
Hari itu langit tampak begitu amat cerah, Putri Hanna terus memandangi Wajah Pangeran Kichiro yang ketika itu tengah termenung seakan tengah memikirkan suatu hal yang begitu sangat penting dalam dirinya.
"Hm... Bukankah kita harus pergi dari tempat ini?" ucap, Putri Hanna dengan sedikit gugup ketika memandang Wajah Pangeran Kichiro.
Pangeran Kichiro segera memalingkan pandangannya untuk dapat menatap seekor Kuda yang tengah berhasil ia bawakan untuk Putri Hanna.
"Aku sudah membawakannya untuk dirimu, dia baik-baik saja." Ucap, Pangeran Kichiro dengan segera menatap kembali Wajah Putri Hanna.
Putri Hanna sedikit melirik ke arah Kuda putih yang tengah memakan rumput hijau, ia terdiam sejenak, kemudian dia tersenyum tipis menatap Wajah Pangeran Kichiro. Putri Kirana, Leo dan juga Norr segera menghampiri Putri Hanna dan Pangeran Kichiro. Putri Hanna menatap ketiganya yang tengah memandangi dirinya.
"Hanna, terima kasih untuk segalanya." Ucap, Putri Kirana yang segera menghampiri Putri Hanna.
Putri Hanna terkejut ketika mendengar perkataan dari Wanita itu, kemudian Putri Hanna menggigit bibir bawahnya dengan perlahan, ia kemudian menatap Wajah mereka semua satu persatu. Terlihat Putri Kirana tersenyum manis kepada dirinya, Norr juga Leo, saat ia melirik ke arah Pangeran Kichiro betapa terkejutnya ia ketika melihat senyuman itu tampak sangat tulus, dan selayaknya senyuman itu bukan diberikan kepada dirinya, tetapi pada Haruka.
"Aku tak kuat lagi, bagaimana caranya agar membuat mereka sadar? Dan kembali mengingat Haruka? Hanna, apa yang telah kau lakukan?! Sebenarnya ini kehidupan untukku atau untuknya?" dalam benak Putri Hanna yang segera menundukkan kepalanya.
"Hanna, ada apa?" tanya, Putri Kirana yang segera mengulurkan lengan kanannya untuk dapat diraih oleh Putri Hanna.
Putri Hanna yang segera tersadar, dengan cepat ia tersenyum manis dihadapan Putri Kirana, sambil mengulurkan lengan kanannya agar dapat menggenggam lengan kanan Putri Kirana.
"Tak apa, aku tak apa." Jawab, Putri Hanna yang segera bangkit dari duduknya.
Cring....
Pangeran Kichiro yang tak sengaja menatap gelang kaki milik Putri Hanna berdenting ketika ia berjalan untuk dapat mendekati Putri Kirana, membuat Pangeran Kichiro teringat akan suatu hal. Sebuah pergelangan kaki yang putih polos tanpa adanya perhiasan yang menghiasi, Pangeran Kichiro kemudian menatap rambut panjang Putri Hanna yang saat itu terikat, sedangkan didalam ingatannya yang tiba-tiba saja muncul terlihat rambut panjang hitam terurai. Pangeran dibuat tertegun akan hal itu, dengan cepat ia bangkit dari duduknya sambil berjalan untuk dapat menjauhi Putri Hanna dan yang lainnya, hal itu ternyata diketahui oleh Putri Hanna, sikap Pangeran Kichiro tampak begitu sangat berbeda seakan-akan Pria itu tak menginginkan kehadirannya.
"Pangeran? Ada apa?" tanya Putri Hanna yang segera berjalan untuk dapat mendekati Pangeran Kichiro.
Pangeran Kichiro hanya terdiam, kemudian ia sedikit melirik ke arah belakang dengan tampang dingin seperti tengah berhadapan dengan orang asing saja, Pangeran Kichiro dengan segera menjawab tanya dari Putri Hanna.
"Tidak ada, aku hanya merasa saat ini hmh... Sudahlah...." Jawab, Pangeran Kichiro dengan tegas.
Putri Hanna yang melihat perubahan sikap dari Pangeran Kichiro, membuatnya tak mampu berbuat apapun, ia memiliki sebuah janji yang harus ia tepati.
