuat percikan api kedalam ranting kayu itu, perlahan terlihatlah kerlap-kerlip cahaya yang dihasilkan dari api yang telah ia buat.


Haruka kemudian segera terbangun dark duduknya, ia dengan segera membalikkan tubuh dan menatap beberapa buah yang telah ia ambil dari dalam hutan juga. Haruka perlahan melangkahkan kakinya ke arah buah-buahan yang telah ia letakkan diatas kayu Haruka kemudian memperhatikan sekitar lalu dengan segera ia menatap ke arah sebongkah kayu yang tengah berada disamping kanannya, kemudian tanpa berpikir lagi Haruka segera menyulap bongkahan kayu tak pakai itu menjadi sebuah mangkuk yang sangat cantik. Api yang telah menyala ia gunakan untuk dapat menghangatkan tubuhnya juga memasak makanan dari buah-buah segar yang telah ia ambil dari dalam hutan.


Selain pandai bertarung, ia juga menguji kebolehannya sebagai seorang Wanita yang piawai dalam urusan masak-memasak. Haruka kemudian menggunakan kekuatan udaranya untuk dapat membuat buah itu melayang diudara dengan perlahan Haruka segera menggerakkan jari jemarinya untuk dapat mengeluarkan air dan membasuh hingga bersih buah yang sudah ia petik itu.


Sedangkan didalam kamar terlihat Pangeran Kichiro yang segera membuka sepasang Matanya itu, dia tidak tertidur dengan segera ia bangun dari baringannya, dan berjalan untuk dapat keluar dari dalam kamarnya, Pangeran Kichiro yang melihat dari arah dapur, terlihat kerlap-kelip cahaya membuatnya begitu sangat penasaran dengan apa yang telah Haruka lakukan didalam sana.


Dengan perlahan Pangeran Kichiro segera menghampiri Haruka dengan langkah hati-hati dia tidaklah mungkin mengganggu Haruka dengan pergerakannya yang tiba-tiba. Kemudian Pangeran Kichiro segera memiringkan kepalanya saat ia tengah memperhatikan Haruka yang tengah membuatkan sesuatu untuk dirinya, terlihat senyum tipis yang menghiasi Wajah Pangeran satu garis yang melengkung membentang diantara kedua pipi Pangeran itu nampak sangat jelas terlihat, Pangeran Kichiro kemudian segera membalikkan tubuhnya dan kembali masuk kedalam kamarnya sebelum Haruka mengetahui keberadaannya.


Haruka yang tengah sibuk meracik makanan untuk Pangeran Kichiro, sangat tidak menduga jika dirinya telah diperhatikan oleh Pangeran Kichiro, setelah beberapa lama kemudian, makanan yang Haruka buat telah usai, ia menamai makanannya itu dengan julukan "Bubur aneh" karena ia tidak tau apa nama dari buah yang ia ambil itu, dengan semberono Haruka menjuluki makanannya itu.


Haruka yang khawatir jika saja buah yang ia ambil itu beracun, dengan segera ia sedikit mencicipi rasa dari masakannya itu, sungguh Haruka dibuat terkejut bukan main dengan hasil karya ciptanya itu.


"Hm, manis sekali, ini terasa sangat lezat, tidak kalah dengan menu masakan direstoran, sepertinya aku sangat cocok jika menjadi seorang koki." Ucap, Haruka yang segera menatap ke arah jari telunjuk kanannya yang saat itu ia gunakan untuk mencicipi rasa dari masakannya.


Dia baru tersadar bahwa jarinya telah meng-kontaminasi bubur yang akan dia sajikan kepada Pangeran Kichiro. Haruka kemudian segera menurunkan jari telunjuknya itu. Dan mengangkat dengan perlahan mangkuk berisikan bubur untuk Pangeran Kichiro, karena bubur yang terasa masih sangat panas dengan perlahan ia menggunakan kekuatan udaranya untuk dapat mengangkat mangkuk itu diudara, jadi saat ini ia hanya menggenggam sendok kayu ditangan kanannya.


Saat sudah hampir mendekati kamar dari Pangeran Kichiro, dengan segera Haruka menghentikan langkahnya sekejap, lalu ia menurunkan kembali mangkuk yang saat itu tengah berada diatas udara. Kemudian dengan perlahan Haruka segera membuka pintu kamar Pangeran Kichiro dengan menggenggam daun pintunya, Perlahan ia mendorong pintu sampai terbuka terlihatlah didalam ranjang Pangeran Kichiro tengah tertidur dengan sangat lelap.


Haruka berjalan dengan perlahan untuk dapat memasuki ruangan kamar milik Pangeran Kichiro, Haruka kemudian segera menghampiri diri Pangeran lalu dia segera duduk disamping Pangeran Kichiro. Haruka menatap Wajah Pangeran yang tengah terpejam, kemudian Haruka segera membangunkan diri Pangeran dengan suaranya yang pelan, dan lengan kirinya yang segera menepuk pundak Pangeran Kichiro dengan perlahan.


