
Xiao yang melihat raut wajah Haruka yang dipenuhi dengan hawa mengerikan, kemudian dia segera menyimpulkan bahwa orang yang menantang Haruka adalah seseorang yang telah mengusik hidupnya.
"Dengan siapa kau akan bertarung, ya aku tau dimana tempat itu." Ucap, Xiao Chen sambil menatap wajah Haruka yang tengah berada dihadapannya itu.
Haruka kemudian segera terbangun dari duduknya sambil menyentuh meja makan itu dengan kedua telapak tangannya. Haruka berjalan untuk menghampiri sebuah jendela kaca yang berada dibelakangnya itu. Dia menatap langit malam dari balik jendela dengan tatapan dingin yang nampak mencekam.
"Yuri, seorang Putri dari Negeri seberang, dia yang telah menantang diriku untuk bertarung dengan dirinya!" Ucap, Haruka dengan tegas.
Xiao Chen nampak terkejut saat Haruka bisa-bisanya berurusan dengan wanita itu, dengar-dengar dia adalah seorang Putri tunggal dari Raja Age, dan mendiang Ratu Yu er, dia adalah seorang Putri yang kasar semua keinginannya harus dia dapatkan dan itu tidak terkecuali meskipun hanya sesuatu hal kecil yang tidak bermakna saja jika dia menginginkannya maka harus dia dapatkan.
"Hm, dia adalah seorang wanita yang kasar dan licik, maka berhati-hatilah dengan dirinya, hmm lantas apa yang telah kau perbuat hingga membuatnya begitu murka terhadap dirimu?" tanya Xiao Chen sambil berdiri dari duduknya.
Haruka yang masih menatap langit malam, kemudian segera mengangkat tangan kanannya, dia mengepalkan telapak tangannya itu sampai menyentuh kaca jendela.
"Aku tidak pernah melakukan suatu kekeliruan, aku hanya berkata berdasarkan kenyataannya namun dia yang sangat ingin dilihat sempurna oleh orang lain, malah berlaku semena-mena hingga membuatnya terlihat sangat konyol, dan itu tidaklah pantas disebuat seorang Putri dari suatu kerajaan, menjadi budaknya pun dia tak pantas." Ucap, Haruka dengan raut wajah dinginnya.
Xiao Chen nampak bingung sebenarnya apa yang telah diperbuat oleh Putri Yuri hingga membuat Haruka menjadi sangat kesal, dan terkesan membencinya.
"Hmm, kalau begitu jadi kapan kau akan bertarung dengannya?" tanya Xiao sambil berjalan untuk menghampiri Haruka.
Haruka yang tengah berdiri didepan kaca jendela kemudian dia segera membalikkan tubuhnya sambil menatap wajah Xiao Chen yang tengah berada dihadapannya itu.
"Aku masih memiliki waktu satu malam lagi, dan baiknya esok pagi aku melatih semua kekuatan yang sudah aku dapatkan." Ucap, Haruka dengan raut wajah seriusnya.
Xiao Chen hanya terdiam sambil menatap wajah Haruka, kemudian pria itu segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Haruka, Xiao Chen sedikit menoleh ke arah belakang sambil melirik Haruka.
"Kalau begitu segeralah untuk beristirahat, kau harus menyiapkan tenagamu untuk esok hari lagi." Ucap, Xiao Chen yang kemudian segera memalingkan wajahnya dan bergegas menuju salah satu ruangan, perlahan pria itu membuka pintu kamar dengan menggenggam daun pintu, tak lama dia segera memasuki ruangan itu.
Haruka yang melihatnya hanya terdiam, kemudian dia segera memutar tubuhnya untuk menatap kembali langit malam dari balik kaca jendela itu.
Suasana dimalam dalam Istana milik Xiao Chen itu nampak sunyi dan sepi, membuatnya merasa sangat nyaman saat berada ditempat itu.
Ditempat lain, Norr yang masih memeluk tubuh Kirana segera meletakkan wanita itu ditembok hitam, dia menyandarkannya dengan perlahan. Norr melihat tubuh Kirana yang nampak lemas, pakaiannya pun terlihat sangat kotor dan rusak, Norr yang saat itu tengah mengenakan jubah berwarna merah kemudian dia segera membukanya dan mengenakan jubah merahnya untuk menutupi tubuh Kirana, agar tidak kedinginan lagi.
Norr kemudian berjalan untuk menghampiri Leo yang saat itu masih belum sadarkan diri juga, Norr kemudian dengan perlahan menyentuh tubuh Leo yang masih tergeletak di atas lantai.
