Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
50


"Bagaimanapun juga aku harus bisa mengalahkannya." Ucap Hanna.


Dalam batin terus berfikir. "Dia dapat menggandakan diri, juga memiliki kekuatan berelemen air jika aku ingat kekuatan air dapat mengendalikan apapun, namun aku memiliki kekuatan benih petir putih jika air bertemu listrik pasti nya akan terjadi unsur negatif baik lah aku tidak akan pernah tau apapun hasilnya jika aku tidak mencoba.


Hanna mengangkat Pedang Pusaka Sampai ujung nya melihat langit, petir memenuhi pedang miliknya.


"Aku tau air adalah elemen terkuat, namun aku memiliki kekuatan petir, jadi jika air bertemu dengan listrik akan muncul sebuah unsur negatif dari atom yang ada pada listrik, baiklah ini caraku satu satunya jika aku harus mati hari ini tak apa aku sudah cukup bahagia." Ucap Hanna dengan pandangan serius.


Hanna menyerang Naga Air dengan kekuatan listrik miliknya, di tempat itu terjadi ledakan cukup besar.


Tak lama Hanna dapat merasakan suara Norr yang memanggil namanya.


Dalam batin Hanna. "Apakah aku sudah mati?"


Sambil tergeletak dengan luka di seluruh tubuhnya.


Perlahan Hanna membuka matanya dilihatnya hari sudah fajar.


Hanna melihat sekeliling lautan darah yang dilihatnya tadi berubah menjadi pantai dengan pasir putih.


"Apa yang terjadi? apakah aku berhasil?" ucap Hanna dengan segera duduk.


Norr segera menghampiri Hanna.


"Kau berhasil." Ucap Norr.


Hanna tidak percaya dapat mengalahakan hewan itu.


"Haha." Ucap Hana dengan tertawa.


"Tubuhmu terluka parah, maaf tadi aku tidak dapat membantumu, Siluman itu membentuk benteng yang cukup kuat aku tidak dapat menerjangnya." Ucap Norr sambil menatap Hanna.


"Hey itu tidak masalah, meskipun aku tidak tau monster itu kalah olehku, sekarang yang terpenting kita selamat." Ucap Hanna yang menatap norr dengan senyuman.


"Hanna Sekarang kekuatan naga air itu ada pada dirimu, kau adalah wanita terkuat sekarang." Ucap Norr.


"Iya." Ucap Norr.


"Aku sebenarnya tidak mau menjadi kuat, karna semakin seseorang kuat semakin banyak orang yang pergi meninggalkan." Ucap Hanna.


"Aku mengerti." Ucap Norr.


"Tapi bagus lah, disamping itu setidaknya aku ini berguna untuk mereka." Ucap Hanna.


"Berguna untuk membalaskan dendam?." Ucap Norr.


"Dulu aku memang berfikir tentang itu, Namun aku Tersadar sekuat apapun seseorang dia akan kalah dengan rasa benci dalam dirinya."Ucap Hanna menatap Norr.


"Jadi Sekarang kau sudah melupakan dendam mu pada keluarga Yu dan Lin?" ucap Norr.


"Tidak, kau pernah dengar pepatah kan tidak akan ada asap jika tidak ada api." Ucap Hanna.


"Maksudmu?!" ucap Norr.


Hanna menoleh Norr.


"Iya karna merekalah yang memulai terlebih dahulu maka aku yang akan mengakhirinya dengan caraku sendiri." Ucap Hanna.


"Hmm, baiklah terserah kau saja, Hanna hari sudah fajar dan kau terluka sangat parah jika aku membawamu pulang ke Istana, pasti mereka akan mencurigaimu, namun jika kau tidak segera kembali mereka pasti akan berfikir buruk tentang dirimu." Ucap Norr.


"Biarkan aku disini sebentar saja, aku tidak perduli dengan mereka, untuk apa aku memikir kan seseorang yang ingin menghancurkanku." Ucap Hanna.


"Hanna aku tidak pernah melihat kau seperti seorang putri dari kerajaan, yang aku lihat kau adalah seorang wanita hebat yang melebihi seorang pendekar." Ucap Norr.


"Hmh kau ini sangat lucu, jika aku melebihi seorang pendekar maka aku ini apa?" ucap Hanna.


"Kau itu seorang master." Ucap Norr.