"Hei, apakah kau belum bangun juga?" ucap, Haruka yang menatap Wajah Pangeran Kichiro dengan tatapan lembutnya terhadap pria itu.


Pangeran Kichiro kemudian dengan perlahan membuka sepasang matanya itu, lalu dia melirik ke arah Haruka yang tengah berada disampingnya dengan membawa sesuatu didalam telapak tangan kanannya itu.


"Akhirnya kau bangun juga, aku sudah membuatkan dirimu makanan, hmm ini akan beracun jadi kau tenang saja, aku sudah mencicipinya terlebih dahulu." Ucap, Haruka yang sedikit gugup saat berkata pada diri Pangeran Kichiro sambil menutup salah satu Matanya, sambil ia memperlihatkan senyum manis diwajahnya itu.


Pangeran Kichiro kemudian segera pandangannya tertuju pada mangkuk yang berisikan bubur dengan warna yang begitu sangat menawan, juga memiliki aroma yang sangat harum, membuat siapapun tidak akan dapat menolak untuk mencicipi makanan itu.


"Kau yang memasaknya?" ucap, Pangeran Kichiro yang segera menatap Wajah Haruka.


Haruka yang mendengar perkataan dari diri Pangeran Kichiro dengan segera ia tersenyum pada diri Pangeran, Pangeran Kichiro yang melihat senyuman dari Haruka dengan segera ia mengangkat tubuhnya dengan perlahan. Haruka yang melihat hal itu segera ia dengan sigap membantu diri Pangeran Kichiro untuk dapat bersandar sambil mengangkat bantal yang dikenakan oleh Pangeran untuk beristirahat.


Pangeran Kichiro yang mendengar perkataan dari Haruka, dengan segera ia menatap Wajah Haruka yang saat itu begitu sangat dekat dengan dirinya.


"Terima kasih." Ucap, Pangeran Kichiro dengan menatap Wajah Haruka.


Haruka yang melirik sepasang mata Pangeran Kichiro, kemudian dia segera mengaduk bubur yang berada didalam mangkuk dengan sendok kayu buatannya itu. Kemudian Haruka segera mengambil sedikit bubur kedalam sendok kayu, dengan perlahan ia meniup bubur itu agar tidak terlalu panas pada saat akan dimakan oleh Pangeran Kichiro.


"Ini." Ucap, Haruka yang segera menyodorkan tangan kanannya yang telah menggenggam sendok berisikan bubur untuk dapat disantap oleh Pangeran Kichiro. Pangeran Kichiro yang melihatnya kemudian segera membuka mulut dan memakan bubur buatan Haruka itu, Pangeran Kichiro kemudian terdiam sejenak sambil menunjukkan raut Wajah anehnya, Haruka yang melihat hal itu dengan segera terkejut lalu ia bertanya pada diri Pangeran Kichiro.


"Apakah rasanya aneh?" ucap, Haruka dengan perasaan terkejut.


Pangeran Kichiro yang mendengar ucapan dari Haruka kemudian dia segera menatap Wajah Haruka yang terlihat begitu sangat terkejut.


"Ini, terlalu manis." Balas, Pangeran Kichiro yang menatap Wajah Haruka.


Haruka yang mendengarnya dengan seketika dibuat semakin terkejut, dia tidaklah tau jika Pangeran Kichiro tidak menyukai makanan manis.


"Maaf, maafkan diriku, aku akan segera menggantinya." Ucap, Haruka yang segera bangun dari duduknya.


Pangeran Kichiro yang melihat hal itu terlihat begitu sangat terkejut, lalu dia segera menggenggam lengan Haruka, dan menariknya untuk dapat berada dihadapannya, hal itu membuat diri Haruka merasa begitu sangat terkejut.


"Jangan pergi, aku memang tidak menyukai makanan yang manis, tapi aku sangat menyukai dirimu." Ucap, Pangeran Kichiro yang segera tersenyum pada diri Haruka, lalu dia segera mengambil mangkuk berisikan bubur itu diatas meja kayu.


Dengan segera Pangeran Kichiro menarik tubuh Haruka dan melekatkan bibirnya pada bibir Haruka. Haruka yang merasakan hal itu hanya mampu terdiam lalu dengan perlahan ia segera menutup sepasang matanya itu.


"Aku akan tidur bersama dengan dirimu, aku akan menemanimu." Ucap, Pangeran Kichiro dengan tersenyum.


Haruka yang mendengarnya dengan segera ia menunjukkan tatapan tidak senang.


"Sebenarnya aku yang akan menemani dirimu." Dalam benak Haruka.