Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
204


Pangeran Kichiro menatap diri Putri Yuri terus dengan tatapan dingin, sehingga membuat Putri Yuri dibuat takut oleh sikap dari Pangeran Kichiro. Namun, Putri Yuri segera mengesampingkan kecanggungannya dihadapan Pangeran, dengan menyentuh lengan baju Pangeran Kichiro.


"Pangeran, mari." Ucap, Putri Yuri sambil tersenyum manis pada Pangeran Kichiro.


Pangeran yang melihatnya nampak sangat jijik dan muak pada tingkah laku dari Putri Yuri, namun Pangeran masih mampu meredam emosinya ia hanya menunggu saat yang tepat saja, untuk menendang Putri Yuri dari Istananya itu.


"Dasar, tidak tau malu! Hm, baiklah akan aku lihat sampai kapan kau akan terus menutupi sifat busukmu itu! Kau pikir aku sangatlah ingin pergi bersama dengan dirimu, atau aku sangat perduli dengan pertarungan dirimu, hm sesungguhnya aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang akan menjadi lawan mainmu itu, Haruka." Dalam, benak Pangeran Kichiro.


Pangeran Kichiro kemudian segera menarik lengannya Putri Yuri begitu terkejut saat melihat sikap dari Pangeran Kichiro yang semakin dingin terhadap dirinya.


"Mari kak." Ucap, Pangeran Kichiro pada Kakanya Pangeran Rendra yang tengah berada disamping dirinya.


Pangeran Rendra kemudian segera melirik wajah Pangeran Kichiro kemudian dia hanya memejamkan matanya, segera ia berbalik dan berjalan untuk menuju ruang pribadi ayahnya.


Dalam benak Pangeran Rendra saat melihat sikap dari Kichiro terhadap Putri Yuri membuatnya semakin mengerti saja bahwa tidak ada seorang pun wanita yang dapat mengganti posisi Putri Hanna didalam hati Pangeran Kichiro.


Putri Yuri nampak kesal dibuatnya dia benar-benar tidak diperdulikan sama sekali oleh kedua Pangeran dingin itu, Putri Yuri terlihat sangat kesal, kemudian ia menggenggam telapak tangannya bibirnya bergetar, raut wajahnya terlihat sangat marah.


"Kurang ajar! Beraninya kalian, lihat saja sebentar lagi aku yang akan menguasai wilayah ini, dan kalian semua akan bertekuk lutut dibawah kakiku sambil mengemis untuk dapat berada disisiku ini!" Dalam benak Putri Yuri yang nampak sangat marah.


Yuan yang tengah berdiri dibelakang Putri Yuri hanya terdiam, kemudian para pelayan yang tengah berada disamping Yuan, terlihat tengah berbisik-bisik sambil menatap wajah Yuan, Yuan yang merasa sangat canggung berada ditempat itu, juga suasana didalam kamar Putri Yuri nampak angker, membuat Yuan merinding.


"Hm, suram sekali ditempat ini, lebih baik aku pergi saja." Dalam benak Yuan yang sedikit melirik ke arah para ppelayan yang tengah menatap diri Yuan dengan tajam.


Sebelum Yuan pergi, Putri Yuri segera berjalan untuk meninggalkan kamarnya, hatinya sangat kesal dia begitu sangat marah, Yuan yang melihatnya kemudian dia segera berjalan untuk dapat keluar dari kamar Putri Yuri.


Salah satu pelayan Istana yang melihatnya kemudian segera berbicara pada Yuan dengan nada yang terdengar sangat sinis, dan dingin.


"Sungguh tidak disangka seorang Yuan, pelayan tidak berguna mampu membuat Pangeran Kichiro sangat ingin melindunginya! Hm, sihir apa yang telah kau lakukan Yuan, atau jangan-jangan ka pernah tidur bersama dengan Pangeran." Ucap, salah seorang pelayan.


Yuan yang mendengarnya kemudian dia segera menghentikan langkahnya, lalu dia segera berbicara dengan sangat tegas pada salah seorang pelayan itu.


"Hm, sungguh lancang kau berkata seperti itu! Dan seolah-olah Pangeran Kichiro kedudukannya dapat dibandingkan dengan seorang pelayan! Sudah bosan hidup ya, jika benar maka aku akan berbicara pada Pangeran untuk mengurus dirimu segera!" Ucap, Yuan dengan tegas.


Para pelayan yang mendengarnya sangat terkejut dengan ucapan Yuan yang terdengar sangat serius terhadap diri mereka. Lalu salah seorang pelayan lainnya segera menarik pelayan tadi tengah berbicara terhadap Yuan.


Kemudian salah seorang pelayan lainnya segera berbicara pada Yuan dengan nada bicara yang terdengar sangat gugup.


"Hahaha..., Yuan bukanlah begitu maksud dari ucapan kak lili, dia hanya sedikit emosi saja, jadi tidak perlu kau pikirkan ya." Ucap, salah seorang pelayan itu.


Yuan yang mendengarnya hanya terdiam lalu dia segera berjalan keluar dari dalam kamar Putri Yuri. Semua pelayan yang tengah berada didalam Istana itu terlihat sangat canggung dan gugup, mereka sangatlah tidak menyangka bahwa Pangeran Kichiro begitu perduli terhadap diri Yuan, dan kini posisi Yuan didalam Istana Yu sangat berbahaya bagi mereka.