"Leo, Leo, kumohon sadarlah." Ucap, Norr sambil menggoyang-goyangkan tubuh Leo dengan tangan kanannya.
Leo yang sudah tersadar membuat Norr merasa sangat lega, segera Harimau itu terbangun sambil menatap wajah Norr dia kemudian segera bertanya pada Norr.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Leo dengan perasaan bingung. Karena pada saat itu dia tengah berjaga-jaga didalam gubuk milik Kirana, dan tak lama ada sekelompok orang dengan mengenakan penutup wajah menghadangnya, tanpa sempat melakukan perlawanan dirinya sudah tidak ingat apapun lagi.
"Ceritanya sangat panjang, kini lebih baik kita semua segera pergi untuk meninggalkan tempat ini." Ucap, Norr yang segera membalikkan tubuhnya dan berjalan untuk menghampiri Kirana yang masih tidak sadarkan diri.
Leo yang melihat hal itu nampak dibuat terkejut, dia tidak lah tau apa yang sudah terjadi kepada Kirana hingga membuatnya tidak sadarkan diri, juga dia tidak melihat Haruka ditempat itu.
"Ada apa dengan dirinya?!" ucap, Leo dengan tampang bingung.
Norr yang tengah berada dihadapan Kirana kemudian dia segera mengangkat tubuh wanita itu dengan perlahan, dan meletakkan kepalanya tepat didada pria itu, dengan sangat lembut Norr menatap wajah Kirana.
Leo yang melihat hal itu sungguh dibuat tercengang dengan sikap Norr yang tiba-tiba berubah terhadap Kirana.
"Norr ada apa dengan dirimu? Bukankah Kirana...." Belum sempat Leo melanjutkan ucapannya, Norr yang tengah menggendong tubuh Kirana kemudian segera membalikkan tubuh dan menatap wajah Leo yang terlihat sangat bingung dengan sikapnya kali ini terhadap Kirana.
"Memang aku tidaklah suka saat melihat sikap Kirana yang begitu sangat bergantung pada Haruka, namun jika bukan karenanya mungkin saat ini aku sudah tiada, kini aku sadar dia berlaku seperti itu karena dia memanglah tidak memiliki sandaran untuk berdiro tegak, dan jika dilihat dari segi kekuatannya juga tidak lah seberapa, maka dari itu dia bergantung pada Haruka, meskipun itu salah namun aku dapat mengerti sekarang bagaimana kondisinya saat ini." Ucap, Norr sambil menatap wajah Kirana yang terpejam.
Leo yang mendengar hal itu dari Norr, kemudian dia juga segera tersadar tidak seharusnya dia berlaku buruk terhadap Kirana, apa yang dikatakan Norr itu memanglah benar, namun kini yang membuat Leo sedikit merasa ada yang salah dari sikap Norr adalah ketika dia menatap wajah Kirana yang sepertinya dia tengah menyimpan sebuah makna yang tersirat dari kedua bola matanya itu.
"Hm, Norr kita harus segera pergi dari tempat ini bukan, dan menemukan Haruka, kau belum menjelaskan dimana keberadaan wanita itu." Ucap, Leo dengan tegas.
Norr yang mendengarnya kemudian segera tersadar, segera dia menoleh ke arah Leo, dengan segera Norr menjawab tanya dari Leo.
"Aku tidaklah tau dimana dia saat ini, namun sepertinya dia akan baik-baik saja, karena pada saat itu aku melihat ada seseorang yang membantu Haruka, kemudian dia membawa Haruka pergi dari tempat itu, hm tetapi bukankah beberapa hari lagi dia harus bertarung dengam si Yuri itu, mungkin kita akan bertemu dengannya ditempat itu." Ucap, Norr dengan tegas.
Leo yang mendengarnya kemudian segera menatap wajah Norr dengan serius, Leo yang menatap tubuh Kirana yang semakin memucat kemudian dia segera memerintahkan kepada Norr untuk menunggangi tubuhnya.
"Sepertinya tubuh dari Kirana semakin memucat saja, lebih baik sekarang kau berhenti untuk berbicara dan segeralah naik kepunggungku." Ucap, Leo dengan tegas.
Norr yang mendengar hal itu kemudian segera menatap wajah Kirana, dia berjalan menuju salah satu ruangan yang berada disampingnya, dengan segera Norr membaringkan tubuh Kirana diatas kasur hitam itu.
"Aku akan berusaha untuk menyembuhkannya terlebih dahulu, dia hanya kehilangan semua tenaganya saja karena kekuatan dari mata teratai." Ucap, Norr dengan tegas.