
Rasa bimbang menyelimuti hatinya, resah, takut, bersalah menghantui dirinya. Bukan tanpa alasan dia menjauh dari Kichiro, ia hanya tidak ingin berjumpa lagi dengan pria itu, mungkin seharusnya mereka tidak pernah bertemu tidak pernah saling mengenal, dan tidak pernah saling perduli mungkin itu akan sangat berbeda, berpura pura setiap waktu memang sangat menyiksa batinnya. Semakin ia berlari untuk terus menjauh hatinya selalu memberontak untuk tetap kembali.
"Waktu memang tidak pernah salah, hadirmu juga tidak pernah salah, yang salah itu diriku, yang salah itu rasa cinta kita, seharusnya saat ini kau hidup bahagia bersama Hanna, wanita yang lebih layak untuk bersanding dengan dirimu, bukan diriku yang hanyalah sebuah alat pembalas dendam Hanna, sebuah alat yang tidak layak untuk dirimu, aku hanya tidak ingin membebani dirimu, aku tidaklah mau!" Dalam benak Haruka yang tengah menangis dalam diam.
Rasa Cinta dan benci adalah sebuah garis lurus yang saling berdampingan, perbandingan yang cukup tipis bahkan tidak dapat dipisahkan. Rasa bersalah kini telah menghantui hidup Haruka, dia tidaklah pernah membenci Kichiro namun, banyak hal yang membuatnya berpikir untuk pergi itu lebih baik daripada harus tetap bersama orang yang dikasihi namun hidupnya akan jauh lebih sengsara.
Haruka mengerti bagaimana beban yang dipukul oleh Kichiro yang sangat besar, kali ini bukan rasa gengsi tapi karena dia sangat mencintai Kichiro, pergi adalah jalan terbaik untuk keduanya, Haruka hanya berpikir secara logis saja dia yang telah membunuh sepupu dan ibu dari Kichiro, sudah dapat ia pastikan Kichiro akan membunuhnya karena hal itu, terlebih lagi Kichiro adalah seorang Pangeran yang seharusnya patuh akan perintah dari Kaisar, karena jika bukan kepada Kaisar dia menghormati lalu diperuntukkan kepada siapa rasa hormatnya itu. Karena seburuk-buruknya orang tua, seorang anak harus tetap patuh dan menaati setiap perintahnya, karena Haruka tau semua yang Kaisar Yu lakukan itu hanya demi kebahagian Kichiro.
Haruka yang sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua merasa sangat bersalah karenanya yang nakal, sifatnya yang buruk malah membuat Kichiro yang semula adalah seorang anak penurut menjadi pembangkang.
Haruka sungguh terlalu banyak berpikir, dalam diamnya dia tengah melindungi, dalam keangkuhannya sebenarnya ia tengah memperhatikan.
"Hah, kepalaku pusing sekali." Ucap, Haruka yang segera menurunkan kedua tangannya, lalu dia segera menoleh ke arah belakang dilihatnya sebuah bantal namun, sepertinya ia sudah tidak merasa kantuk lagi.
Haruka kemudian segera menarik selimut dan membuangnya, ia kemudian berjalan untuk menatap langit malam dari balik jendela kaca yang besar. Haruka mengamati ribuan bintang dari dalam kamarnya.
Malam Hari didalam hutan.
Setelah mereka istirahat sejenak, dan juga telah menghabiskan beberapa buah Norr segera menatap diri Leo yang masih terjaga. Norr yang saat itu tengah berada disamping Kirana dengan segera dia berjalan perlahan untuk menghampiri Leo yang tengah berada tidak terlalu jauh dari api unggun yang tadi telah ia buat.
"Leo?" ucap, Norr yang segera mendekati diri Leo.
Leo yang tengah meringkukkan tubuhnya segera ia menatap wajah Norr.
"Ada apa?" tanya Leo.
"Bagaimana jika malam ini juga kita segera melanjutkan perjalanan?" ucap, Norr dengan tegas.
Leo yang mendendengarnya kemudian segera menatap ke arah Kirana yang masih tertidur dengan lelap.
"Kau yakin?" tanya Leo.
"Iya, aku begitu sangat mengkhawatirkan Haruka, apakah kau tidak?" tanya Norr dengan tegas.
