
Sedangkan didalam Hutan, terlihat Kaisar Lin Dan juga Yuan tengah berjalan menyusuri Hutan, Yuan berkali-kali menatap diri Kaisar Lin yang saat itu terlihat sudah sangat kelelahan. Langkahnya pun tertatih, karena salah satu kakinya tidak dapat bergerak dengan normal.
Yuan yang memapah tubuh Kaisar Lin dengan kedua lengan kecilnya itu, segera ia menatap Wajah Kaisar Lin, yang saat itu sudah nampak kelelahan.
"Kaisar, lebih baik kita beristirahat disini, saya begitu sangat khawatir akan diri anda Kaisar." Ucap, Yuan dengan perasaan cemasnya itu.
Kaisar Lin yang mendengar perkataan dari Yuan, Pelayan setia dari Istananya itu segera ia menatap tajam Wajahnya, Yuan yang melihat raut Wajah dari diri Kaisar yang terlihat sangat menakutkan, membuat dirinya merasa sedikit ketakutan. Sehingga ia memilih untuk terdiam dan menundukkan pandangannya.
"Apakah kau sudah merasa kelelahan, Yuan?" ucap, Kaisar Lin yang saat itu tengah berada disamping Yuan.
Yuan yang mendengar ucapan dari diri Kaisar Lin membuat dirinya merasa begitu sangat terkejut, ia pikir dirinya akan terkena amarah dari diri Kaisar, ternyata apa yang telah ia pikirkan semua hanyalah ketakutan semata.
"Tidak perlu merisaukan diri saya Kaisar, saya lihat anda sudah merasa sangat letih, jika saja anda berniat untuk beristirahat sejenak, mungkin itu akan membuat kondisi anda menjadi lebih bertenaga, dari semalam anda pasti belum memakan apapun, bukan?" ucap, Yuan yang saat itu tengah menatap diri Kaisar Lin dengan tatapan iba.
Sebenarnya Kaisar Lin merasa amat malu ketika berjumpa dengan Yuan, seorang Pelayan Istananya terdahulu. Namun saat ini dia bukanlah siapa-siapa lagi, ia hanyalah seorang Manusia yang sudah tidak ada gunanya lagi. Mungkin ini adalah sebuah kesalahan bagi dirinya yang memilih untuk lebih melindungi kedua anak dan Istrinya, dibandingkan dengan Putri Hanna yang sudah jelas-jelas terlahir dari rahim seorang Permaisuri, tetapi kebodohan lah yang membuatnya gelap Mata hingga tanpa berpikir panjang, ia rela melawan Putrinya sendiri hanya demi seorang Selir.
"Hm, kau benar Yuan, sebaiknya kita memang beristirahat, bagaimana jika kita beristirahat ditempat ini saja." Ucap, Kaisar Lin yang segera menatap ke arah salah satu Pohon yang cukup besar tengah berada disampingnya itu.
Yuan yang mendengar perkataan dari diri Kaisar Lin segera ia membawa Kaisar Lin ke tempat yang dia inginkan, dengan perlahan Kaisar Lin menggerakkan kaki kanannya, dan dengan susah payah ia mencoba untuk mengangkat kaki kirinya, yang saat itu telah terluka, karena ulah dari Haruka, yang pada saat itu telah melukai salah satu kaki dan juga salah satu Mata dari Kaisar Lin.
Yuan dengan sabarnya mencoba untuk membawa Kaisar Lin agar dapat bersandar dibawah Pohon yang dia inginkan, ketika telah sampai didepan Pohon besar itu, Yuan segera menurunkan lengan kanan Kaisar Lin yang saat itu tengah berada diatas pundaknya. Kaisar Lin kemudian menyentuh batang Pohon besar itu dengan perlahan, lalu segera ia merendahkan tubuhnya agar dapat menyandarkan tubuhnya dibelakang pohon besar itu.
"Kaisar, sebaiknya anda tetap disini, saya akan pergi untuk mencari air dan juga beberapa buah-buahan untuk kita makan bersama." Ucap, Yuan yang segera mengangkat tubuhnya yang saat itu tengah terbungkuk.
Kaisar Lin hanya terdiam sambil menganggukkan kepalanya dihadapkan Yuan, Yuan yang melihat diri Kaisar yang terlihat telah mengizinkan dirinya untuk pergi membuatnya dengan segera memohon izin kembali tehadap diri Kaisar Lin, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan diri Kaisar sendirian.
"Baiklah saya akan pergi sekarang juga, semoga saja kepergian saya ini tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga anda tidak merasa sendirian." Ucap, Yuan dengan tatapan tegas dihadapan Kaisar Lin.
