
Kichiro yang baru saja keluar dari dalam kamar langsung disambut hangat oleh Putri Yuri yang berjalan menghampirinya. Pangeran Kichiro nampak tidak perduli dengan kehadiran Putri Yuri disana.
"Selamat malam Pangeran." Ucap Putri Yuri sambil mendekatkan tubuhnya pada Kichiro.
Pangeran Kichiro sedikit meliriknya, kemudian dia menggeserkan tubuhnya agar kepala Putri Yuri tidak tersandar didada bidangnya itu.
"Malam." Ucap Pangeran Kichiro dengan dingin.
Putri Yuri saat melihat kedua bola mata yang nampak dingin itu kemudian tersenyum tipis, karena tidak ingin menambah suasana menjadi lebih canggung kemudian Putri Yuri menambah ucapannya lagi.
"Pangeran, saya lihat anda sedang tidak enak hati, ada apa?" tanya Putri Yuri dengan cepat tangan kanannya akan mendarat pada dada Kichiro. Pangeran yang menyedarinya kemudian berjalan untuk menjauhi Putr Yuri, dia segera berjalan untuk memasuki ruang kerjanya.
"Tidak ada, lalu apa yang membuat Putri Yuri menemui saya, malam-malam begini?" ucap Kichiro yang berada didepan pintu.
Putri Yuri nampak kesal, namun ia terus mencoba agar tetap tenang dan anggun.
"Ah itu karena ayah ada urusan dengan Kaisar, dan lagi aku ini Putri kesayangannya jadi ayah turut membawaku kemari, aku hanya tidak ingi mendengarkan pembicaraan orang dewasa, jadi aku berniat untuk mengajak Pangeran menyaksikan pentas didesa." Ucap Putri Yuri dengan wajah polos buatannya.
"Oh, jadi Putri merasa diri Putri belum dewasa? Seorang anak kecil tidaklah baik keluar malam-malam" Jawab Kichiro dengan tegas.
Putri Yuri nampak terkejut saat mendengar jawaban yang Pangeran Kichiro ucapkan, kemudian dengan langkah cepat Putri Yuri segera mendekat kearah Pangeran Kichiro.
"Hm, tapi aku sangatlah ingin melihatnya, jika Pangeran bersamaku aku akan merasa jauh lebih tenang, anda pasti akan melindungiku kan Pangeran?" ucap Putri Yuri dengan berdiri disamping Pangeran Kichiro.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus." Jawab Kichiro dengan raut wajah tidak perduli.
"Aku mohon, hanya malam ini saja, Kaisar yang memintaku untuk mengajak Pangeran." Ucap Putri Yuri dengan raut wajah polos.
Kichiro nampak kesal, namun dia terus mencoba tenang. Kemudian Pangeran segera membalikkan tubuhnya dan berjalan melewati Putri Yuri, Putri Yuri agak terkejut kemudian dia menoleh kearah kirinya, nampak Pangeran Kichiro tengah berdiri membelakangi dirinya.
"Jangan terlalu lama, angin malam sangatlah tidak baik bagi tubuh." Ucap Pangeran Kichiro dengan nada bicara tegas.
Putri Yuri nampak sangatlah senang sekali, kemudian dia segera berjalan untuk menghampiri Pangeran Kichiro.
"Anda tidak perlu merisaukan diriku seperti itu Pangeran." Ucap Putri Yuri dengan senyuman dibibirnya.
"Bukan itu, tapi aku hanya takut jika nanti aku akan sakit hanya karena menemanimu." Ucap Kichiro dengan raut wajah dingin.
Putri Yuri nampak terkejut kemudian dia memperlihatkan senyum kakunya dihadapan Pangeran Kichiro.
"Sial!" dalam benak Putri Yuri yang teramat kesal.
"Hahaha, benar sekali apa yang anda katakan, bagaimana jika sekarang kita pergi saja, kebetulan malam belum larut." Ucap Putri Yuri dengan raut wajah senangnya.
Kichiro kemudian segera berjalan untuk menuju desa dekat Istana bersama dengan Putri Yuri, karena letaknya yang tidak terlalu jauh Pangeran memutuskan untuk berjalan kaki.
°^°^
Didalam Hutan Haruka menatap Leo yang tengah duduk disamping Norr.
"Leo, aku serahkan keamanan Gubuk ini kepadamu, jika ada musuh yang mengintai seharusnya kau tau apa yang harus dilakukan, mungkin aku pergi kedesa tidaklah sebentar, tapi aku pasti akan kembali." Ucap Haruka dengan tegas.
Leo yang melihatnya kemudian segera membusungkan dadanya, tak lama ia segera berbicara.
"Serahkan saja kepadaku." Ucap Leo dengan tegas.
"Bagus, kau memang dapat diandalkan." Ucap Haruka yang kemudian dia segera menatap kearah Kirana dan Norr.
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Haruka dengan raut wajah serius.
Kirana dan Norr segera menganggukkan kepala mereka.
"Iya." Jawab Kirana.
Kemudian Haruka, Kirana dan Norr segera keluar dari dalam Gubuk, Leo kemudian segera mengikuti dari belakang. Dia menatap Haruka yang akan pergi menuju desa.
