Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
Sebuah kenyataan.


Wanita bertopeng itu hanya terdian sambil terus menyembuhkan luka Pangeran Rendra, Pangeran yang merasa sangat bingung dengan hal itu dengan segera ia mengangkat lengan kanannya untuk dapat menepis lengan Wanita bertopeng itu, sehingga kekuatan yang tengah menyembuhkan luka dalam Pangeran Rendra terhenti.


"Apa yang tengah kau lakukan?!" Ucap, Pangeran Rendra yang segera menatap Wajah Wanita bertopeng itu dengan tajam.


Wanita bertopeng itu yang terlihat tengah menatap diri Pangeran Rendra dengan tatapan sendu, segera ia berbicara kepada Pangeran.


"Darimana kau dapatkan liontin itu?" ucap, Wanita bertopeng itu sambil menatap Wajah Pangeran Rendra.


Pangeran Rendra yang terkejut dengan pertanyaan itu lagi, tampaknya ia merasa sangat curiga.


"Untuk apa kau menanyakan hal semacam itu? Apakah kau menginginkannya? Hmh, kalau begitu beri aku jalan maka aku akan memberikan dirimu liontin ini." Ucap, Pangeran Rendra yang menatap tajam Wanita bertopeng itu.


Wanita bertopeng itu segera mengepalkan kedua telapak tangannya, ia memejamkan sepasang Matanya dan menggigit bibir bawahnya yang bergetar.


"Karena liontin teratai itu milikku." Ucap, Wanita bertopeng itu yang segera membuka sepasang Matanya lalu menatap Wajah Pangeran Rendra.


Pangeran Rendra yang mendengar hal itu merasa sangat terkejut, ia begitu sangat tidak mengerti maksud dari perkataan Wanita bertopeng itu terhadap dirinya.


"Apa maksudmu?!" Ucap, Pangeran Rendra dengan tampang bingung, kemudian dia berusaha untuk bangkit dari duduknya, dengan perlahan-lahan, sambil menyentuh dadanya yang masih terasa sesak.


Wanita bertopeng itu kemudian segera mengangkat lengan kanannya dan mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya, Pangeran Rendra terus memperhatikan Wanita bertopeng itu dengan sangat serius, tak lama kemudian Pangeran Rendra dikejutkan dengan sebuah liontin teratai yang sama persis dengan kepunyaannya.


"Hah?! Bagaimana bisa?! S... Siapa... Ka.. Kau?!" Ucap, Pangeran Rendra dengan perasaan terkejut dalam dirinya.


Wanita bertopeng itu kemudian segera berjalan mendekati diri Pangeran Rendra yang saat itu tengah menatap dirinya dengan tatapan bingung.


"Kau adalah Putraku, yang hilang." Ucap, Wanita bertopeng itu dengan menitihkan air Mata, sambil menatap Wajah Pangeran Rendra.


Pangeran Rendra yang mendengar hal itu merasa sangat tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Wanita bertopeng itu, ia menganggap Wanita bertopeng itu telah berkata dusta terhadap dirinya.


"Ti... Tidak mungkin, itu tidaklah mungkin." Ucap, Pangeran Rendra yang merasa sangat tidak mempercayai perkataan dari Wanita bertopeng itu, dengan segera ia melangkah mundur untuk dapat menghindari Wanita bertopeng itu.


Wanita bertopeng itu merasa sangat terkejut ketika Pangeran Rendra tidak mempercayai perkataannya. Dengan segera Wanita bertopeng itu membalikkan tubuhnya sambil tak bersuara sedikitpun. Pangeran Rendra yang melihatnya masih merasa sangat tidak mempercayai perkataan dari Wanita bertopeng itu.


"Dia tidak mungkin ibuku, aku ini Putra pertama dari Bunda Jian dan juga Kaisar Yu, mereka selalu memperlakukan diriku dengan baik, jika aku bukan Putra mereka mengapa mereka berlaku seperti itu terhadap diriku?!" Dalam benak Pangeran Rendra yang merasa sangat tidak mempercayai perkataan dari Wanita bertopeng itu, ia terus saja menepis semua kenyataan yang ada.


"Mungkin saja kau telah memalsukan liontin yang sama dengan diriku, agar kau dapat mengelabuhiku?! Kau pasti tengah berdusta, liontin ini pemberian dari mendiang Bundaku, ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Wanita Siluman seperti dirimu!" Ucap, Pangeran Rendra yang merasa sangat marah dengan Wanita bertopeng itu, tatapannya begitu sangat tajam tampaknya, Pangeran Rendra merasa bahwa Wanita bertopeng itu tengah mempermainkan dirinya saja.