Mentari masih tampak tinggi, suasana ditempat itu begitu sangat panas, Pangeran Kichiro yang tampak tengah memikirkan sesuatu, berjalan dengan cepat, tanpa berkata apapun kepada yang lainnya. Putri Hanna yang melihat hal itu hanya terdiam, ia menghela napasnya dengan segera ia kembali mengikuti langkah kaki dari Pangeran Kichiro.
Putri Kirana yang tengah berjalan sendiri, seakan ia tak ingin bergabung dengan Norr dan Leo, Wajahnya termenung ia kembali mengingat Pangeran Rendra, kemudian pandangannya tertuju kepada Norr, sosok Siluman yang berhasil membuat dirinya begitu sangat nyaman.
"Aku takut Dewa akan menghukum diriku... Jika nanti aku tidak dapat menepati perkataan ku, Wanita yang tidak dapat dipegang ucapannya, apakah benar aku mencintai Norr? Ataukah itu hanya sebuah rasa kagum saja?" dalam benak Putri Kirana yang saat itu tengah dilanda kegundahan dalam hatinya.
Putri Kirana kemudian segera berjalan untuk dapat mendekati Norr dan juga Leo, ia dengan perlahan berbicara kepada Norr yang saat itu tengah memperhatikan langkahnya.
"Norr, bisakah aku berbicara dengan dirimu? Berdua saja." Ucap, Putri Kirana yang segera menatap ke arah Leo.
Norr dan Leo yang mendengar perkataan dari Putri Kirana membuat mereka menghentikan langkahnya.
"Berdua?" tanya Norr yang segera menatap Wajah Putri Kirana.
Putri Kirana segera menggukkan kepalanya, Leo yang begitu sangat paham dengan hal semacam itu, membuatnya melanjutkan langkah kakinya.
"Aku paham... Baiklah aku tidak akan menggangu kalian." Ucap, Leo yang segera meninggalkan Norr dan juga Putri Kirana.
Norr dan Putri Kirana saling menatap diri Leo yang saat itu pergi meninggalkan mereka.
"Dia sudah pergi, lalu apa yang akan kau katakan?" tanya Norr dengan tegas.
"Aku pikir aku... Aku minta maaf, aku mohon maafkan diriku, kau memiliki hak untuk membenci diriku...." Ucap, Putri Kirana sambil menangis dihadapan Norr.
Norr hanya terdiam ketika melihat hal itu, tak terlihat bahwa ia murka, ataupun tekrjut ketika mendengar perkataan dari Putri Kirana.
"Jika aku membenci dirimu, apakah kau pikir aku akan sanggup melakukan itu? Apakah bagimu cinta hanya sebuah permainan? Apakah kau pikir dengan seenaknya kau akan terlihat sempurna? Hebat? Jika kau tak mampu mengapa, mengapa mengatakan iya? Mengapa, mengapa diriku dapat berjumpa dengan Wanita ceroboh seperti dirimu?" ucap, Norr dengan tegas tatapannya begitu sangat dingin.
Putri Kirana hanya mampu menangis menyalahkan diri sendiri, dan terus merasa bahwa itu memanglah sebuah kesalahan bagi dirinya.
Putri Kirana terus menangis sampai terisak-isak, kemudian dia berlari ke arah berlawanan untuk dapat meninggalkan Norr dan yang lainnya.
"Maaf... Sejujurnya aku tidak pernah mencintai dirimu... Rasa yang muncul hanyalah sebuah sepi, dan kagum dalam diriku ketika melihat dirimu...." Dalam benak Putri Kirana yang terus berlari untuk dapat meninggalkan Norr.
Norr terdiam, ia menutup sepasang Matanya sambil melekatkan lengan kanannya tepat didepan dadanya.
"Manusia memang selalu begitu... Seharusnya aku tidak jatuh pada lubang yang sama!" Dalam benak Norr.
^°^°
Putri Kirana berlari sejauh mungkin, ia menangis karena rasa bersalah yang begitu amat besar dalam dirinya.
"Aku sudah tidak suci... Lalu untuk apa kau mencintai diriku? Kau lebih pantas bersama dengan Wanita yang masih suci, tidak seperti diriku, maaf..." Dalam benak Putri Kirana yang terus berlari untuk dapat menjauh.
