
Tetapi ia tidak kehabisan akal untuk dapat beralasan, namun semua Pelayan yang berada ditempat itu melihat wajah merah Putri Yuri karena disebabkan oleh gigitan dari serangga.
"Ah, ini karena saya alergi dingin saja Kaisar, didalam kamar pada malam hari terasa begitu sangat dingin." Ucap, Putri Yuri yang terlihat begitu sangat gugup dihadapan Kaisar Yu.
Semua Pelayan Istana yang mendengar alasan dari Putri Yuri, yang terlihat tidaklah masuk diakal semua orang pun tau bahwa bentol merah pada tubuhnya disebabkan karena serangga yang menggigit tubuhnya itu. Kaisar Yu yang mendengar alasan dari Putri Yuri, segera menatap wajah Putri Yuri dengan sedikit curiga, namun dia tidak mempermasalahkan hal semacam itu, karena saat ini yang lebih penting adalah Raja Age harus mampu menemukan kedua Pangeran yang saat ini telah pergi meninggalkan Istana Yu.
"Oh, jadi seperti itu, mintalah kepada Pelayan Istana ini untuk membantu mengobati lukamu, jika perlu panggillah tabib." Ucap, Kasiar Yu dengan raut wajah tegas.
Putri Yuri yang terlihat semakin panik membuat dirinya merasa gugup harus beralasan seperti apalagi terhadap Kaisar Yu, bentol merah yang berada pada tubuhnya memang bukanlah disebabkan oleh alergi melainkan hanya gigitan serangga, sewaktu dia menguping pembicaraan Kaisar dan kedua Pangeran.
"Tidak perlu Kaisar, ini hanya alergi biasa saja, tak lama lagi juga pasti akan sembuh, tidak perlu dirisaukan." Ucap, Putri Yuri yang memandang Kaisar Yu sambil tersenyum kaku dihadapannya.
Kaisar yang mendengar ucapan dari Putri Yuri yang berkata seperti itu membuat dirinya merasa tidak terbebani lagi oleh ulah dari Putri Yuri, meskipun Putri Yuri tengah berbicara dusta dihadapannya, tetapi dia sangat membutuhkan bantuan dari Ayahnya Raja Age, untuk menemukan kedua Pangeran.
"Yasudah jika itu maumu, aku masih banyak kerjaan yang harus aku urus, jika kau membutuhkan apapun, katakan saja kepada Pelayan Istana." Ucap, Kaisar Yu yang terlihat sangat cuek kepada Putri Yuri.
Putri Yuri yang sudah merasakan suasana canggung ditempat itu pada diri Kaisar yang terlihat sangat dingin, dan cuek kepada dirinya, membuatnya merasa sedikit takut, dan gugup saat berhadapan dengan diri Kaisar Yu.
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan diri saya sampai seperti itu Kaisar, saya sudah mengerti bahwa anda memang selalu sibuk setiap waktunya, dan terima kasih atas perhatian anda kepada diri saya." Ucap, Putri Yuri yang segera memberi hormat kepada Kaisar Yu.
Kaisar Yu yang melihat Putri Yuri tengah memberikan hormat kepada dirinya, dia hanya terdiam kemudian Kaisar Yu pergi begitu saja meninggalkan Putri Yuri bersama dengan para Pelayan Istana. Putri Yuri yang melihat sikap dari Kaisar Yu yang terlihat begitu acuh dan dingin kepada dirinya, membuatnya merasa tersisihkan, dan membuat diri Putri Yuri berpikir bahwa yang sebenarnya Kaisar Yu inginkan hanyalah Ayahnya saja, sedangkan dirinya tidak berarti apa-apa bagi Kasiar Yu, dan mungkin saja saat Ayahnya juga sudah tidak berguna lagi bagi Kaisar Yu sudah dapat ia pastikan bahwa Kaisar Yu akan menendang mereka dari Istana Yu. Namun, sebelum hal itu terjadi Putri Yuri dan Raja Age sudah mempersiapkan diri dan mereka juga ingin bekerjasama dengan Kaisar Yu hanya karena ingin mengambil tanah kekuasaan milik Kaisar Yu saat ini.
Semua Pelayan wanita yang tengah berada ditempat itu semua tatapan mata mereka tertuju kepada Putri Yuri, dengan tampang yang bingung dan curiga mengapa Putri Yuri harus berbohong kepada diri Kaisar, bahkan Pelayan wanita yang tengah berada disamping Putri Yuri pun ikut mempermasalahkan hal itu, didalam batin mereka masing-masing, mungkin saja Putri Yuri memilih untuk berbohong kepada diri Kaisar karena ia tengah menyembuhkan sebuah masalah yang harus ia tutup rapag agar Kaisar tidak mengetahuinya.
