
Kirana yang sudah bersiap untuk bertarung dikejutkan dengan Pedang merahnya yang diambil paksa dari genggamannya, Kirana menoleh ke arah belakang dilihatnya pasir dengan warna keemasan itu tengah menggulung Pedang merah miliknya. Kirana kemudian dengan segera membalikkan tubuhnya dan menatap pasir itu, saat pandangan Kirana mulai terkecoh dengan Pedangnya Monster pasir yang berada dihadapan dirinya itu dengan segera mendekat dan lengannya terlihat akan menghantam tubuh mungil Kirana.
Norr yang melihatnya kemudian dia segera berlari untuk menghampiri Kirana, Kirana yang tengah berjalan untuk menghampiri gulungan pasir yang tengah melahap Pedangnya itu dikejutkan dengan Norr yang memeluk tubuh Kirana, dan mendorongnya. Kirana yang terjatuh bersama dengan Norr kemudian dia menatap wajah Norr yang tengah berada dihadapannya itu. Norr memperhatikan sekeliling dengan amat waspada sepasang matanya yang terlihat tajam itu terus mengamati sekitar, sampai pada akhirnya Norr nampak curiga dengan pasir yang meninggi layaknya seperti gundukan pasir yang membentuk gunung.
"Kirana, pergunakanlah kekuatan mata terataimu, aku rasa pemilik dari kekuatan ini sangat penasaran dengan kemampuan yang kau miliki, apa kau juga memikirkan hal yang serupa dengan diriku?" tanya Norr yang menatap wajah Kirana yang tengah berada diatasnya.
Kirana sedikit menoleh ke arah samping lalu dia menatap wajah Norr lagi, sambil tersenyum tipis pada Norr, Norr yang merasa bahwa Kirana sudah mengerti maksud dari ucapannya kemudian dia segera bangun sambil menarik tangan Kirana agar dapat berdiri dihadapannya.
Kirana yang tengah berada dihadapan Norr segera menoleh ke arah samping kirinya, Kirana kemudian segera berbicara pada Norr.
"Baiklah, hadapi yang lainnya ya." Ucap, Kirana yang segera menatap Wajah Norr.
"Serahkan padaku." Ucap, Norr yang menatap wajah Kirana.
Kirana terdiam sejenak kemudian dia segera menyentuh dada bidang Norr perlahan Kirana berbisik pada Norr sambil tersenyum tipis kepada dirinya.
"Bisakah sekarang kau melepaskan lenganku?" ucap, Kirana yang melirik ke arah tangan kirinya yang tengah digenggam dengan sangat erat oleh Norr.
Norr yang sudah menyadarinya hanya tersenyum tipis, kemudian dengan perlahan Norr segera melepaskan genggamannya. Kirana pun segera menurunkan lengan kanannya yang tengah menyentuh dada bidang Norr.
Kirana segera membalikkan tubuhnya dan menatap gundukan pasir itu, sedangkan Norr segera melirik ke arah Monster pasir yang tengah berkelahi dengan Leo.
"Berhati-hatilah." Ucap, Norr yang segera pergi meninggalkan Kirana untuk segera membantu Leo.
Kirana yang menatap Norr kemudian dia segera berjalan untuk menghampiri gundukan tanah itu, langkahnya terlihat hati-hati namun jika dilihat dari tatapan matanya Kirana sangat ingin bertarung dengan sosok yang berada didalam gundukan pasir itu.
"Perlihatkan dirimu! Aku kemari bukanlah ingin bermain-main denganmu, jika kau ingin bertarung maka kemari hadapi diriku, namun jika kau lebih memilih untuk menyimpan baik-baik tenagamu dan membiarkan kami pergi itu jauh lebih baik." Ucap, Kirana dengan tegas.
Kemudian segera gundukan pasir yang menggunung itu bergerak dan melepaskan diri begitu saja, didalam pandangan Kirana terlihat seorang pria dengan rambut berwarna cokelat wajahnya nampak tenang, kedua mata pria itu tengah terpejam. Tak lama kemudian pria itu membuka matanya dan segera melihat Kirana yang tengah berada dihadapannya, tatapan dari Kirana nampak dingin dan terlihat jelas sikap waspada yang ia tunjukkan.
Pria itu menatap wajah Kirana dengan sepasang mata hitam yang terlihat sangat tajam. Kirana merasa curiga saat melihat pria itu begitu sangat tenang, didalam benaknya pria itu bukanlah lawan yang mudah untuk ia hadapi.
"Kau... Kemarilah...." Ucap, Pria itu yang segera mengangkat lengan kanannya.
Kirana hanya terdiam tanpa menuruti ucapan dari Pria itu, lalu dengan tiba-tiba pasir yang tengah ia injak melilit tubuh Kirana dan membawanya kepada Pria itu.
"Siapa kau!" Ucap, Kirana dengan raut wajah tidak suka.
Pria itu hanya terdiam saat melihat sepasang mata milik Kirana, kemudian pria itu berbicara kepada Kirana dengan raut wajah tanpa ekspresi itu.