Didalam Ruangan Kaisar Yu.


Terlihat Raja Age dan Kaisar Yu tengah berbincang-bincang, mereka tertawa sambil meminum air yang berada didalam cawan kecil. Tak lama pintu terbuka, Kaisar Yu dan Raja Age sangat dikejutkan dengan kehadiran Pangeran Kichiro dan Pangeran Rendra yang tengah berada diluar pintu masuk.


Kaisar yang melihat kedua putranya sungguh ia merasa sangatlah senang, dan lagi saat melihat kedua putranya itu yang sangat penurut akan setiap perintah darinya.


"Wah, wah, ada apa ini pagi-pagi begini kalian sudah sangat antusias datang kemari, ada apa?" ucap, Kaisar Yu dengan senang.


Tak lama Pangeran Kichiro memberikan salam hormatnya kepada Kaisar Yu, lalu dia segera mengatakan maksud dari tujuannya menghadap Kaisar Yu.


"Salam hormat saya terhadap Kaisar, semoga anda panjang umur, hm kedatangan saya kemari hanya ingin meminta izin kepada Kaisar untuk megantar Putri Yuri ke Bukit Zhandou, hari ini dia ingin bertarung dengan seseorang, apakah Kaisar mengizinkan?" ucap, Pangeran Kichiro dengan tegas.


Raja Age dan Kaisar Yu begitu sangat terkejut saat mendengar ucapan dari Pangeran Kichiro yang tengah berbicara seperti itu terhadap mereka.


"Benarkah begitu Putri? Mengapa kau tidak berbicara kepada kami sebelumnya?" ucap, Kaisar Yu yang segera menatap wajah Putri Yuri.


Putri Yuri yang mendengarnya kemudian dia segera memberi hormat kepada Kaisar Yu, kemudian Putri Yuri menjawab tanya dari Kaisar Yu.


"Salam hormat kepada Kaisar, mohon maafkan saya jika tidak berbicara terlebih dahulu kepada anda, saya waktu itu mengambil keputusan ini juga sangat terpaksa, waktu didesa saat saya pergi untuk melihat pertunjukkan, ada seorang gadis yang menjelek-jelekkan diri saya didepan umum, karena saya merasa sangat kesal dengan gadis sombong itu akhirnya saya menantang dirinya untuk bertarung dengan saya, saya mohon ampun sekali lagi kepada anda." Ucap, Putri Yuri yang terlihat sangat sedih.


Kaisar Yu yang melihat hal itu sungguh sangat dibuat kesal, beraninya seseorang memperlakukan hal semacam itu terhadap Putri Yuri, Raja Age yang melihat Putrinya berkata begitu membuatnya kesal, dan tidak terima.


"Siapa yang dengam beraninya memperlakukan dirimu dengan seperti itu?!" Ucap, Kaisar Yu dengan Kesal.


Pangeran Kichiro yang melihatnya sungguh dibuat kesal dengan perkataan dari Putri Yuri, raut wajahnya saat tengah melirik ke arah Putri Yuri terlihat begitu mengerikan. Sampai-sampai membuat Putri Yuri takut dibuatnya.


"Dia berkata bahwa dirinya adalah titisan dari seorang dewi." Jawab Pangeran Kichiro.


Kaisar Yu, Raja Age dan Pangeran Rendra terkejut sangat mendengar jawaban dari Pangeran Kichiro.


"Titisan seorang dewi, mungkinkah...?!" Ucap, Kaisar Yu dengan raut wajah yang terlihat sedikit panik.


Begitupun juga dengan Raja Age, dia dibuat khawatir dengan keputusan yang Putri Yuri ambil.


"Kau harus berhati-hati, lawanmu bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi." Ucap, Kaisar Yu dengan tegas.


Putri Yuri yang mendengar nasehat dari Kaisar Yu kemudian dia segera menganggukkan kepalanya. Raja Age yang melihat hal itu dibuat sedikit cemas.


"Dasar anak bodoh! Mengapa dia tidak meminta maaf saja pada gadis itu!" Dalam benak Raja Age.


Pangeran Kichiro yang kemudian telah usai menyampaikan maksudnya, kemudian dia segera berpamitan dan meminta do'a restu kepada Kaisar Yu.


"Hm, baiklah saya akan mengantarkan Putri Yuri ke Bukit Zhandou sekarang juga, sebelum pertarungannya dimulai, saya mohon pamit Kaisar, Raja." Ucap, Pangeran Kichiro yang tidak ingin membuang-buang waktunya lagi.


Putri Yuri yang melihat Pangeran Kichiro yang begitu antusias sungguh merasa curiga terhadap dirinya, tetapi meskipun begitu ia hanya dapat menahannya, lalu dengan segera Putri Yuri berbicara terhadap Kaisar Yu dan ayahnya.


"Say mohon pamit, do'a kan saya agar dapat memenangkan pertarungan nanti." Ucap, Putri Yuri dengan memberi hormat kepada Kaisar Yu."


Kaisar yang melihat tekat dari Putri Yuri yang begitu besar, ia hanya mampu mengizinkannya tanpa bisa membantah permintaan dari Putri Yuri.


"Baiklah semoga kau beruntung." Ucap Kaisar Yu.