Putri Yuri yang memperhatikan wajah dari para Pelayan wanita yang tengah memperhatikan dirinya itu, membuatnya merasa sangat tidak nyaman, sehingga Putri Yuri membentak para Pelayan itu, dan memintanya untuk pergi meninggalkan dirinya sendiri.
"Beraninya kalian menatap diriku dengan tampang seperti itu! Pergi dari hadapanku sekarang juga!" Ucap, Putri Yuri yang terlihat begitu sangat kesal.
Para Pelayan yang mendengar ucapan Putri Yuri yang terdengar sangat marah dan tidak suka, membuat mereka yang mendengarnya sangat terkejut, dan merasa takut, dengan segera para Pelayan itu pergi meninggalkan Putri Yuri sendirian.
Putri Yuri yang masih berada didepan kamar Pangeran Rendra merasa sangat kesal, saat ini hidupnya pasti akan jadi sangat menderita karena ia tidak akan pernah tau kapan ayahnya akan segera kembali, dia berpikir demikian karena sikap dari Kaisar Yu yang terlihat begitu acuh kepada dirinya.
"Tak apalah aku yakin ayah pasti akan segera kembali, lagipula aku tidak yakin ayah benar-benar tengah mencari keberadaan para Pangeran." Ucap, Putri Yuri dengan raut wajah liciknya.
Kemudian segera ia pergi untuk meninggalkan tempat itu dan kembali kedalam kamarnya. Sedangkan didalam dapur Istana terlihat begitu sangat ramai, para Pelayan wanita tengah asik membicarakan perkara masalah yang tengah terjadi didalam Istana Yu. Hingga salah seorang Pelayan berceletuk hingga membuat suasana semakin ramai saja.
"Jika kedua Pangeran tidak ditemukan, mungkinkah ini awal dari kehancuran Istana Yu?" ucap, salah seorang Pelayan yang tengah berdiri dihadapan Pelayan lainnya.
Sampai membuat beberapa Pelayan lain ikut ber-asumsi bahwa sebentar lagi Istana Yu akan lengser dari ke digjayaannya. Yuan yang mendengar ucapan dari para Pelayan itu terlihat hanya terdiam tanpa timbul sedikitpun perasaan cemas terhadap Istana Yu, melainkan saat ini yang ia cemaskan adalah bagaimana keadaan dari kedua Pangeran saat ini, mungkinkah mereka akan baik-baik saja saat mendapati hal semacam ini, namun jika ini adalah pilihan yang terbaik untuk kedua Pangeran, Yuan hanya mampu mendoakan keduanya saja, dan juga Yuan sangat berharap Pangeran Kichiro dapat berjumpa dengan Putri Hanna.
"Bagus, Prajurit perang milik Pangeran Kichiro kini berada ditanganku, haha aku dapat mengendalikan semuanya dengan mudah jika semuanya terus seperti ini." Dalam benak Raja Age yang merasa sangat puas diri.
Sedangkan pagi hari didalam hutan, terlihat Pangeran Rendra tengah berjalan dengan perasaan kecewanya terhadap Kaisar Yu, dirinya telah terpisah oleh Pangeran Kichiro, mungkin mereka akan mengambil jalan hidup mereka masing-masing, lagipula mereka bukanlah saudara kandung, jadi apapun jalan yang mereka pilih saat ini, itu akan menjadi jalan terbaik bagi mereka.
Mentari pagi sudah terlihat dari ufuk barat, menyinari tubuh Pangeran Kichiro yang tengah berada didepan sebuah rumah kayu buatannya dahulu pada saat masih berusia remaja. Tempat itu juga adalah tempat pertama yang ia tunjukkan kepada diri Putri Hanna, pada saat ia terluka, tempat pertama mereka saling bercerita. Pangeran Kichiro kemudian berjalan untuk menghampiri rumah kayu itu, ia berjalan untuk memasuki rumah kayu miliknya, dengan perlahan Pangeran Kichiro menggenggam daun pintu, dan membukanya perlahan, sinar dari Mentari pagi memasuki rumah kayu miliknya, dengan segera rumah yang terlihat gelap itu terlihat begitu sangat terang karena sinar Mentari pagi yang tengah memasuki rumahnya.
Pangeran Kichiro kemudian berjalan untuk memasuki rumahnya dengan semakin dalam, Pangeran Kichiro kemudian terduduk diatas kursi panjang yang berada disamping kanannya itu. Saat Pangeran Kichiro tengah termenung entah mengapa pikirannya terbayang oleh Haruka pada saat ia tengah berada didekat Danau bersama dengan wanita itu.
