
Putri Kirana yang sudah siap untuk menyerang Xiao Chen dengan cepat dia segera nyerang tubuh Xiao Chen menggunakan Pedang merahnya itu, Xiao Chen yang masih terdiam dengan segera ia menepis Pedang milik Putri Kirana saat sudah berada dihadapannya itu, Putri Kirana nampak terkejut saat melihat Xiao Chen dengan cepat dapat menepis serangan yang ia berikan. Namun, hal itu tidak langsung membuat Putri Kirana gentar pastinya, dia masih sangat ingin beradu dengan Xiao Chen.
"Hm, dia memanglah cukup kuat, aku tau itu, apakah aku harus mengeluarkan kekuatan mata teratai yang aku sudah miliki itu? Hmm, baiklah tidak ada salahnya untuk mencoba, meskipun kau bukanlah siluman tetapi coba kita lihat apakah kekuatanku mampu mengalahkan dirimu, hey pria tengik!" Dalam benak Putri Kirana yang merasa sangat kesal terhadap Xiao Chen.
Tak lama kemudian lengan Putri Kirana segera ia angkat dihadapan Xiao Chen, Xiao Chen yang masih terlihat begitu sangat tenang, seakan hanya ingin mengetahui seberapa hebat kekuatan Mata Teratai milik Putri Kirana, tanpa ia serius dalam melawan Putri Kirana.
Putri Kirana yang tengah mengeluarkan kekuatan Mata Teratai yang sudah ia miliki itu terlihat begitu sangat serius dalam menghadapai Xiao Chen, sedangkan Xiao Chen hanya memperhatikan diri Putri Kirana saat ia tengah mengeluarkan kekuatan Mata Teratai dihadapannya itu.
"Mata Teratai terbukalah!" Ucap, Putri Kirana sambil mengangkat lengan kanannya dihadapan Xiao Chen.
Sebenarnya Xiao Chen bisa saja dengan mudah untuk mengalahkan Putri Kirana saat ia tengah mengelurkan kekuatan Mata Teratai, namun mengalahkan dirinya bukanlah yang dia inginkan, melainkan dia hanya sangat ingin mengetahui seberapa hebat kekuatan dari Mata Teratai itu. Kekuatan penyegel para Monster, Siluman dan para Iblis, hm, kekuatan yang cukup kuat, namun hal itu tidak akan ada artinya jika ia gunakan untuk mengalahkan seseorang yang bukanlah berasal dari bangsa Iblis, Monster maupun Siluman, jadi tetap saja kekuatan itu memiliki beberapa kelemahan dalam kondisi tertentu.
Dengan segera disamping kanan Xiao Chen terlihat sebuah cahaya berwarna hitam dengan bentuk yang menyerupai bunga teratai, dengan warna yang hitam pekat, Xiao Chen yang masih terlihat begitu tenang hanya terdiam kemudian dia segera menatap wajah Putri Kirana yang saat itu masih tengah berada dihadapannya.
"Hei, kekuatan yang kau miliki itu tidaklah sebanding dengan kekuatanku! Lagipula kekuatan yang kau miliki masih kalah jauh dengan kekuatan milik Haruka, hm.. Tetapi jika kau ingin kekuatanmu itu sebanding dengan Haruka, dan kau dapat sejajar dengan dirinya, aku bisa membantumu." Ucap, Xiao Chen dengan sorot mata yang begitu tajam.
Putri Kirana yang terlihat begitu sangat tidak mengerti dengan apa yang sedang Xiao Chen katakan, membuat dirinya dengan nafsu terus menyerang Xiao Chen, pusaran hitam dengan gambar bunga teratai terlihat semakin membesar disamping mereka, Xiao Chen yang melihat diri Putri Kirana yang tidak bisa diajak kerja sama membuat dirinya merasa sedikit kesal dengan wanita itu.
"Hei! Aku ini tengah berbicara serius kepada dirimu! Lagipula untuk apa diriku menginginkan kekuatanmu yang seperti itu, apakah kau tidak berpikir kekuatan yang aku miliki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang kau punya." Ucap, Xiao Chen yang terlihat sangat serius dihadapan Putri Kirana.
Tetapi Putri Kirana seakan tidak perduli dengan ucapan dari Xiao Chen kepada dirinya, karena Haruka berkata pria itu memiliki niat buruk bagi hidup Haruka, jadi apapun yang Xiao Chen katakan, dan apapun yang dia iming-imingkan kepada dirinya, hal itu tidak akan pernah bisa merusak pertemanannya dengan Haruka.