Wanita bertopeng yang tengah membelakangi tubuh Pangeran Rendra, ia merasa begitu sangat terkejut dengan apa yang telah diucapkan oleh diri Pangeran terhadap dirinya, kemudian Wanita bertopeng itu segera menoleh ke arah belakang untuk dapat menatap Wajah Pangeran Rendra.


"Siluman?! Kau anggap diriku yang telah melahirkan dirimu ini Siluman?! Kau memiliki tanda lahir berwarna merah yang terletak dibahu sebelah kananmu bukan? Kau yang terlahir tidak memiliki kemampuan apapun, tapi kau istimewa, kau memiliki kemampuan roh yang sangat luar biasa, apa kau tau itu, Putraku?" ucap, Wanita bertopeng itu yang menatap Wajah Pangeran Rendra dengan bola Mata yang berkaca-kaca.


Pangeran Rendra yang mendengar perkataan dari Wanita bertopeng itu dirasanya sangat benar, membuatnya sedikit goyah dalam keyakinannya bahwa mendian Permaisuri Jian adalah bundanya.


"Aku tidak bisa dengan mudahnya mempercayai dirimu, aku tidak dapat mengenali rupamu jika kau bertutup kan topeng seperti itu." Ucap, Pangeran Rendra yang tengah berdiri dihadapan Wanita bertopeng itu dengan tatapan tajam.


Wanita bertopeng itu kemudian segera menundukkan kepalanya, dengan perlahan ia mengangkat lengan kanannya, untuk dapat melepaskan topeng yang menutupi Wajahnya. Lalu, tak lama kemudian lengannya tertenti saat ingin membuka topeng yang menutupi Wajahnya.


"Meskipun aku memperlihatkan Wajahku kepada dirimu, kau pasti tidak akan pernah bisa mengenali diriku, kau pasti tidak akan pernah mempercayai diriku." Ucap, Wanita bertopeng itu yang sedikit melirik ke arah Pangeran Rendra.


"Jujur saja aku belum bisa mempercayai dirimu sepenuhnya, aku pun tidak tau kau benar Bundaku, atau kau hanya tengah menipu diriku, jika aku menghilang lantas mengapa kau berusaha untuk mencari keberadaan diriku?! Mengapa baru sekarang, setelah aku tidak sengaja menjatuhkan liontin itu? Apakah menurutmu aku sudah tiada?! Apakah hanya karena sebuah liontin saja sudah dapat menguatkan semuanya? Jika saja ada orang lain yang membawa liontin ini apakah itu juga akan kau anggap Putraku?! Apakah hanya karena sebuah liontin lalu kau dapat menyimpulkan semuanya?! Jika kau benar Bundaku kau pasti akan mencari keberadaan diriku, keberadaan Putranya yang hilang, bukan seperti ini, kau bukan Bundaku, bukan!" Ucap, Pangeran Rendra dengan perasaan kecewa dalam dirinya.


Wanita bertopeng itu merasa sangat tertegun ketika mendengar semua perkataan yang diucapkan oleh Pangeran Rendra, ia merasa sangat bingung harus bagaimana ia menjelaskan semuanya kepada Pangeran Rendra.


"Aku... Aku... Aku, sudah mencoba untuk mencari dirimu, waktu itu kau hanyut terbawa air sungai yang sangat deras, ketika diriku tengah bertarung dengan beberapa musuh yang menginginkan nyawamu, setelah aku pikir-pikir mungkin itu yang terbaik untuk hidupmu, bukannya aku tidak mencoba untuk mencari keberadaanmu, tetapi aku hanya ingin melindungi dirimu, siang dan malam aku selalu berada ditempat ini, berharap Putraku kembali, aku selalu berharap kau baik-baik saja, dirawat dan dijaga, mendapatkan kasih sayang dari orangtua angkatmu, aku memang berdosa, aku memanglah tidak pantas kau panggil Ibu, kau berhak untuk membenci diriku, aku bisa mengerti dirimu, pergilah kau, aku persilahkan untuk melewati sungai ini." Ucap, Wanita bertopeng itu yang segera memalingkan pandangannya, tak lama kemudian dia segera melemparkan sebuah Pedang dengan warna bening dihadapan Pangeran Rendra.


"Bawalah Pedang itu bersama denganmu, cari apa yang tengah kau cari, jika kau tidak mendapatkannya ingatlah untuk kembali, jaga dirimu baik-baik." Ucap, Wanita bertopeng itu yang segera membalikkan tubuhnya untuk dapat masuk ke dalam air sungai.


Pangeran Rendra yang melihat Pedangnya bening milik Wanita bertopeng itu segera ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Dirinya merasa sangat kecewa dengan semua yang telah terjadi terhadap hidupnya.


"Bunda, maafkan diriku." Ucap, Pangeran Rendra yang segera mengangkat kepalanya untuk dapat menatap tubuh Wanita bertopeng itu.