"Mengapa aku jadi sangat merindukan dirinya, sedang apa ia saat ini? Dimana ia tinggal? Hm, mengapa pada saat itu aku tidak bertanya kepada dirinya?" ucap, Pangeran Kichiro dalam renungannya.
Tak lama kemudian Pangeran Kichiro segera mengingat ucapan dari Haruka, Pangeran mulai tersadar hatinya sudah merasa goyah, karena kesetiaannya kepada Putri Hanna patut ia pertanyakan. Yang membuat diri Pangeran merasa amat bingung adalah sejak awal pertemuan mereka berdua Pangeran sudah merasakan suatu hal yang begitu sangat tidak biasa pada diri Haruka, tetapi saat dia melihat wanita lain rasanya tidaklah sama. Mungkinkah saat ini ia telah jatuh hati kembali pada seorang wanita yang belum lama ia jumpai itu?? Mungkinkah Haruk mampu mengisi kekosongan hati dari dirinya?
"Haruka... Bisakah kita berjumpa kembali, jika Dewa berkehendak, maka takdir akan berbicara." Ucap, Pangeran Kichiro yang tengah memandang ke arah depan.
\*°°^°°\*
Pagi hari ditengah hutan, terlihat rumah kayu yang begitu sangat terang saat sudah disentuh oleh sinar dari Mentari pagi. Haruka yang tengah tertidur didalam kamarnya, segera membuka kedua matanya yang tengah terpejam dengan perlahan, sinar dari Mentari pagi telah menyentuh wajahnya, sehingga silaunya membangunkan diri Haruka, kehangatan dari Mentari pagi, menghilangkan suasana dingin didalam hutan, Haruka kemudian segera duduk diatas kasurnya, sambil mengangkat kedua lengannya, Haruka kemudian segera merapikan rambut panjangnya itu, kemudian sepasang matanya tertuju pada sebuah ikat rambut, tali pita, dan juga pin rambut yang waktu itu diberikan oleh Pangeran Kichiro untuk dirinya.
Haruka kemudian mengambil tali pita segera ia mengikat rambutnya separuh hingga membentuk sebuah gulungan rambut berbentuk bunga mawar, tangan kanannya kemudian segera meraih sebuah pin kupu-kupu yang kemudian dia lekatkan pada rambutnya itu. Haruka kemudian segera terbangun dari duduknya, dan berjalan untuk dapat keluar dari dalam kamarnya itu.
Haruka kemudian membuka dengan perlahan pintu kamarnya, segera ia menarik pintu kamar itu, dan berjalan untuk dapat keluar dari dalam kamarnya. Haruka kemudian menghentikan langkahnya sejenak, sepasang matanya kemudian tertuju pada kedua kamar, salah satunya milik Norr, dan Putri Kirana, yang masih tertutup. Haruka yang berpikir bahwa mereka belum terbangun, membuat diri Haruka segera pergi untuk meninggalkan rumah kayu, dan mencari sebuah sungai yang akan ia pergunakan untuk membersihkan diri.
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya Haruka dapat menemukan sebuah sungai dengan air yang mengalir dengan sangat jernih. Kemudian saat Haruka mengingat kembali hutan itu entah mengapa terlihat sangatlah tidak asing untuk dirinya.
"Sepertinya aku pernah melihat hutan ini, hmm... Sudahlah." Ucap, Haruka yang segera tidak memperdulikannya lagi.
Kemudian saat Haruka menatap ke arah sungai entah mengapa perasaannya begitu sangat senang, dengan segera Haruka melepaskan pakaiannya, dan menyimpannya dibalik semak-semak agar tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, tanpa pikir panjang lagi Haruka pun memasukkan tubuhnya kedalam air yang sangat jernih itu.
Pangeran Kichiro yang merasa sangat haus, memutuskan untuk mencari sebuah sungai, yang akan ia pergunakan hanya untuk sekedar mambasuh wajah, dan menghilangkan dahaganya.
Pangeran Kichiro yang sudah mengetahui seluk beluk dari hutan yang sudah sangat lama ia kenali itu, membuatnya begitu sangat mudah untuk menemukan sungai.
"Akhirnya." Ucap, Pangeran Kichiro yang menatap ke arah sungai yang begitu jernih itu.
Pangeran Kichiro kemudian segera menghampiri sungai itu dengan sangat dekat, saat Pangeran tengah mengambil sedikit air didalam kedua lengannya itu, dia segera meminumnya. Tetapi, Pangeran kemudian menghentikannya saat mencium aroma dari air sungai itu yang begitu sangat wangi.
"Hm... Wanginya." Ucap, Pangeran Kichiro yang segera membasuh wajahnya dengan air sungai itu.