
Haruka kemudian segera mengambil ikat rambut yang tengah berada digenggaman Pangeran Kichiro, segera Haruka berjalan untuk meninggalkan Pangeran Kichiro, saat Pangeran memperhatikan tubuh Haruka dari arah belakang, Pangeran Kichiro tidak akan lagi berpikir bahwa Haruka adalah Hanna, mereka adalah dua orang yang berbeda, Haruka adalah wanita yang sangat lembut, kuat, dan lagi hatinya juga sangat baik. Sedangkan Hanna, dia begitu kasar, keras kepala, angkuh, dan kejam, terlebih lagi Haruka keturunan dari seorang dewi, tentu saja jika Pangeran berpikir mereka adalah orang yang sama berarti dia memang tidaklah mampu untuk melupakan Hanna didalam hatinya.
Haruka yang tengah berjalan untuk meninggalkan Pangeran Kichiro, nampak tengah menggenggam erat ikat rambut yang berada ditelapak tangannya itu, Haruka mulai tersadar mereka hanyalah dua insan yang ditakdirkan hanya untuk saling bertemu, dan mengenal, tapi tidak untuk bersama, dan bersatu. Selamanya mereka hanya akan seperti sepasang sepatu yang hanya mampu berjalan bersama namun tidak akan pernah bersatu.
Sebuah kemustahilan jika Haruka salah meletakkan hatinya kepada seseorang pria. Lalu, apakah ia harus mengambil kembali hati yang sudah dibawa pergi oleh seseorang? Mampukah dia mengambil secara paksa hatinya itu? Atau sanggupkah dia meminta langsung kepada pria itu agar dia mengembalikan hatinya yang sudah dibawa pergi?
Sebuah masalah yang begitu rumit dalam hidupnya, dia sempat bertanya untuk apa pada saat itu waktu mempertemukan dirinya dengan seorang pria yang selamanya tidak akan pernah ia miliki?! Untuk apa waktu memberikan kenangan indah, sampai pada akhirnya Haruka yang harus kecewa?! Untuk apa bertemu dan saling mencintai jika pada akhirnya akan berpisah, tidak akan saling mengenal lagi bahkan akan saling membenci?! Heh, terkadang dunia memang selucu itu kepada penghuninya.
Pangeran Kichiro kemudian segera berjalan untuk menghampiri Haruka, Haruka yang segera melirik ke arah Pangeran Kichiro hanya terdiam tak lama kemudian dia berbicara kepada Pangeran Kichiro.
"Pangeran apakah sudah cukup jalan-jalannya?" tanya Haruka yang segera menatap wajah Pangeran Kichiro.
Pangeran merasa sangat bersalah dengan apa yang telah ia perbuat, Pangeran Kichiro sangat ingin membayar kesalahannya itu terhadap diri Haruka.
"Apa kau masih memiliki sedikit waktu, sampai tengah malam ini saja, aku sebenarnya sangat kesepian saat berada diIstana hm, aku memerlukan seorang teman, aku merasa sangat jenuh dengan semua pekerjaanku." Ucap, Pangeran Kichiro dengan tegas.
Haruka yang mendengar hal itu membuat dirinya berpikir kembali bahwa Pangeran Kichiro memanglah sangat sibuk, bahkan hampir tidak ada waktu walau hanya sebentar. Haruka yang memahami kondisi Pangeran Kichiro membuatnya sangat ingin membantu diri Pangeran Kichiro.
"Baiklah, kali ini kau akan mengajak diriku kemana lagi?" tanya Haruka yang segera menatap wajah Pangeran Kichiro.
Pangeran yang merasa sangat senang karena Haruka menyetujui permintaannya itu, dengan segera Pangeran mengutarakan maksud hatinya.
"Hm... Bagaimana jika kita pergi untuk mencari makanan terlebih dahulu?" ucap, Pangeran Kichiro yang terlihat sangat bersemangat.
"Baiklah." Jawab Haruka yang mengikuti kemauan dari Pangeran Kichiro.
Haruka dan Pangeran kemudian berjalan untuk mencari tempat makan disekitaran Pasar, tak lama kemudian mereka akhirnya menemukan sebuah tempat makan dipersimpangan jalan. Haruka dan Pangeran Kichiro kemudian segera memasuki tempat makan itu, suasana didalam sana terlihat sangat ramai, banyak pengunjung yang datang. Haruka dan Pangeran Kichiro kemudian segera duduk disalah satu meja makan yang masih kosong.
