Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
Putri Yuri yang kejam.


Sedangkan didalam Istana milik Raja Age, terlihat Putri Yuri tengah membersihkan tubuhnya didalam kolam berisikan air, Putri Yuri memang sempat kesal karena ia masih dapat hidup kembali. Namun, hal itu segera ia kesampingkan karena hari ini ayahnya telah kembali dari Istana Yu. Putri Yuri terlihat begitu sangat senang dengan hal itu, ia berpikir bahwa ayahnya telah berhasil mengalahkan Kaisar Yu dan kini ia pulang dengan membawa sebuah kemenangan. Didalam pemandiannya terlihat ia tengah membersihkan tubuhnya yang putih dan mulus itu, lalu dengan segera Putri Yuri berbicara kepada salah seorang Pelayan Istana yang saat itu tengah menemani dirinya untuk membersihkan tubuhnya itu.


"Hari ini ayahku sudah kembali, dia pasti kembali dengan membawa sebuah kemenangan, dia memanglah ayahku yang sangat hebat, haha...." Ucap, Putri Yuri yang segera menatap ke arah salah satu Pelayannya yang saat itu tengah duduk dibelakang dirinya itu.


Pelayan Istana yang mendengar ucapan dari diri Putri Yuri yang terdengar begitu sangat senang, membuat dirinya tak kuasa menahan tangisnya. Namun, dengan segera Mata yang saat itu tengah berkaca-kaca, segera ia menengadahkan kepalanya untuk dapat menatap ke arah atas, dan berharap air mata yang tengah terbendung diantara kelopak matanya itu, tidak terjatuh sedikitpun, dan membasahi Wajahnya.


Di dalam tempat pemandian, terdapat tiga orang Pelayan Istana yang tengah mendampingi diri Putri Yuri yang tengah membersihkan tubuhnya. Ketiga Pelayan itu hanya terdiam, kemudian salah seorang Pelayan yang tengah berada dibelakang Putri Yuri segera bersuara dengan suara yang sedikit bergetar, bergetar karena takut, jika nantinya nyawanya akan melayang ketika Putri Yuri mengetahui masalah yang sebenarnya tengah terjadi terhadap diri Raja Age.


"Sebaiknya anda segera membersihkan tubuh anda ini Putri, jika anda terlalu lama berada didalam air itu akan merusak kulit bersih anda nantinya." Ucap, salah seorang Pelayan yang tengah berada dibelakang Putri Yuri.


Putri Yuri yang mendengar ucapan dari salah seorang Pelayannya itu, dengan segera ia teringat akan tubuhnya yang sangat putih, bersih dan mulus tanpa cacat sedikitpun itu. Lalu, Putri Yuri segera menatap ke arah kulitnya, segera ia mengangkat lengan kanannya dan sepasang Mata hitamnya itu terus memperhatikan kulit putih nan bersihnya itu.


"Benar juga perkataanmu itu, kulitku ini memanglah begitu sangat cantik bahkan tidak ada satu orangpun yang dapat menandingi kecantikan yang dipancarkan oleh diriku, hahaha." Ucap, Putri Yuri dengan perasaan yang terdengar begitu sangat senang.


Para Pelayan yang mendengar ucapan dari diri Putri Yuri, salah satu Pelayan Istana yang tengah berada ditempat itu, merasa begitu sangat muak dengan semua keangkuhan dari Putri Yuri, namun biar bagaimanapun juga ia harus tetap menjaga sikapnya dihadapan Putri Yuri.


"Dasar Putri sombong, hmh! Teruslah berkata besar, karena sebentar lagi kau akan berhenti untuk tertawa, apakah kau tau ayah yang kau cintai itu sudah tinggal jasadnya saja!" Dalam benak salah seorang Pelayan Wanita yang tengah berdiri disamping Putri Yuri, dengan perasaan kesal.


Putri Yuri kemudian segera menatap salah seorang Pelayan yang tengah berada disamping dirinya itu, dengan tatapan tajam Putri Yuri memperhatikan Pelayan itu, sambil berbicara kepada dirinya.


"Hei kau!" Ucap, Putri Yuri dengan nada bicara membentak.


Pelayan Wanita yang tengah termenung itu dengan segera merasa begitu sangat tersentak, ketika mendengar suara Putri Yuri yang berbicara kepada dirinya dengan nada bicara yang terdengar sangat tinggi.


