
Pangeran Iblis menatap Haruka yang begitu tidak inginnya disentuh. Meskipun saat ini dia telah kehilangan kekuatannya namun Pangeran Iblis merasa ada sesuatu yang berbeda darinya.
Haruka terdiam sambil menyentuh tubuhnya dengan kedua tangan. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya bergetar tak seimbang.
"Haruka, aku tidak tau seberapa pentingnya Kichiro untukmu, tapi mengapa kau terus saja mengabaikan perasaanku!." ucap Pangeran Iblis.
"Aku tidak pernah tau sejak kapan kau sudah menyukaiku, namun kita adalah musuh. Sampai kapanpun tetap akan jadi musuh!" ucap Haruka yang menatap Pangeran Iblis dengan dingin.
Pangeran Iblis menatap Haruka kesal, dengan cepat dia berjalan menghampirinya.
"Aku sudah berbaik hati padamu Haruka, jika itu maumu aku tidak akan pernah segan untuk menyakiti dirimu!." ucap Pangeran Iblis dengan mencengkram leher Haruka kuat.
Haruka yang tidak bisa bernafas, segera memukul tubuh Pangeran Iblis dengan keras. berkali-kali namun pukulan Haruka sepertinya sedikitpun tak membuahkan hasil.
"Aku sudah kembali ke diriku yang biasanya, menghadapi Iblis sepertinya tidak bisa dilakukan tanpa adanya kekuatan." Dalam benaknya.
Pangeran Iblis segera melempar tubuh Haruka ke dinding, tubuh mungilnya membentur tembok yang terbuat dari besi dengan cukup keras. Darah keluar dari mulutnya. Tubuh Haruka terjatuh ke lantai yang sangat dingin itu. Dengan terengah Haruka berusaha untuk bangkit.
Tak lama Pangeran Iblis berbicara dengan sangat lantang kepada Pengawalnya yang berada disana.
"Bawa dia ke kamarku!" ucap Pangeran Iblis.
Haruka terkejut kemudian dia mengangkat kepalanya. Suara langkah kaki seseorang berjalan mendekati Haruka.
Dengan cepat lengan Haruka di genggam oleh seseorang. Haruka mencoba untuk melepaskannya.
"Nona, kami mohon jangan memberontak." Ucap Seseorang itu.
Kedua lengan Haruka digenggam oleh orang-orang itu. Kepala Haruka terasa sangat sakit untung saja dia tidak mati, tadi kepalanya juga sempat terbentur di tembok besi itu.
Darah mengalir perlahan membasahi wajahnya. Kepalanya terasa sakit, nafasnya bergerak tak teratur. Degup jantungnya mulai melemah.
Tak lama mereka pergi, entah apa yang akan terjadi namun Haruka berusaha untuk menguatkan dirinya agar tetap terjaga. Sambil mencengram tangan kanannya dengan kukunya yang agak panjang, Haruka berusaha agar tetap sadar.
"Aku tidak boleh pingsan lagi, aku harus tetap terjaga." Ucap Haruka.
Tak lama Haruka mendengar suara langkah kaki, yang berjalan kearahnya. Dengan segera Haruka membalikkan pandangannya.
Pangeran Iblis menatap Haruka yang terlihat sudah tidak berdaya. Kemudian dia menatap lengan Haruka yang penuh dengan cakaran kuku yang sangat dalam.
"Dia rela menyakiti dirinya sendiri." Dalam batin Pangeran Iblis.
Dengan perlahan pria itu menghampiri Haruka, yang tengah terduduk dikasur. Haruka tak bergeming, pandanganya terlihat dingin, lalu tangan kanan Pangeran Iblis menutupi kedua mata Haruka. Entah apa yang terjadi tubuh Haruka terjatuh dipelukan Pangeran Iblis dengan tak sadarkan diri.
Pangeran Iblis menatap lengan Haruka yang penuh dengan luka.
"Tidurlah, karena saat kau bermimpi semua rasa sakit yang tengah kau alami dikenyataan akan hilang." Ucap Pangeran Iblis.
**
"Hanna!" ucap Kichiro yang berjalan mendekat kearahnya.
Haruka menatap Kichiro yang berada di sebuah taman bunga yang sangatlah indah.
"Kichiro, aku sangat merindukanmu!"
Segera Haruka berlari untuk menghampiri Kichiro, dan memeluknya dengan erat.
"Aku juga." Ucap Kichiro dengan tersenyum menatap wajah Haruka.
Haruka tersenyum senang menatap Kichiro yang berada dihadapannya.