"Hm, mustahil jika aku berkata tidak, tapi bagaimana dengan Kirana, apakah kau tega untuk kembangunkannya?" tanya Leo yang segera menatap wajah Norr.
"Emh, aku sudah terjaga, jika ingin melanjutkan perjalanan aku siap, tubuhku juga sudah terasa jauh lebih baik." Ucap, Kirana.
Norr dan Leo yang tengah berbincang nampak terkejut dengan suara dari Kirana. Lalu keduanya saling menatap wajah Kirana.
"Bagus, kalau begitu mari kita pergi." Ucap, Norr yang segera mengubah dirinya menjadi seekor burung besar dihadapan Leo dan Kirana.
Kirana, dan Leo yang melihat hal itu kemudian mereka segera terbangun Kirana yang saat itu tengah berselimutkan jubah Norr, segera meraih jubah itu dan mengangkatnya. Kirana kemudian segera terbangun dan berjalan untuk mendekati Norr, segera Leo mengangkat tubuhnya, saat Kirana telah menunggangi tubuh Norr, Norr segera membentangkan sayapnya dan terbang keangkasa. Leo yang melihat hal itu segera mengikuti dari belakang, apu unggun yang telah mereka tinggalkan kemudian segera padam. Suasana didalam hutan kembali menjadi gelap.
Malam itu sangat dingin didalam Istana Yu, tepatnya ditaman Putri Yuri tengah melatih diri. Sedangkan Pangeran Kichiro yang tengah tertidur didalam kamarnya dengan sangat lelap.
Saat Putri Yuri tengah berlatih seseorang tengah memperhatikan dirinya dari atap Istana, pria itu tengah mengenakan penutup wajah. Putri Yuri kemudian segera melirik ke arah belakang sambil tersenyum tipis.
"Keluarlah." Ucap, Putri Yuri dengan tegas.
Dengan segera pria dengan penutup wajah itu segera mendaratkan diri tepat dibelakang Putri Yuri, Putri Yuri kemudian segera membalikkan tubuhnya dia melihat seorang pria yang tengah berdiri dihadapannya.
"Lama tidak berjumpa." Ucap, Putri Yuri dengan tersenyum pada pria itu.
Kemudian pria itu segera membuka penutup wajahnya dan menatap wajah Putri Yuri dengan senyuman diwajahnya. Putri Yuri kemudian segera mendekati pria itu, sambil tersenyum kepadanya. Pria itu dengan segera menggerakkan tangannya lalu dengan segera pria itu memeluk tubuh Putri Yuri.
"Sampai kapan kau akan terus berpura-pura seperti ini?" ucap, pria itu.
Putri Yuri yang mendengar ucapan dari pri yang tengah memeluknya itu, segera mengalunkan kedua lengannya dipundak pria itu.
"Sabarlah sedikit saja, setelah ayahku dapat menguasai seluruh Istana Yu dan semua yang dimiliki oleh Kaisar, maka aku akan kembali pada dirimu, kau tunggu saja." Ucap, Putri Yuri dengan tersenyum licik pada kekasihnya itu.
Pria itu kemudian tersenyum puas saat mendengar ucapan dari Putri Yuri, dia merasa amat tenang, kemudian pria itu tersenyum licik saat memandang wajah Putri Yuri.
"Hm, baiklah tapi ingat jangan pernah kau biarkan Pangeran itu menyentuh tubuhmu, ingat hanya diriku yang berhak untuk melakukannya kepadamu." Ucap, pria itu yang semakin mendekatkan wajahnya pada putri Yuri.
"Tentu saja, diriku ini adalah milikmu." Ucap, Putri Yuri yang segera mendekatkan wajahnya pada pria itu.
Tak lama angin malam berhembus sampai membuka jendela Pangeran Kichiro, Pangeran yang merasa kedinginan segera membuka matanya dan terbangun, Pangeran Kichiro kemudian menatap jendela yang terbuka itu, dengan perlahan ia segera terduduk dan berjalan untuk menutup kembali jendelanya yang terbuka. Pangeran Kichiro melangkah dengan perlahan lalu dia segera menyentuh jendela dengan kedua lengannya. Saat Pangeran menatap ke arah luar jendela dia melihat sebuah pemandangan yang menjijikkan didepan matanya. Segera Pangeran menutup jendela kacanya itu dan berjalan kembali untuk tidur.