Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
151


Norr pun segera menoleh kearah bulan, yang tengah berdiri tegap di singgahsananya. Tak lama malam menjadi berkabut, bulan yang terang tertutup oleh gelapnya malam. Kirana yang tengah keluar dari dalam kamar, tak sengaja menatap kearah pintu yang masih terbuka.


"Pantas saja sangat dingin, siapa yang tengah berada diluar, malam-malam begini." Ucap Kirana sambil berjalan kearah pintu itu.


Angin dimalam itu amatlah kencang, suasana dingin nan gelap didalam hutan, Kirana segera melirik kearah samping kanan, dia melihat tubuh Norr yang nampak gagah dari belakang.


"Apa yang tengah kau lakukan diluar sini?" tanya Kirana yang menatap kearah Norr.


"Aku hanya sedang melihat bulan." Ucap, Norr.


Kemudian Kirana menatap keatas langit yang terlihat mendung dan gelap, tanpa adanya bulan dan bintang.


"Bulan?" "Apa kau bercanda, tidak ada bulan disana?!" "Segeralah masuk, angin malam tidaklah baik untuk tubuh." Ucap Kirana yang menatap kearah Norr dengan perasaan agak bingung.


"Dia hanya bersembunyi dibalik kabut gelap." Balas Norr yang kemudian dia segera berbalik dan berjalan kearah Kirana.


Kirana memandang wajah Norr yang agak dekat dengannya, kemudian Kirana menunjukkan wajah dinginnya pada Norr.


"Cepat, kembali ketempatmu." Ucap Kirana yang nampak tak begitu perduli.


"Baik, baiklah, oh ya Kirana jangan lupa untuk beristirahat juga, karena berpura-pura tegar itu amatlah melelahkan." Ucap Norr yang segera melewati tubuh Kirana, kemudian Norr berjalan menuju kursi panjang dia segera membaringkan tubuhnya.


Kirana yang terkejut saat mendengar ucapan Norr, kemudian dia memasang wajah dingin nan cueknya.


"Oh iya, dimana Harimaumu?" tanya Kirana tanpa menoleh kearah Norr.


Norr yang tengah terpejam kemudian segera menjawab tanya Kirana tanpa membuka matanya.


"Dia tidak suka berada didalam rumah, pasti saat ini dia tengah tidur didalam hutan." Jawab Norr yang kemudian memiringkan tubuhnya.


Tak lama Kirana segera menghentikan langkahnya.


"Hm, hey Norr." Ucap Kirana.


"Hmm?" jawab Norr yang masih tidak ingin membuka matanya.


"Kau tak apa, tidur tanpa beralaskan apapun?" ucap Kirana.


"Ya, tidak perlu mengkhawatirkanku, semua ini sudah biasa bagiku, cepat pergilah kekamarmu, Haruka pasti sudah tertidur sangat lelap." Ucap, Norr.


Kirana yang mendengar hal itu. Kemudian dia pun berbegas meninggalkan Norr, dan berjalan untuk memasuki kamarnya.


Norr yang mendengar suara langkah kaki Kirana yang semakin menjauh, kemudian Norr segera memalingkan tubuhnya, dan membuka kedua matanya.


"Huh, bisakah kalian berkata sejujurnya saja kepada diriku, mengapa harus berpura-pura lagi jika sudah tidak sanggup, dasar wanita selalu saja begitu, lain dimulut lain dihati." Ucap Norr yang kemudian segera terpejam lagi.


"Huh, sudahlah lebih baik aku tidur saja, bermimpi, mari bermimpi." Ucap Norr yang mendengkur.


Didalam kamar yang terlihat sangat kecil, dengan kasur tipis yang menjadi alasnya, Kirana menatap Haruka yang tengah tertidur lelap disana, segera Kirana menghampiri sisi kasur sebelah kiri. Dia terduduk sambil merenungkan sesuatu.


"Ayah, Ibu aku berjanji padamu akan menuntut balas atas perlakuan yang amat tidak adil dari keluarga Yu terhadap kalian." Dalam benak Kirana dengan wajah bencinya.


Kemudian Kirana segera memalingkan wajahnya untuk melihat kearah Haruka yang tengah tertidur pulas disampingnya.


"Harapanku satu-satunya terletak pada dirimu, kumohon jangan kecewakan aku Haruka, bukankah selama aku membantumu kau pasti akan membalasnya bukan?" dalam benak Kirana dengan tersenyum tipis menatap kearah Haruka yang tengah tertidur lelap sambil membelakangi tubuh Kirana.