Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
128


Tak lama dari kejauhan Hanna melihat Permaisuri Ayunian dan Amuya yang tengah berdiri didekat hutan. Hanna segera menghampiri mereka dengan langkah cepat dia meloncati dahan pohon satu demi satu.


Dap..


Hanna memijakkan kakinya ke tanah yang ditumbuhi rumput hijau yang tidak terlalu tinggi. Dia berdiri dihadapan Permaisuri Ayunian dengan tatapan dingin.


Permaisuri dan Kakanya sungguh terkejut saat melihat Hanna yang sudah berada dihadapan mereka.


"Hanna!." Ucap Permaisuri Ayunian dengan panik.


Tanpa sepatah kata yang terucap dari mulut Hanna. Dia dengan perlahan mendekat ke arah Permaisuri dan Amuya. Kedua orang itu segera berjalan mundur kebelakang dengan perasaan sanga ketakutan.


"Hanna! Sadarlah." Bentak Amuya dengan panik.


"Hanna, kami ini keluargamu! Apa setega itukah dirimu untuk membunuh kami?!."


Hanna memandang wajah Amuya yang nampak ketakutan. Terlebih lagi Hanna sudah mengeluarkan kekuatannya yang berada di pedang pusaka. Amuya terus memperhatikan pedang yang tengah digenggam oleh Hanna dengan cahaya biru yang menyelimutinya.


"Hmm, kenapa?! Disaat aka mati baru berkata kita ini saudara!! Aku beritau ya padamu, seumur hidup aku tidak pernah memiliki keluarga seperti kalian!." Ucap Hanna dengan tegas.


"Kau...!." Dengan terkejut Amuya tidak menyangka Hanna akan menjadi seperti ini.


Dari atas langit Pangeran Iblis tengah melihat-lihat suasana hutan. Tanpa disadarinya dia melihat Hanna dan Kedua wanita terlihat tengah berdebat.


"Hmm... Sepertinya ini cukup menarik." Ucapnya dengan senyum sinis.


Hanna yang sudah bersiap untuk membunuh kedua wanita itu tanpa pikir panjang dia segera mengangkat pedangnya. Hal itu membuat Permaisuri Ayunian dan Amuya terkejut takut segera mereka memejamkan kedua mata dan berteriak sekencang mungkin.


Saat Hanna akan menebaskan pedangnya kepada Permaisuri Ayunian dan Amuya sebuah sinar berwarna hitam mengarah kewajahnya. Dan membuat Hanna melangkah mundur kebelakang, sinar itu mengenai kedua matanya rasanya perih dan panas. Hanna menutup kedua matanya dan darah merah mengalir perlahan membasahi pipi Hanna.


Hal itu membuat Permaisuri Ayunian dan Amuya terkejut entah siapa yang telah membantunya. Namun tak lama seseorang dengan mengenakan pakaian berwarna hitam menginjakkan kakinya ketanah.


Permaisuri Ayunian dan Amuya menengok kebelakang ternyata itu adalah pangeran Iblis.


"Ini... Aku sudah terkena racun, siapa dia!!." Dalam benak Hanna.


"Hai Hanna, kita berjumpa lagi. Tidak disangka bukan." Ucap Pangeran Iblis.


Hanna hanya terdiam kemudian dia menggenggam erat pedangnya dan mencoba untuk bertahan.


"Ini tidak ada urusannya dengan dirimu!!." Ucap Hanna kesal.


"Hahaha... Selagi itu tentang dirimu maka semua urusanmu juga urusanku." Ucap Pangeran Iblis.


Permaisuri Ayunian dan Amuya merasa sangat lega, akhirnya ada seseorang yang membantu mereka. Denga perlahan Kedua wanita itu berjalan untuk meninggalkan Hanna dan pangeran Iblis.


Pangeran Iblis kemudian menatap kedua wanita itu dengan senyum sinis dia segera mengeluarkan kekuatannya dan diarahakan kepada Ayunian dan Amuya.


"Oh tidak semudah itu." Ucap Pangeran Iblis.


Permaisuri Ayunian dan Amuya terkejut mendengar ucapan dari Pangeran Iblis, tak lama tubuh mereka terasa sangat sakit kekuatan Pangeran Iblis meremukkan tubuh Amuya dan Bundanya.


"Aaaaahhh....!."


Suara teriakan dari keduanya menggema di telinga Hanna, dia tidak tau apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Iblis.


Tak lama tubuh Permaisuri Ayunian dan Amuya hangus seperti disambar petir. Suara teriakan itu dengan perlahan menghilang.


"Apa yang sudah kau lakukan?!." Ucap Hanna dengan suasana hati marah.


"Aku tengah membantumu untuk membunuh kedua orang yang telah mengganggumu. Sayang." Ucap Pangeran Iblis dengan tersenyum licik.


Hanna merasakan ketidakberesan pada Pangeran Iblis. Dengan cepat Hanna mengangkat Pedang Pusakanya dengan perasaan marah Hanna kepada Pangeran Iblis.


"Apa maumu!." Bentak Hanna.