Pangeran Rendra yang tengah berjalan sambil menundukkan kepalanya, sambil memutar Pedang milik Bundanya. Terlihat lesu, hatinya seakan hancur ketika telah melepaskan Putri Kirana, ia sebenarnya tak sanggup melakukan hal itu, tetapi mau dikata apa itu sudah menjadi kemauan dari Putri Kirana.
Sampai pada akhirnya, Pangeran Rendra dikejutkan dengan langkah kaki dari seseorang yang seakan berjalan mendekati dirinya, dengan cepat Pangeran Rendra membalikkan tubuh untuk dapat melihat apa yang tengah terjadi, sungguh tidak disangka dilihatnya Putri Kirana yang tengah berlari sambil menangis terisak dari kejauhan.
"Kirana?!" Ucap, Pangeran Rendra yang terlihat begitu sangat terkejut akan kehadiran dari Putri Kirana.
"Rendra?!" Dalam benak Putri Kirana, segera ia berlari untuk dapat menghampiri diri Pangeran, Putri Kirana memeluk dengan sangat erat tubuh Pangeran Rendra.
"Ada apa? Mengapa kau menangis? Hei... Cepat katakan? Apakah Norr telah menyakiti dirimu? Ada apa?" tanya Pangeran Rendra dengan perasaan cemas.
"Hiks.. Hiks... Dia tidak menyakiti diriku, tetapi sebaliknya." Ucap, Putri Kirana yang tengah menangis dalam dekapan Pangeran Rendra.
"Apa maksud dari perkataan mu itu?" tanya, Pangeran Rendra dengan bingung.
"Jangan tinggalkan diriku... Aku baru tersadar, cinta ini hanya untuk dirimu... Mungkin kau tidak akan pernah bisa menerima diriku, tetapi aku... Mencintai dirimu...." Ucap, Putri Kirana sambil terus menangis dalam dekapan Pangeran Rendra.
Pangeran Rendra dibuat terkejut akan perkataan dari Putri Kirana, tanpa terasa ia menjatuhkan air matanya dalam dekapan Putri Kirana.
°^°
Norr berjalan dengan sangat cepat untuk dapat menghampiri Leo dan teman lainnya, Leo yang tengah berada dibelakang tubuh Putri Hanna tampak dikejutkan akan kehadiran dari Norr.
"Oh... Cepat sekali? Dimana Putri Kirana?" tanya Leo dengan penasaran.
Norr terdiam sejenak kemudian dia melirik ke arah Leo yang saat itu tengah menatap Wajahnya dengan bingung.
"Kembali kepada Rendra." Ucap, Norr dengan tegas.
Leo yang mendengar perkataan dari Norr tampak sangat terkejut, lalu dia segera menunjukkan ekspresi Wajah terkejut yang sangat lucu.
"Oh my god... Akhirnya Dewa mengabulkan do'a ku, itu adalah hukuman untuk mu, Norr... Hah, sepertinya memang lebih baik sendiri ya." Ucap, Leo yang segera tersenyum licik pada Norr, seakan ia sangat ingin menggoda Norr agar tidak bersedih lagi.
"Hah... Aku ini tampan, mati satu tumbuh seribu, tidak seperti... Hm... Dirimu, satu pun tak ada, hahaha...." Ucap, Norr yang segera berlari untuk dapat menghindari Leo.
"Sialan!" Jawab Leo dengan marah kepada Norr, dengan segera ia berlari sekuat tenaga untuk dapat mengejar Norr.
"Awas kau Norr!" Teriak Leo dengan kesal.
Pangeran Kichiro yang melihat tingkah dari kedua Siluman itu tampak begitu sangat terhibur. Putri Hanna yang mendengar semua ucapan dari Norr dan Leo, dengan segera ia mendekati Pangeran Kichiro.
"Hmh... Pangeran?" Ucap, Putri Hanna yang tengah berada disamping Pangeran Kichiro.
Pangeran Kichiro yang tengah menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah laku dari Norr dan juga Leo, segera dikejutkan akan kehadiran dari Putri Hanna.
"Iya?" tanya Pangeran Kichiro dengan segera memalingkan pandangannya untuk dapat menatap Wajah Putri Hanna.