
Haruka masih berjalan untuk dapat keluar dari tempat menyeramkan itu, langkahnya masih bergetar agaknya ia belum mampu untuk menopang diri. Ia tak pernah tau apa yang nantinya akan terjadi lagi kepada dirinya, tatapannya tampak begitu dingin memandangi jalanan, langkahnya terlihat tak berhati-hati, sampai pada akhirnya Pangeran Kichiro menyentuh tubuhnya untuk dapat membantu diri Haruka agar dapat berjalan dengan baik diatas jalanan yang tidak baik.
Haruka terdiam sejenak, ketika Pangeran Kichiro menyentuh lengan kirinya dengan erat, rasanya memanglah sangat nyaman.
"Semakin aku menyayangimu, semakin aku harus melepasmu dari hidupku, aku tak mau terus lukai hatimu lebih dari ini, Dewa... Jika kita ditakdirkan hanya untuk bertemu bukan untuk bersatu cukupkanlah bagiku rasa cinta ini, tetapi apakah engkau berani sekejam itu memisahkan dua hati yang saling mencintai." Dalam benak Haruka yang tengah menatap Wajah Pangeran Kichiro dengan lembut.
"Kekuatan yang aku miliki tampaknya hanya sia-sia saja aku mendapatkannya, mungkinkah ini sudah diatur oleh para Dewa, sungguh aku tak menyangka ternyata Dewa begitu sangat mencintai diriku." Dalam benak Haruka, dengan segera Haruka memalingkan pandangannya dan bergegas untuk dapat keluar dari tempat itu.
"Emh... Oh iya, Kirana... Apakah kau tau bahwa Rendra kakakku sempat berada ditempat itu, aku memang tidaklah mengerti sudah sejauh mana hubungan kalian berdua, tetapi jika kau ingin memutuskan ikatanmu dengan kakakku Rendra, baiknya kau memohon dengan cara baik-baik, bukankah kau adalah seorang Putri dari sebuah kerajaan besar? Aku mengerti... Jika kau tidak benar-benar mencintai dirinya, tetapi biar bagaimanapun juga dia adalah Suamimu." Ucap, Pangeran Kichiro yang segera memalingkan pandangannya ke arah Putri Kirana dengan tatapan dari sepasang bola Mata tajam.
Haruka yang mendengar perkataan dari Pangeran Kichiro hanya terdiam, sambil sedikit melirik ke arah Pria itu.
"Hmm... Sungguh Adik yang sangat baik." Dalam benak Haruka.
Tetapi, saat ini bukan hal semacam itu yang ia pikirkan, teringat lagi akan kehidupan didalam Istananya yang saat ini ia tak tau bagaimana dengan kondisi didalam sana.
"Pangeran Kichiro... Ada apa dengan dirimu? Apakah kau tengah bertengkar dengan Kaisar Yu? Lalu bagaimana dengan kondisi didalam Istanaku? Apakah menurutmu aku bisa dengan mudah memaafkan semuanya begitu saja? Melupakan semua dan menganggap tidak terjadi apapun? Meskipun Ayahku mati bukan kau dan Rendra yang membunuhnya, meskipun Ibuku bunuh diri bukan karena dibunuh oleh Kaisar Yu, tetapi kalian masih termasuk keluarganya! Jika bukan karena Haruka... Mungkin aku sudah membunuh dirimu Kichiro!" Ucap, Putri Kirana dengan perasaan kesal tak terbendung dalam dirinya.
Pangeran Kichiro yang mendengar perkataan dari Putri Kirana sama sekali tak terkejut mendengar hal semacam itu. Saat ia tengah berjalan dengan perlahan ia melirik ke arah Haruka. Terlihat Haruka hanya terdiam seakan tak ingin ikut campur dalam urusannya itu.
"Kirana... Jika kau ingin membunuhku maka lakukan saja, jika hal itu mampu membuat dirimu puas, dan mendapatkan apa yang kau inginkan, tetapi jika hal itu malah akan menambah masalah baru untuk dirimu baiknya kau urungkan saja niatmu itu, ah... Aku sungguh menantikan saat dimana kau akan membunuhku." Ucap, Pangeran Kichiro dengan sedikit tersenyum kecil kepada Haruka.
Haruka dan juga Putri Kirana hanya terdiam, tak terucap satupun kalimat dari dalam mulut mereka.
"Sungguh Pria yang sangat sombong! Jika sudah tau itu bukanlah kesalahannya untuk apa masih berpura-pura sok polos membiarkan Kirana membunuh dirinya?!" Dalam benak Haruka dengan perasaan kesal.