Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
Hal yang tidak terduga.


Di dalam Ruangan Kaisar Yu. Yuan dibuat resah juga gelisah, ia terus terdiam sambil menundukkan pandangan, sekalipun ia tidak melihat raut Wajah dari Kaisar Yu, sedangkan Kaisar yang baru saja duduk disinggah sananya tampak tengah menatap diri Yuan dengan tatapan serius.


"Aku ingin kau memberitahukan kepada diriku dimana keberadaan Pangeran Kichiro, aku tau kau adalah salah satu Pelayan yang dia perdulikan, hanya dirimu, jadi pastilah kau tau kemana dia pergi." Ucap, Kaisar Yu dengan raut Wajah tegas dan serius terhadap diri Yuan.


Yuan yang mendengar perkataan dari Kaisar Yu, sontak saja ia terkejut, dia telah berpikir bahwa diri Kaisar Yu terlihat tengah mencurigai dirinyalah yang menyembunyikan diri Pangeran. Kemudian Yuan segera berkata dengan terus menundukkan pandangannya, dihadapan Kaisar Yu.


"Ampun, Kaisar saya memanglah tidak mengetahui dimana keberadaan Pangeran Kichiro." Ucap, Yuan yang terus menundukkan pandangannya.


Kaisar Yu, yang mendengar perkataan dari Yuan, nampak begitu sangat kesal, Kaisar berpikir bahwa Yuan telah membohongi dirinya, Pelayan itu hanya tidak ingin berkata sejujurnya.


"Yuan, jangan membuat kesabaranku ini habis! Katakan saja Yuan!" Ucap, Kaisar Yu dengan nada membentak pada diri Yuan.


Yuan yang mendengar perkataan dari Kaisar Yu yang terdengar sudah sangat kesal dengan dirinya, membuatnya takut setengah mati, jika saja Kaisar akan bertindak buruk terhadap dirinya.


"Ampun, Kaisar Yu, tetapi saya memanglah tidak tau dimana keberadaan Pangeran Kichiro saat ini." Ucap, Yuan yang terlihat semakin ketakutan.


Kaisar Yu yang melihat sikap dari Yuan, terlihat begitu sangat takut dengan dirinya, dan nampaknya Pelayan itu memanglah tidak tau menau dimana keberadaan dari Pangeran Kichiro, Kaisar terlihat begitu sangat kesal, dan juga kecewa dengan jawaban yang Yuan berikan.


"Yuan, aku ingin kau turut mencari dimana keberadaan dari diri Pangeran, hari ini juga!" Bentak Kaisar Yu dengan raut Wajah tegasnya terhadap diri Yuan.


Yuan yang mendengar perkataan dari diri Kaisar Yu, yang telah memerintahkan dirinya untuk segera mencari keberadaan Pangeran Kichiro, membuatnya merasa sangat senang akhirnya ia dapat keluar dari dalam Istana neraka itu juga. Namun, Kaisar Yu segera menyipitkan sepasang Matanya kemudian dia segera berbicara kembali terhadap diri Yuan.


"Tetapi, jika kau gagal ataupun kau malah memanfaatkan kesempatan yang seperti ini untuk kabur, maka jangan salahkan diriku jika aku nantinya akan menghabisi ibumu!" Ucap, Kaisar Yu dengan raut Wajah sinis dan liciknya itu terhadap diri Yuan.


Yuan yang mendengar perkataan dari Kaisar Yu, yang terdengar begitu sangat mengerikan membuat dirinya merasa takut, dan juga menyayangkan kesempatannya. Namun, itu bukanlah masalah bagi dirinya, yang terpenting saat ini adalah menemukan Pangeran Kichiro meskipun entah dimana ia saat ini.


"Saya mengerti, kalau begitu sekarang juga saya akan pamit untuk undur diri, dan saya pastikan diri saya ini akan menemukan keberadaan dari Pangeran Kichiro, tetapi saya mohon jangan sakiti ibu saya." Ucap, Yuan dengan mengangkat kepalanya sambil menatap Wajah dari Kaisar Yu.


Kaisar Yu yang mendengar perkataan dari Yuan merasa sedikit cemas, namun juga saat ini Yuan tidaklah berarti apa-apa bagi dirinya.


"Pergilah!" Ucap, Kaisar Yu dengan tatapan tegasnya itu.


Yuan yang mendengar perintah dari Kaisar Yu, kemudian dia segera memberikan salam hormatnya itu kepada diri Kaisar, lalu Yuan segera meninggalkan diri Kaisar Yu, dan keluar dari dalam Ruangannya itu. Kaisar Yu yang melihat hal itu hanya terdiam sambil memalingkan pandangannya.


Yuan kemudian berjalan untuk dapat keluar dari dalam Istana Yu, namun sebelum itu dia melihat proses pemakaman dari kedua rekannya yang mati terbunuh, dan dugaan mencuat pada diri Putri Yuri. Yuan, seakan tidak memperdulikan hal semacam itu, dia kemudian segera bergegas untuk dapat keluar dari dalam Istana Yu.


