Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
124


Hanna yang tengah bediri dihadapan Kaisar Lin dengan hati yang sudah terlalu sakit. Penghianatan yang diterima olehnya dengan cuma-cuma. Sungguh tidak disangka Ayah yang selama ini dia jadikan semangat untuk menuntut keadilan ternyata menghianatinya. Hati siapa yang tak marah? Hati siapa yang tak luka, diri siapa yang telah dibohongi?!.


Saat ini tekad Hanna sangat mantap dia tidak berpikir siapa yang tengah dihadapinya. Tidak dihargai, tidak diperdulikan itu yang Hanna rasakan selama ini. Bertahan dengan diri sendiri tidak memiliki sandaran, berjuang sendirian. Siapa yang akan terima dengan hal itu?! Siapa yang akan sanggup dengan ketidakadilan itu!.


"Bagus! Sekarang aku mengerti kalian semua memang sudah sepatutnya untuk mati!!." Ucap Hanna dengan tatapan membunuh.


Tubuhnya dipenuhi sinar berwarna biru, angin berhembus dengan kencangnya membuat seluruh orang yang berada ditempat itu sangat ketakutan. Hawa dingin sampai menusuk tulang, bahkan Kaisar Lin saja nampak terbelalak melihat kedahsyatan dari pedang Hanna.


"Kekuatan macam apa itu!." Gumam Kaisar Lin dengan sedikit cemas.


Para Siluman yang tengah mengelilingi Hanna seketika terlihat sangat takut begitu melihat wajah Hanna yang sangat menakutkan.


Norr yang tengag bertarung dengan Raja Satoru nampak terkejut dengan kekuatan Hanna yang dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya.


"Luar biasa?! Tidak disangka Hanna dapat kemiliki kekuatan sedasyat itu!."


"Kenapa hanya terdiam? Bukankah tadi kalian sudah menantang diriku!." Ucap Hanna dingin.


Cahaya petir memenuhi pedang pusakanya dengan sekali tebas beberapa Siluman itu menghilang dari tempatnya. Sontak membuat semua orang yang melihat kejadian itu merasa sangat ketakutan.


Hanna mengangkat pedangnya tepat dihadapan Kaisar Lin wajahnya bukan lagi Hanna yang biasanya. Kekuatan batu perak sudah mendarah daging dalam tubuhnya kekuatan itu bersatu dengan Pedang pusaka sehingga muncul lah kekuatan yang amat dasyat.


"Akan kubuat tempat ini menjadi lautan darah!." Ucap Hanna dengan dingin.


Kaisar Lin segera mengeluarkan sebuah panah emas dengan mengangkat tangan kirinya keatas langit seketika sinar berwarna merah memenuhi tangannya. Dan tak lama sebuah panah beserta busurnya yang besar tengah berada digenggamannya.


"Kau yang akan mati dasar anak sialan!." Bentak Kaisar Lin.


Dengan cepat Kaisar Lin mengarahkan anak panahnya kearah Hanna. Wanita itu hanya memperhatikan anak panah yang melesat kearahnya dengan cepat. Tatapan tajam setajam penglihatan Elang Hanna menghindar dengan perlahan dari panah itu. Kemudian dia melirik kearah belakang saat panah itu menancap di tembok Istana yang kemudian retak dengan mudahnya.


Kaisar Lin terlihat sangat gugup melihat hal itu. Selama ini tidak ada satu pun orang yang dapat lolos dari bidikannya namun tidak disangka Hanna menghindar dengan mudahnya.


"Siapa dia sebenarnya!." Dalam benak Kaisar Lin dengan cemas.


Raja Satoru yang melihatnya nampak tercengang baru kali ini ada seseorang yang dapat menghindari bidikan dari panah emas. Dan lagi orang itu hanyalah seorang anak kecil seperti Hanna.


"Siapa kau sebenarnya Hanna!." Dalam benak Raja Satoru.