Tak lama kemudian Xiao Chen segera mengepalkan telapak tanganya itu, dan bayangan Haruka juga Pangeran Kichiro hilang Xiao Chen hanya terdiam sambil menatap ke arah langit yang cerah dari balik kaca jendela, Rong yang tengah berada disamping Xiao Chen segera berbicara kepada Tuannya itu.
"Maafkan saya Tuan, saya tidaklah mampu untuk membantah perkataan dari Haruka." Ucap, Rong yang merasa sangat bersalah.
Xiao Chen yang mendengar ucapan dari Rong hanya terdiam tak lama kemudian dia segera menatap diri Rong yang saat itu tengah duduk disamping dirinya.
"Tak apa, kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan, hm biarkan saja dia dengan pria itu, nanti malam tak perlu kau datang untuk menjeput dirinya." Ucap, Xiao Chen yang terlihat sangat dingin.
"Tapi... Tuan?!" Ucap, Rong dengan terkejut.
Xiao Chen yang masih menatap diri Rong segera ia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah jendela kaca untuk melihat langit cerah disiang hari itu.
"Hm, dia itu sangat cerdas Rong, kau pikir dia setuju dengan ucapan dirimu? Biarkan saja dia pergi, karna suatu hari nanti dia pasti aka kembali." Ucap, Xiao Chen dengan terus menatap langit biru.
Di dalam Hutan.
Leo, Norr dan juga Kirana tengah membuat sebuah tempat tinggal untuk dapat membuat mereka nyaman saat berada didalam Hutan, Kirana mengerahkan kekuatannya begitupun juga dengan Norr, hanya dengan peralatan seadanya mereka bekerja secepat mungkin, sebelum hari berganti gelap. Leo yang tengah menyiapkan beberapa buah dan air yang dia ambil dari dalam sungai, sudah tertata rapi diatas semak, dengan menggunakan gelas, juga sebuah mangkuk yang terbuat dari kayu, itu adalah hasil dari tangan Norr.
"Istirahatlah terlebih dahulu, hari masih siang." Ucap, Leo yang berbicara kepada Norr dan Kirana.
Norr yang tengah bekerja nampak tidak menghiraukan ucapan dari Leo, sedangkan Kirana yang mendengarnya segera menghentikan pekerjaannya itu, kemudian dia segera berbicara kepada Norr agar dia juga beristirahat sejenak.
"Cukup Norr, masih ada waktu untuk beristirahat, sebentar saja hanya melepas penat." Ucap, Kirana yang berbicara kepada Norr.
Norr yang mendengar ucapan dar Kirana kemudian dia segera menatap sebuah rumah kayu yang sebentar lagi aka selesai penggarapannya, Norr segera menghentikan pekerjaannya dan membalas ucapan Kirana.
"Baiklah, mari." Ucap, Norr yang menatap wajah Kirana.
Kemudian Norr dan Kirana segera menghampiri Leo yang telah menyediakan makanan untuk mereka santap.
"Huft." Ucap, Kirana yang segera terduduk disamping Leo, sambil mengambil sebuah gelas berisi air yang sudah matang.
Leo yang melihat kedua temannya itu segera dia berbicara kepada Norr dan Kirana.
"Kira-kira mungkinkah Haruka mampu melupakan Pangeran Kichiro, sepertinya itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh seorang wanita?" ucap, Leo yang berbicara kepada temannya itu.
Norr yang baru saja terduduk begitu sangat terkejut dengan pertanyaan dar Leo, Kirana yang tengah minum air didalam gelas kayu, terlihat sangat ingin membalas ucapan dari Leo itu.
"Itu sangatlah sulit, aku tau itu, apalagi dihadapkan dengan dua hal yang harus ia pilih salah satunya, tidak semudah itu seseorang wanita akan mengambil sebuah keputusan tanpa adanya pemikiran yang sudah matang, keputusan yang dia ambil pastilah itu yang terbaik untuk semuanya." Ucap, Kirana yang terlihat sangat tegas dalam berbicara.