Wanita bertopeng itu merasa sangat terkejut dengan apa yang dia dengar, Pangeran Rendra untuk pertama kalinya memanggil dirinya dengan sebutan Bunda, tanpa pikir panjang Wanita bertopeng itu segera membalikkan tubuhnya dan berjalan untuk dapat menghampiri Putranya Pangeran Rendra yang saat itu tengah menatap dirinya dengan Wajah pucat pasinya itu.


"Hiks... Putraku." Ucap, Ratu Li euna seorang Wanita yang memiliki paras cantik dan muda layaknya Wanita remaja. Ratu Li memeluk erat tubuh Putranya, lalu dia segera menatap Wajah Pangeran Rendra yang tengah berada dihadapannya itu.


"Aku mohon maaf atas semua kesalahanku terhadap dirimu, tempat tinggal ku saat ini hanya ditempat ini, jika kau tidak bisa menempatinya maka akan mencarikan dirimu sebuah tempat tinggal." Ucap, Ratu Li euna dengan perasaan sedih.


Pangeran Rendra yang melihat hal itu tampaknya begitu sangat bingung dengan apa yang telah terjadi terhadap Bundanya.


"Apakah orang-orang itu masih menginginkan diriku?" tanya, Pangeran Rendra yang merasa sangat penasaran.


Ratu Li euna yang mendengar perkataan dari Pangeran Rendra tampaknya ia begitu sangat gugup, dan hal itu dengan cepat bisa Pangeran Rendra mengerti.


"Baiklah, aku mengerti, tetapi aku tengah mencari seseorang Bunda, izinkan diriku untuk mencari keberadaannya, aku mohon." Ucap, Pangeran Rendra yang menatap Wajah Ratu Li euna dengan lembut.


Ratu Li euna yang mendengar perkataan dari Putranya merasa sangat terkejut, dia baru saja dipertemukan dengan Pangeran Rendra, dan sekarang dirinya akan dipisahkan kembali.


"Tidak bisa, kau harus disini bersama dengan diriku." Ucap, Ratu Li euna yang segera menggenggam erat kedua lengan Pangeran Rendra.


Pangeran Rendra yang mendengar hal itu ia merasa sangat terkejut, lalu dengan perlahan Pangeran Rendra melepaskan genggaman tangan dari Bundanya.


"Aku pasti akan kembali, aku berjanji setelah aku berjumpa dengan dirinya aku akan kembali bersama dengan dirinya, aku mohon." Ucap, Pangeran Rendra yang terlihat begitu sangat ingin mencari keberadaan dari Putri Kirana.


Ratu Li euna hanya terdiam ketika mendengar perkataan dari Pangeran Rendra ia merasa bahwa seseorang yang tengah dicari oleh Putranya itu adalah seseorang yang pastinya begitu sangat berarti untuk dirinya.


"Baiklah, gunakan Pedangku, jika ada musuh kau pasti akan dengan mudah mengalahkan dirinya, lagipula luka dalam yang aku berikan kepadamu belum pulih, apakah kau yakin, ingin pergi Putraku?" ucap, Ratu Li euna yang terlihat begitu sangat mengkhawatirkan Pangeran Rendra.


Pangeran Rendra yang melihat kasih sayang dari Wanita itu tampak begitu sangat tulus untuk dirinya, membuatnya merasa sangat beruntung dapat berjumpa dengan Wanita itu.


"Iya, lagipula bukankah tadi Bunda sudah mencoba untuk menyembuhkan lukaku ini? Percayalah aku akan baik-baik saja, aku pasti akan ingat untuk kembali kepada Bunda." Ucap, Pangeran Rendra yang menatap Wajah Ratu Li euna dengan sedikit tersenyum tipis dihadapannya.


"Baiklah, hati-hati Putraku, semoga Dewa selalu melindungi dirimu." Ucap, Ratu Li euna yang dengan terpaksa harus melepaskan Putranya, untuk pergi mencari keberadaan seseorang yang begitu sangat berarti bagi dirinya.


"Salam." Ucap, Pangeran Rendra yang segera memberikan salam hormatnya terhadap Ratu Li euna, lalu dengan segera Pangeran Rendra membikkan tubuhnya untuk dapat mengambil Pedang bening milik Ratu Li euna, Pangeran Rendra begitu sangat yakin dengan apa yang tengah ia lakukan, perlahan dirinya melawati derasnya sungai.


Ratu Li euna yang melihat Putranya kemudian dia segera mengangkat lengan kanannya, telapak tangannya itu ia hadapkan pada tubuh Pangeran Rendra, keluarlah sebuah sinar merah yang segera menyentuh tubuh Pangeran yang saat itu tengah berjalan melewati derasnya sungai.