Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
172


Tidak ada cara lain, selain ia harus melepaskan lilitan dari tumbuhan berduri itu, dengan segera Haruka menarik napasnya dalam-dalam, dan memasukkan tubuhnya kedalam air itu.


Dia mencoba untuk mematahkan tumbuhan duri yang tengah melilit tubuhnya, rasanya begitu sakit, semakin ia mencoba untuk bergerak semakin kuat tumbuhan berduri itu melekat pada tubuhnya.


Haruka menggerakkan tangannya yang sudah terlilit kuat oleh tumbuhan itu, pandangan Haruka begitu fokus terhadap tumbuhan berduri, dengan perlahan Haruka menggerakkan tangannya dan mencengkeram tumbuhan berduri itu, darah mengalir dari dalam telapak tangannya, dia menggenggam sangat erat tumbuhan itu. Kemudian dia menarik dengan kasar tanpa memperdulikan luka yang saat ini tengah menusuk telapak tangannya.


Haruka terus berusaha dengan begitu keras, untuk melepaskan tumbuhan berduri yang tengah melilit tubuhnya itu. Setelah beberapa lama akhirnya tumbuhan berduri yang melilit tubuhnya itu terlepas dengan perlahan, Haruka kemudian memperhatikan kearah atas, tanah itu sudah tertutup dengan sangat rapat.


Kemudiam dengan cepat Haruka menjulurkan tangan kanannya, dia tengah mencoba untuk meretakkan tanah dengan hantaman yang keras dari tangannya. Namun, hal itu masih belum cukup untuk meretakkan tanah yang tengah menguburnya itu.


Dengan cepat Haruka segera memutarkan tubuhnya dan kini kaki jenjang Haruka tengah berada diatas bibir tanah. Air terus bertambah tinggi, namun saat Haruka menggerakkan tangan kanannya kearah samping ia nampak dibuat terkejut, dia baru menyadari setiap kali ia menyentuh air dia tidak dapat merasakannya. Haruka terdiam sejenak, kemudian dia segera berenang kedalam tanah yang berisikan air. Tanpa ragu ia terus bergerak sampai kedasar tanah.


"Ini ilusi, ini hanya ilusi." Dalam benak Haruka dengan perasaan teramat yakin.


Dia terus bergerak sampai kedasar tanah sampai ia menemukan setitik cahaya, yang terlihat semakin membesar dihadapannya. Tanpa rasa ragu Haruka dengan segera menghampiri cahaya berwarna putih yang terlihat seperti sebuah sinar mentari.


Perlahan ia mendendekati cahaya itu, dan ternyata saat ia berada didepan cahaya itu, semua tempat telah berubah menjadi gambaran didalam Istana Yu. Dengan kedua bola mata biru Haruka, dia menyaksikan Pangeran Kichiro tengah dibawa oleh sekelompok orang yang mengenakan pakaian berwarna hitam. Terlihat Pangeran dibawa secara paksa, oleh sekelompok orang itu.


"Tidak ini hanya ilusi, ini tidaklah nyata!" Ucap, Haruka dengan perasaan yakin.


Dihadapannya Pangeran akan dibunuh dengan sebuah gada besi, oleh seseorang yang tengah berdiri dihadapan Pangeran Kichiro. Tak lama Haruka menoleh kearah samping dia melihat Putri Yuri tengah berjalan dengan langkahnya yang perlahan, sambil menatap Pangeran Kichiro dengan raut wajah licik.


"Akh...!" Teriak Haruka sambil menyentuh mata kanannya dengan tangan kanan Haruka.


"Ada apa ini! Ini hanya ilusi, ini hanya ilusi." Ucap, Haruka sambil memejamkan kedua matanya yang teramat begitu sakit.


Kemudian dengan perlahan, Haruka membuka matanya, dia nampak begitu tercengang saat Pangeran Kichiro dibunuh oleh orang-orang yang selama ini selalu berada disampingnya.


"Tidak mungkin, tidak mungkin." Ucap, Haruka dengan perasaan sedih.


Haruka masih memperhatikan kejadian yang begitu amat tragis dihadapannya. Tubuhnya bergetar, dengan perlahan dia mengepalkan telapak tangannya. Namun, saat dia ingin menghampiri Kichiro tiba-tiba saja kedua matanya ditutup oleh sebuah tangan, dan terdengar seseorang tengah berbisik lirih disampingnya.


"Semua, sudah berakhir Zie." Ucap, Xiao kemudian dengan perlahan cahaya putih memenuhi tubuh mereka, dan tak lama Xiao akhirnya melepaskan tubuh Haruka.


Haruk yang terkejut segera memperhatikan wajah Xiao dengan perasaan curiga.


"Tidak, aku merasa ada kejanggalan disini, mengapa dia dapat mengenal Kichiro, dan membuat ilusi seperti itu?!" dalam benak Haruka yang terlihat begitu curiga.


"Kau adalah Zie." Ucap, Xiao sambil tersenyum manis didepan Haruka.


"Aku masih tidak mempercayainya." Ucap, Haruka dengan tegas.


Xiao Chen kemudian memperlihatkan raut wajah senangnya kepada Haruka, dengan perlahan dia segera mendekati Haruka.


"Kau masih saja tidak mempercayaiku." Ucap, Xiao yang segera mendekati tubuh Haruka.


Haruka yang melihat hal itu, dengan segera berjalan mundur untuk menghindari Xiao Chen. Xiao Chen yang menyadarinya segera mengangkat telapak tangan kanannya.


"Kau bisa melihatnya sendiri, dari telapak tanganku ini." Ucap, Xiao yang segera mengeluarkan kekuatan berupa gumpalan air yang segera memperlihatkan wajah Haruka yang seketika berubah, mata kanannya kembali berwarna merah dengan simbol bintang hitam dengan ukuran yang kecil.


Haruka saat melihat hal itu nampak dibuat terkejut, ia tidak menyangka mata itu datang lagi kepada dirinya. Dengan segera Haruka menyentuh mata kanannya, dan menatap wajah Xiao dengan pandangan dingin bagai es itu.


"Apakah begini caramu berterima kasih kepada dewa penolongmu?" ucap, Xiao dengan menunjukkan wajah tampannya dihadapan Haruka.


"Oh, aku berhutang budi padamu, lain waktu aku pasti akan membalasnya, kau tenang saja." Ucap, Haruka dengan tegas.