Norr kemudian segera mengubah wujudnya menjadi seekor burung besar. Tak lama Haruka melirik Kirana yang berada disampingnya.
"Naiklah terlebih dahulu." Ucap Haruka dengan tegas.
"Selalu ingat pesanku Leo." Ucap Haruka dengan tegas.
Kemudian Haruka segera menaiki tubuh burung besar itu. Leo hanya terdiam sambil melihat Haruka yang akan pergi.
"Semoga kau disana akan baik-baik saja." dalam benak Leo.
Tak lama Norr segera terbang keatas langit, dan meninggalkan Leo sendirian didalam Gubuk tengah hutan. Norr mengangkat kedua sayap lebarnya. Angin dimalam itu cukup besar, membuat tubuh Haruka sedikit kedingingan.
"Norr, karena desa itu tidaklah jauh dari Istana Yu, mungkin saja aku akan dapat bertemu dengan Yuan, aku tidaklah tau bagaimana nasibnya saat ini, mungkin dia telah disakiti oleh keluarga Yu!" ucap Haruka dengan perasaan bersalah dalam dirinya.
"Kau benar, hampir saja aku melupakan sikecil itu." Jawab Norr.
"Ah, seingatku dia dimasukkan kedal penjara bawah tanah oleh Pangeran Aska." Ucap Putri Kirana.
Haruka nampak terkejut setelah mendengar ucapan dar Kirana tentang nasib Yuan.
"Ini tidaklah adil, Norr kita harus menyelamatkannya, biar bagaimanapun dia itu pelayan setia Hanna." Ucap Haruka dengan raut wajah kesal.
"Baiklah Haruka." Ucap Norr dengan tegas.
Kemudian dari atas langit Norr melihat sebuah keramaian diluar desa, Haruka yang melihatnya kemudian meminta kepada Norr untuk segera mendaratkannya, sebelum warga ada yang melihatnya.
"Cepat mendarat, jangan sampai membuat penduduk desa ada yang melihatmu dalam wujud seperti ini." Ucap Haruka.
Norr yang mengerti segera mendaratkan tubuhnya didekat salah satu pohon besar, Haruka dan Kirana kemudian segera turun, tak lama Norr mengubah wujudnya menjadi seorang manusia.
Haruka, Kirana dan Norr menatap kearah depan dilihatnya ada sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari Istana Yu, mereka menunjukkan sikap santai namun tetap dalam kondisi waspada.
"Kita akan menyamar menjadi seorang pengembara, dan kalian jadilah sepasang suami istri." Ucap Haruka yang berada disamping Kirana.
"Apa?!" ucap Kirana dan Norr yang terkejut, sambil menatap kearah Haruka.
Haruka nampak terkejut karena Kirana berbicara tepat berada disamping telinganya.
"Aduh, kalian itu apa-apaan sih? Kita hanya bersandiwara, tidak perlu terkejut seperti itu." Ucap Haruka yang segera menyentuh telinga kananya dengan lengan kanan.
Kirana dan Norr kemudian terdiam, Haruka yang sedikit melirik segera berjalan meninggalkan keduanya. Kirana dan Norr yang melihat Haruka yang telah meninggalkan dirinya segera berjalan untuk mengikuti Haruka.
Didalam Desa.
Haruka memperhatikan sekeliling, dia melihat beberapa pameran yang dipertunjukkan dalam desa itu.
"Aku tidaklah tau sedang ada acara apa disini, namun malam ini terlihat sangat meriah." Ucap Haruka yang memperhatikan kearah sampingnya.
Dia melihat berbagai macam pertunjukkan seni bela diri, melukis, menyulam, sampai trik sulap. Pandangannya seakan terhipnotis pada pameran itu, yang lebih membuatnya penasaran adalah pertunjukkan seni bela diri, yang dipertontonkan secara gamblang.
Tak terasa Haruka terus berjalan semakin menjauh dari Norr dan Kirana, sampai akhirnya Haruka harus menghentikan langkahnya karena menabrak seseorang yang tengah berdiri dihadapannya sampai ia terjatuh ketanah.
"Aduh." Ucap Haruka yang terjatuh ketanah.
"Sial." Dalam benak Haruka kesal.
Haruka kemudian menatap kearah depan, dia sangatlah penasaran siapakah orang yang dia tabrak itu. Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya, dan menatap kearah Haruka.
"Nona, apakah kau tidak apa?" ucap Pria itu sambil membalikkan tubuhnya.
"Ya aku baik-baik saja." Ucap Haruka yang mencoba untuk bagun dari duduknya.
Tak lama Haruka mematung saat mendengar suara dari pria itu, dengan cepat Haruka segera mengangkat kepalanya. Dia agak terkejut saat melihat pria yang tengah berdiri dihadapannya.
"Biar, saya bantu." Ucap Kichiro dengan suara agak seraknya.
Kichiro kemudian segera mengulurkan tangan kanannya, untuk membantu Haruka. Haruka yang melihatnya kemudian nampak kesal.
"Tidak perlu." Ucap Haruka yang segera bangun sendiri.