
Keesokan harinya didalam Gubuk tengah Hutan. Haruka terbangun dari tidurnya karena sorot mentari yang menyilaukan matanya, mentari pagi telah kembali dari peristirahatannya, dia nampak berdiri diatas langit cerah berwarna biru. Sinarnya memasuki celah jendela yang setengah tidak tertutup kain biru itu.
Kemudian Haruka dengan cepat terduduk diatas Kasurnya. Dia sedikit melirik kearah kanan, dilihatnya Kirana yang masih tertidur pulas disampingnya. Rambut panjang, nan indah itu nampak sedikit berantakan. Wajah malas karena dia baru saja bangun dari tidur nampak jelas darinya.
Haruka kemudian tidak membuang waktu untuk segera bergegas keluar dari dalam kamar itu. Namun sebelum itu dia tak sengaja melirik kearah samping terlihat sebuah sisir yang terbuat dari bongkahan kayu dengan warna cokelat tak lupa terlihat sebuah ukiran yang amat indah disampingnya, tengah berada disamping kasur Haruka.
Haruka segera meraih sisir itu dengan tangan kanannya, dia kemudian menoleh kearah Kirana sambil menggenggam sisir yang berada di tangannya.
"Sisir yang amat indah, hmm aku tidak percaya jika dia yang membuatnya." Ucap Haruka dengan wajah tidak perdulinya.
Dengan perlahan dia segera menyisirkan rambut hitam nan panjangnya dengan sisir itu. Setelah selesai Haruka segera mengikat rambutnya, dengan menggulung rambut panjangnya itu. Tak lama Kirana terbangun dari tidurnya, dilihatnya Haruka tengah menggulung rambut yang amat panjang dan hitam.
"Kau sudah bangun?" ucap Kirana yang segera mengangkat tubuhnya untuk dapat duduk disamping Haruka.
"Ya." Jawab Haruka yang masih berusaha untuk mengikat rambutnya.
Kirana nampak tersenyum tipis melihat apa yang tengah Haruka lakukan.
"Sini biar aku bantu." Ucap Kirana yang segera meraih rambut Haruka.
Haruka nampak terkejut, hanya terdiam lalu segera ia melepaskan tangannya.
"Oh, ya darimana kau dapatkan sisir ini?" tanya Haruka sambil memperlihatkan sisir yang tadi berada disampingnya, dengan tangan kiri yang tengah menggenggam sisir itu.
Kirana sedikit melirik kearah sisir yang tengah digenggam oleh Haruka.
"Oh itu, itu adalah sisir peninggalan ibuku, aku selalu membawanya kemanapun aku pergi." Balas Kirana yang masih tengah mengikat rambut Haruka.
"Sebentar lagi." Ucap Kirana yang kemudian tangan kanannya menarik sebuah karet gelang berwarna biru dari rambutnya.
Dia mengikatkannya pada rambut Haruka. Haruka nampak bingung, darimana Kirana bisa mendapatkan karet gelang itu.
"Jika kau membarikannya kepadaku, lalu apa yang kau kenakan?" tanya Haruka.
"Tenang saja, aku selalu mengikat rambutku dengan dua karet gelang, sudah selesai." Ucap Kirana yang telah usai mengikat rambut Haruka.
Kemudian Haruka memalingkan pandangannya kearah belakang, dia menatap diri Kirana yang nampak terlihat lebih dewasa darinya. Dia sangatlah pantas jika menjadi seorang kakak bagi Haruka.
"Pagi ini aku sangat ingin berendam, apa tempat ini tidak jauh dari sungai?" tanya Haruka.
"Iya, kita akan pergi kesana bersama-sama." Balas Kirana dengan senyum manisnya.
Itu adalah untuk pertama kali Haruka melihat sebuah senyuman yang nampak tulus dari Kirana, selama ini dia selalu melihat Kirana dengan wajah kaku dan dinginnya, namun hari ini Haruka sangat tidak menyangka dapat menyaksikan seyuman yang indah itu.
"Baiklah." Jawab Haruka sambil tersenyum tipis memandang wajah Kirana yang berada dihadapannya itu.
Diluar Gubuk nampak Leo dan Norr tengah berbincang, entah apa yang mereka bicarakan karena tak lama kemudian Haruka dan Kirana keluar dari dalam Gubuk. Leo yang tidak sengaja melirik kearah Gubuk kemudian sedikit menjauh dari Norr, Norr yang menyadari perubahan sikap dari Leo kemudian dia segera menoleh kearah belakang dilihatnya Haruka dan Kirana tengah berdiri diluar Gubuk.
"Pagi ini aku akan pergi kesungai bersama Kirana, kalian baik-baik disini. Mengerti?!" ucap Haruka dengan memasang wajah dinginnya kepada Norr dan Leo.
"Aku ini bukan seorang anak kecil lagi Nona, tidak perlu menghawatirkanku. Lebih baik kau yang terus berwaspada, kita tidak pernah tau kapan musuh akan datang untuk menyerang." Ucap Norr yang memperhatikan Haruka juga Kirana yang berada di depannya.