"A... Hm, i...i... Iya, Putri?" ucap, Pelayan itu dengan perasaan gugup.


Putri Yuri yang tengah menatap Wajah Pelayan itu dengan sinis, terus saja memperhatikan diri Pelayan itu dengan sepasang bola Mata hitam yang sangat tajam itu. Hal itu tentu saja membuat diri Pelayan yang tengah berada disampingnya merasa begitu sangat terkejut, ia ketakutan ketika melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Putri Yuri kepada dirinya itu.


Putri Yuri yang masih menatap Wajah Pelayan itu, dengan segera ia berbicara kepada dirinya sambil mengulurkan lengan kirinya dihadapan Pelayan itu.


"Daripada kau terus memperhatikan diriku seperti itu, lebih baik kau pijat lenganku ini, cepat! Ini sebuah perintah!" Ucap, Putri Yuri dengan kasar.


Pelayan Istana yang mendengar hal itu sungguh merasa begitu sangat terkejut dengan apa yang ia dengar, hampir saja jantungnya berhenti berdegup karena rasa panik, ternyata dugaannya hanyalah kecemasan belaka, Pelayan Istana itu kemudian segera memasang raut Wajah yang begitu manis dihadapan Putri Yuri.


"Baiklah, Putri." Ucap, salah Seorang Pelayan itu yang segera merendahkan tubuhnya.


"Dasar Putri Sialan! Hmh, ternyata memang benar kau hanyalah seorang Putri bodoh yang sangat tidak berguna! Seharusnya hari ini kau sudah ikut ke neraka bersama dengan ayahmu itu, jika bukan karena Tuan Lu, mungkin nasibmu sudah berbeda! Sungguh sangat beruntung sekali! Hmh!" Dalam benak Pelayan itu yang merasa begitu sangat kesal terhadap sikap dari Putri Yuri.


Dengan segera ia menyentuh lengan Putri Yuri, dengan jari-jemarinya, entah disengaja atau tidak Pelayan itu memijat lengan Putri Yuri dengan cukup keras, dan hal itu membuat Putri Yuri merasa sangat marah, ia dengan segera mengangkat lengan kirinya dan dengan cepat ia mendorong tubuh Pelayan itu sampai terjatuh diatas lantai.


"Akh...! Ini sakit bodoh! Dasar Pelayan tidal berguna! Cepat menjauh dari diriku!" Ucap, Putri Yuri dengan perasaan kesalnya terhadap Pelayan itu.


Pelayan yang terjatuh diatas lantai terlihat begitu sangat terkejut ketika Putri Yuri mendorong tubuhnya sampai terhempas begitu saja, dirinya begitu sangat kesal terhadap perbuatan dari Putri Yuri yang selalu semena-mena terhadap dirinya. Tatapannya begitu sangat tajam ketika menatap Wajah Putri Yuri, namun dengan segera ia mengesampingkan perasaan benci yang telah menggondok didalam hatinya itu.


Semua Pelayan Istana yang tengah berada didalam tempat itu seketika terdiam semua, mereka juga begitu sangat ketakutan dengan sikap dari Putri Yuri yang begitu sangat kasar terhadap para Pelayan yang berada didalam Istananya itu.


Cepat, ambilkan pakaianku, aku sudah tidak napsu lagi untuk berendam! Cepat!" Bentak Putri Yuri dengan perasaan kesal terhadap semua Pelayan yang tengah berada didalam tempat itu.


Para Pelayan yang tengah berada didalam pemandian, terlihat begitu sangat cemas dan panik, mereka juga nampak begitu sangat takut akan sikap dari Putri Yuri yang begitu sangat kasar terhadap diri mereka. Salah seorang Pelayan Istana yang telah menyiapkan sebuah Pakaian untuk Putri Yuri kenakan, dengan segera ia berbicara kepada salah seorang Pelayan yang tengah berada disamping dirinya itu untuk membantu Putri Yuri keluar dari dalam air.


"Cepat bantu dia, atau dia akan bersikap kasar lagi terhadap kita semua." Ucapnya dengan berbisik kepada salah seorang Pelayan Istana yang tengah berada disamping dirinya itu.