"Tidak ada yang boleh melewati wilayahku, siapapun itu dan kau dengan beraninya berbicara bahwa aku akan melepaskan dirimu! Hm, sungguh konyol, mereka yang dengan beraninya masuk kedalam wilayahku tanpa izin, harus menanggung akibatnya, dan mereka yang sudah masuk ketempat ini tidak akan pernah bisa keluar dari sini untuk selamanya!" Ucap, Pria itu dengan sepasang mata yang begitu mengerikan.
Pasir keemasan itu melilit tubuh Kirana dengan sangat erat, bahkan dia kesulitan untuk bernafas.
"Mohon lepaskan kami, kami hanya ingin kembali ketempat kami berasal, tidak ada sedikitpun niat yang terbesit didalam hatiku untuk mengusik anda Tuan." Ucap, Kirana dengan nada bicara yang lembut dan sopan.
Didalam batin Pria itu saat melihat tampang Kirana yang memanglah terlihat dia hanyalah ingin melalui wilayahnya tanpa berniat buruk terhadap dirinya. Kemudian Pria itu menatap wajah Kirana yang tengah menahan rasa sakit dan sesak, dengan perlahan Pria itu mengangkat tangannya namun saat menatap ke arah Norr dia segera menurunkan kembali lengannya.
"Hm, sungguh menarik." Ucap, Pria itu dengan tersenyum licik saat menatap ke arah Norr.
Kirana kemudian terdiam saat mendengar ucapan dari Pria itu, tak lama Kirana segera menoleh ke arah Norr dan Leo yang tengah bertarung dengan Monster pasir.
"Apakah Tuan begitu sangat menginginkan diriku?" ucap, Kirana yang segera menatap sepasang mata dari Pria itu.
"Hmm, tentu saja." Ucap, Pria itu dengan tersenyum puas pada Kirana.
Kirana kemudian sedikit melirik sebuah gulungan kertas yang terikat pita merah yang tengah berada didalam keranjang cokelat milik Pria itu, dengan segera Kirana menatap kembali Pria itu sambil tersenyum tipis kepadanya.
"Hm, baiklah aku akan ikut dengan dirimu, tetapi kumohon lepaskan diriku, Tuan ini sangatlah sakit." Ucap, Kirana yang menutup satu mata kanannya dengan bibir yang sedikit bergetar.
Pria itu kemudian tersenyum puas saat mendengar jawaban dari Kirana, Pria itu segera melepaskan tubuh Kirana kebawah dengan perlahan. Pasir yang melilit tubuhnya juga segera menghilang.
Kirana kemudian terbatuk-batuk, sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.
"Kau hampir saja membunuh diriku bodoh!" Dalam benak Kirana.
"Kau kemarilah." Ucap, Pria itu dengan nada suara yang tegas.
Kirana yang terkejut kemudian dia segera mengangkat kepala dan menatap wajah Pria itu.
"Baik." Ucap Kirana.
Segera dia berjalan untuk menghampiri Pria itu, saat sudah berada dihadapannya lengan kanannya ditarik sampai tubuhnya menyentuh tubuh Pria itu. Kirana yang tengah berada didalam dekapannya nampak tertunduk wajahnya kemudian dihiasi senyum licik yang turut mewarnainya.
Kirana dengan cepat mengangkat lengannya ke belakang dan meraih gulungan kertas yang terikat pita merah. Dengan raut wajah licik Kirana segera menendang perut Pria itu dengan sangat keras. Lalu dia meloncat untuk mundur ke arah belakang dan menjauh dari Pria itu.
"huft, kau tertipu." Ucap, Kirana sambil tersenyum manis dihadapan Pria itu.
Pria itu nampak terkejut dia tidaklah menyangka Kirana hanya memancing dirinya untuk dapat mencuri gulungan kertas yang berada didalam keranjangnya. Pria itu nampak geram, kemudian dengan segera dia berteriak kepada Kirana.
"Kembalikan benda itu kepada diriku!" Bentaknya dengan kasar.
"Izinkan kami melewati wilayahmu, maka aku akan mengembalikannya." Ucap, Kirana dengan tegas.
"Wanita ini ternyata sangat licik! Sungguh tidak disangka parasnya yang cantik, dan kata-katanya yang terdengar sangat manis, itu hanyalah pengecoh saja untuk diriku!" Dalam benak Pria itu dengan sangat kesal.
"Mengapa terdiam! Sudah tidak menginginkan benda ini lagi, kalau begitu. Mata teratai terbukalah!" Ucap, Kirana dengan tegas.
Dengan segera cahaya hitam membentuk bunga teratai tengah muncul di samping Kirana.
"Jangan berfikir untuk mengendalikan pasirmu itu untuk mengambil benda ini, pergerakanku tentunya lebih cepat dibandingkan dengan pasirmu, Izinkan kami untuk pergi atau aku akan melenyapkannya?" ucap, Kirana dengan raut wajah dingin.
Pria itu hanya terdiam dia tidaklah menyangka Kirana dapat menekan dirinya sampai tidak dapat berkutik sedikitpun.
"Arrhh...!" Ucap, Pria itu dengan kesal.