Saat ia sudah berada diluar, Yuan merasa sangat bingung, harus kemana ia mencari keberadaan dari diri Pangeran Kichiro, sedangkan dirinya saja tidaklah mengetahui dimana Pangeran Kichiro berada, dan tempat ini begitu sangat luas, Yuan seperti tengah mencari jarum didalam tumbukan jerami. Namun, Yuan tidak akan pernah berputus asa sedikitpun dengan hal semacam itu, Yuan mengehela napas kemudian dia segera pergi meninggalkan Istana Yu.


Tak terasa malam sudah semakin larut, Yuan pun akhirnya pergi meninggalkan Istana Yu, Yuan berjalan terus menyusuri jalanan. Sampai pada akhirnya ia menghentikan langkahnya itu saat telah akan memasuki Hutan.


"Singa?!" Ucap, Yuan dengan sangat terkejut, lalu dengan cepat ia segera bergerak mundur ke arah belakang.


Sang Raja Hutan itu segera memperlihatkan batang hidungnya dihadapan Yuan, tatapannya begitu sangat tajam, langkahnya sungguh sangat berhati-hati, Singa besar itu seakan menginginkan tubuh Yuan untuk dijadikan santapan makan malamnya.


"Kucing besar, jangan lukai diriku." Ucap, Yuan dengan perasaan takutnya.


Tetapi, nampkanya sang Singa tidak memperdulikan permohonan dari Yuan, sepertinya Kucing besar itu sudah begitu sangat lapar, sehingga ia begitu sangat ingin menjadikan diri Yuan sebagai santapan makan malamnya itu.


Yuan merasa begitu sangat ketakutan, sampai pada akhirnya Singa besar itu, mendekat ke arah Yuan dan segera ia menerkamnya, Yuan yang melihat hal itu segera ia berteriak dan menutupi Wajahnya dengan kedua telapak tangannya itu. Tubuhnya begitu sangat bergetar hebat, sayangnya Kucing besar itulah yang akan tidak mendapatkan apapun, karena dari arah berlawanan segera melesat sebuah anak panah yang sudah dilumuri racun, hingga menusuk tubuh si Kucing besar.


Yuan yang melihat hal itu begitu sangat terkejut, saat melihat tubuh Singa itu segera terjatuh, dia semakin dibuat tersentak saat mendengar seseorang yang tengah berbicara, dan Yuan entah mengapa begitu sangat mengenali suara itu.


"Hei Kucing besar, kau yang akan menjadi santapanku, malam ini." Ucap, sesorang itu yang segera berjalan untuk dapat mendekat ke arah Yuan.


Yuan kemudian segera terbangun dari atas tanah, ia menatap sosok Pria itu dengan raut Wajah terkejut bukan main, lalu Yuan dengan cepat berbicara dengan sosok Pria itu.


"Ka...Kai...Kaisar Lin?!" Ucap, Yuan dengan perasaan terkejut, dan juga merasa begitu sangat ketakutan, namun dari dalam kelopak matanya terlihat air mata yang tengah terbendung dan siap untuk ia tumpahkan.


Kaisar Lin, yang melihat diri Yuan sungguh merasa tidak menyangka, tak lama kemudian Kaisar Lin , segera memalingkan tubuhnya dan seakan ia tidak ingin bertemu dengan diri Yuan, Yuan yang melihat hal itu terlihat begitu sangat bingung dan juga sedih.


"Kaisar, tunggu, jangan pergi." Ucap,Yuan yang menatap diri Kaisar Lin.


Kaisar Lin kemudian segera menghentikan langkahnya, sambil berbicara pada diri Yuan.


"Apa kau akan menertawakan diriku?! Saat melihat kondisiku yang sudah seperti ini hah?!" Ucap, Kaisar Lin yang nampak begitu sangat malu dihadapan Yuan.


Yuan sungguh merasa sangat sedih saat melihat diri Kaisar yang begitu sangat memprihatinkan, namun jujur saja ia juga begitu sangat senang akhirnya Tuannya selamat dari kematian, meskipun saat ini tubuhnya tidaklah seperti dahulu kala.


"Kaisar, saya ucapkan terima kasih, kau sudah menyelamatkan diriku, saya sungguh begitu sangat senang anda dapat selamat, salam hormat dari saya, Kaisar." Ucap, Yuan yang segera memberikan rasa hormatnya itu terhadap diri Kaisar Lin.


Kaisar Lin yang mendengar hal itu telihat begitu sangat kesal, juga malu dihadapan Yuan dia begitu sangat rendah.


"Kau tidak jijik dengan diriku, aku cacat, dan aku bukan lagi Tuanmu, aku hanya orang biasa, yang tidak dianggap, yang tidak dibutuhkan, semua karena kesalahanku, aku menyesal, dan aku merindukan Hanna, Putriku. Ya, tapi tidak akan pernah memaafkan diriku, semua ini pantas aku terima." Ucap, Kaisar Lin dengan perasaan yang begitu sangat tulus.


Yuan yang mendengar perkataan dari Kaisar Lin yang terlihat begitu sangat menyesal membuat dirinya merasa sangat sedih.


"Kaisar, semua orang pernah melakukan kesalahan, saya yakin Putri Hanna pasti akan memaafkan anda, karena biar bagaimanapun juga anda adalah Ayah kandungnya, Putri Hanna adalah gadis kecil anda yang sangat baik, dia hanya merasa tidak adil akan perlakuan anda terhadap dirinya saat itu." Ucap, Yuan dengan perasaan yang terlihat sangat sedih.