Kaisar Lin yang melihat diri Yuan yang nampak begitu sangat berbeda dari dirinya yang terdahulu, membuat diri Kaisar berpikir bahwa sifat dari Putrinya Hanna telah tumbuh ke dalam diri Yuan. Meskipun tidak banyak perubahan yang ia perlihatkan, namun sedikit terlihat jelas perbandingan dirinya yang terdahulu dengan dirinya yang saat ini.
"Baiklah Yuan, aku akan baik-baik saja disini." Ucap, Kaisar Lin yang tengah duduk tersandar batang Pohon yang cukup besar.
Yuan yang mendengar perkataan dari diri Kaisar Lin, segera ia menganggukkan kepalanya dihadapan Kaisar Lin. Tanpa pikir panjang lagi Yuan segera bergegas untuk dapat membawakan diri Kaisar air dan juga beberapa buah segar didalam Hutan itu.
Tanpa pikir panjang lagi Yuan segera melangkahkan kakinya untuk dapat meninggalkan diri Kaisar Lin sendirian didalam Hutan, Yuan bergegas untuk mencari sebuah Mata air didalam Hutan yang cukup lebat itu. Ia memberanikan dirinya untuk dapat memasuki Hutan dengan cukup dalam, meskipun ia sedikit ragu, namun kali ini tidak ada satu orangpun yang dapat ia andalkan selain dirinya sendiri. Dalam pikirnya ia selalu mengingat setiap kejadian yang pernah ia alami bersama dengan diri Haruka. Dan sampai detik ini ia masih menanamkan sikap dan sifat dari Haruka yang selama ini selalu ia lihat.
"Putri, kini keadaannya sudah semakin kacau, dimana kah dirimu saat ini, Putri? Apakah benar kau telah tiada? Aku selalu berdo'a kepada sang Dewa, agar engkau selalu mendapatkan pertolongan darinya." Dalam benak Yuan yang terus berjalan menyusuri Hutan dengan langkah pastinya.
Sedangkan Kaisar Lin terlihat tengah menahan rasa sakit dari salah satu kakinya, karena ia terus berjalan tanpa henti. Kaisar Lin yang tengah bersandar dibalik batang Pohon yang cukup besar, nampak tengah terlamun. Pandangannya ia tujukan kepada langit biru yang begitu sangat cerah.
"Suamiku aku hamil." Ucap, Permaisuri Yuriama dengan tatapan senangnya dihadapan Kaisar Lin.
Kaisar Lin yang mendengar perkataan dari Permaisuri Yuriama yang tengah membawa sebuah kabar gembira itu membuat dirinya merasa begitu amat bahagia.
"Benarkah? Syukurlah, sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah, haha... Apakah kalian dengar itu Permaisuri hamil." Ucap, Kaisar Lin dengan perasaan senang.
Kaisar Lin yang tengah melamun itu segera mengepalkan telapak tangannya yang saat itu tengah berada diatas rumput hijau.
"Apa?! Permaisuri Yuriama dibunuh oleh seseorang?! Mana mungkin!" Ucap, Kaisar Lin yang tengah terduduk diatas kursi besar.
"Aku akan mencari siapakah pembunuhmu." Ucap, Kaisar Lin dengan perasaan sedih ketika sudah berada didalam Kamar Permaisuri Yuriama.
"Aku akan mengangkat Selir Ayunian menjadi Permaisuri diIstana ini." Ucap, Kaisar Lin dengan perasaan bangganya.
Terlihat banyak orang yang tercengang akan hal itu, terlebih lagi Putri Hanna yang saat itu masih belia. Hingga pada akhirnya setiap ucapan yang pernah Kaisar Lin berikan kepada diri Putri Hanna hanyalah sebuah kebohongan belaka, saat itu Kaisar Lin bahkan berniat untuk membunuh Putrinya sendiri hanya karena seorang Selir.
"Ayah dialah yang membunuh Ibuku." Ucap, Putri Hanna pada saat berjumpa dengan Kaisar Lin didalam Istana Lin.
Tetapi pada saat itu Kaisar Lin malah menampik ucapan dari Putri Hanna dan malah berbalik menuduh dirinya.
Kaisar Lin yang tersadar akan perbuatannya itu sungguh merasa amat menyesal, dialah yang seharusnya dapat dijadikan panutan oleh anaknya sendiri, tetapi sungguh bodohnya dirinya yang membuat Putrinya sendiri menderita, apa yang dia dapatkan memang lah sudah sepatutnya hal itu terjadi dengan dirinya.
Kaisar Lin kemudian segera memejamkan sepasang Matanya sambil ia menyandarkan kepalanya pada batang Pohon yang tengah ia jadikan sandaran itu.