
Langit biru semakin cerah, mentari pagi mulai meninggi, silaunya menyentuh perlahan Wajah dari Kaisar Lin. Ketika itu ia tengah tertidur dengan sangat lelap sambil menyadarkan tubuhnya dibalik dahan Pohon yang cukup besar, tampaknya Kaisar Lon masih enggan untuk membuka Matanya, sampai pada akhirnya ia dikejutkan dengan suara dan bayangan dari seorang Wanita cantik ia berpenampilan begitu amat mirip dengan Putri Hanna, tengah menatap Wajah Kaisar Lin dengan tatapan iba. Kaisar merasa amat terkejut ketika melihat hal itu, dengan segera ia membuka kedua Matanya dengan lebar, sungguh ia sangat terbelalak ketika melihat seorang Wanita yang begitu sangat serupa dengan Putri Hanna tengah berdiri dihadapannya.
"Hanna?!" Ucap, Kaisar Lin dengan perasaan terkejut bukan main ketika melihat sesuatu yang dirasanya mustahil.
Putri Hanna hanya memandangi Wajah Kaisar Lin dengan sedikit tersenyum, tanpa berkata apapun kepada diri Kaisar, dengan perlahan Kaisar Lin bangkit dari tempatnya ia tampak begitu sangat tidak menyangka dengan apa yang saat ini telah ia saksikan, Kaisar Lin berjalan dengan sangat cepat menuju ke arah Putri Hanna. Dengan cepat ia mendekap tubuh Putri Hanna sangat erat, langkahnya yang terhuyung sepertinya tak ia perdulikan. Tubuh Kaisar Lin bergetar dari celah selaput Matanya tampak air asin yang turun membasahi Wajahnya, tak mampu ia mengendalikan hal itu, semua berlalu dengan sangat cepat.
"Maafkan diriku! Maaf atas semua perlakuanku terhadap dirimu, aku benar-benar bukanlah seorang Ayah yang baik kepadamu, masih sudikah kau menerimaku sebagai Ayahmu Hanna?" ucap, Kaisar Lin dengan perasaan sedih yang tak terbendung lagi. Seakan rasa bersalah dalam dirinya begitu menikamnya, menyesakkan dadanya.
"Tidak perlu mencariku lagi, ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir kalinya, kembalilah dan jadilah dirimu yang seperti dahulu kala, semua sudah terlambat." Ucap, Putri Hanna dengan tubuh yang dipenuhi dengan sinar putih.
Kaisar Lin yang mendengar hal itu merasa sangat terkejut dengan apa yang tengah Putri Hanna katakan, dengan segera Kaisar Lin melepaskan dekapannya sambil menatap Wajah Putri Hanna dengan perasaan bingung.
"Apa maksudmu? Aku tau kau sangat murka kepadaku, aku tau kau sangat benci kepadaku, tetapi aku mohon izinkan diriku untuk memperbaiki semuanya, Hanna, aku minta maaf." Ucap, Kaisar Lin dengan menitihkan air mata.
"Aku sudah tiada, untuk apa kau mencariku lagi? Bukankah ini yang kau inginkan? Kaisar yang terhormat aku masih menghargai dirimu sebagi Ayahku, aku memafkan dirimu atas apa yang telah kau lakukan kepada diriku, pantaskah aku memanggilmu Ayah, ketika kau mencoba untuk membunuh diriku? Apakah kau sudah puas saat ini? Dengan apa yang telah kau dapatkan? Apakah semua ini yang kau harapkan? Jika kau bertanya mengapa aku menjadi sangat kejam saat ini, tanyakan kepada dirimu sendiri, seberapa baik kau memperlakukan diriku? Pernahkah kau berpikir untuk menjadi seorang Ayah yang baik untuk diriku? Kaisar Lin, mungkin ini hukuman dari Dewa atas semua perlakuanmu." Ucap, Putri Hanna dengan sinar putih yang semakin lama terang.
Kaisar Lin yang merasa sangat tidak mempercayai apa yang tengah Putri Hanna ucapkan, membuatnya bersikeras bahwa Putri Hanna hanyalah tengah mengancamnya saja.
"Itu tidak mungkin, Hanna, ini semua tidaklah mungkin." Ucap, Kaisar Lin dengan perasaan tidak terima dalam dirinya.
"Hmh... Selamat tinggal, Kaisar. Kita pasti akan berjumpa lagi dalam kehidupan yang sesungguhnya." Ucap, Putri Hanna yang segera menghilang dari hadapan Kaisar Lin.
Dengan perlahan tubuh Putri Hanna menghilang dari hadapan Kaisar Lin, Kaisar Lin yang melihat hal itu seakan tak ingin terpisahkan oleh Putri Hanna, dengan cepat ia mencoba untuk menarik tubuh Putri Hanna. Namun, tampaknya hal itu hanya sia-sia saja, karena tubuh Putri Hanna sudah tidak dapat dijangkau, hanya ada sinar putih terang yang tampak dalam penglihatannya.
"Tidaaaaaak!" Rasa bersalah, rasa kecewa, timbul dalam diri Kaisar Lin, sebuah penyesalan yang mungkin tidak akan dapat ia selesaikan, air mata terus mengalir dengan deras membasahi tanah. Tubuh Kaisar Lin bergetar dengan perlahan tubuhnya terjatuh lunglai diatas tanah yang ditumbuhi dengan rumput hijau.