"Jika kau berkata bahwa kekuatanmu itu jauh lebih tinggi, lalu mengapa kau tidak menghadapi diriku saja! Kau bilang kekuatanmu lebih tinggi, tetapi bagiku otakmu tidak setinggi ucapanmu!" Ucap, Putri Kirana dengan tatapannya yang begitu tajam, raut wajahnya pun terlihat begitu mengerikan.
Dalam benak Xiao Chen saat mendengar ucapan dan sikap dari Putri Kirana, hilanglah sudah semua dugaan-dugaannya tentang Putri Kirana, Xiao Chen ternyata sudah salah menilai diri Putri Kirana, ternyata dia adalah wanita yang begitu cerdik, dan tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun dan dengan apapun, Xiao Chen sungguh sangat tidak menyangka semuanya akan terlihat begitu menyulitkan dari perkiraannya.
"Hmm, sadis sekali ucapanmu itu! Aku datang menemui dirimu, hanya ingin mengajukan sebuah kerja sama, kau akan mendapatkan kekuatan yang begitu besar, dan kau akan menjadi seorang Putri yang paling kuat, dapat mengalahkan musuhmu dengan mudah, aku tau kau sudah kehilangan semuanya, dan kau tengah mencari cara untuk dapat membalaskan dendammu, benar bukan?" ucap, Xiao Chen dengan sikap penuh dengan kewaspadaan.
Putri Kirana nampak terkejut saat Xiao Chen berkata seperti itu kepada dirinya, tidak dapat ia elakkan semua ucapan Xiao Chen benar adanya, namun tidaklah mungkin Xiao Chen dengan tiba-tiba menemui dirinya dan berkata akan memberikan dirinya sebuah kekuatan tanpa adanya sebuah syarat tertentu, jadi Putri Kirana harus berhati-hati dengan Xiao Chen yang terlihat sangat licik itu.
"Jangan sok tau! Seolah-olah kau adalah Dewa yang mengetahui kisah hidup seseorang, dan bagaikan Malaikat yang datang dengan tiba-tiba sambil memberikan hadiah, kau pikir kau itu siapa! Aku tidak butuh kekuatanmu, aku tidak pernah butuh bantuan dari dirimu, dan aku tidak pernah ingin menjadi seorang wanita yang kuat jika itu harus dengan perantara orang lain, apalagi orang asing seperti dirimu! Pergilah dari hadapanku sekarang juga, jika tidak ingin kuhabisi nyawamu ditempat ini! Oh iya, aku teringat dengan satu hal didunia ini tidak ada yang gratis, jadi aku tau maksud dan tujuanmu, mengikuti diriku dan seolah-olah telah menjadi seorang Dewa yang akan mengabulkan setiap keinginan seseorang!" Ucap, Putri Kirana dengan raut wajahnya yang begitu dingin.
Xiao Chen yang mendengar ucapan dari Putri Kirana yang begitu sangat keras kepala, sungguh tidak dapat berkutik lagi, bahkan ia tidak dapat sedikitpun memancing Putri Kirana, sungguh sial, malam ini Xiao Chen telah dipermalukan oleh seorang wanita, rencananya terbaca dengan sangat jelas oleh Putri Kirana.
"Hm, baiklah jika kau tidak menginginkannya, terserah saja, tetapi aku tidak ingin bertarung dengan diriku, aku hanya takut kau mati mati ditanganku!" Ucap, Xiao Chen dengan raut wajah liciknya dihadapan Putri Kirana.
Putri Kirana yang mendengar ucapan Xiao Chen terdengar begitu sangat serius, dan lantang dihadapannya itu, bukan membuat diri Putri Kirana takut, namun sebaliknya ia malah berbalik tersenyum licik dihadapan Xiao Chen.
Xiao Chen yang melihat reaksi dari Putri Kirana yang terlihat sedikitpun tidak merasa takut dengan dirinya, malah sebaliknya ucapan Putri Kirana lah yang membuat dirinya merasa sangat kesal. Hingga membuat Xiao Chen menghilang dari hadapan Putri Kirana.
Putri Kirana yang terlihat terkejut karena Xiao Chen dengan segera menghilang dari pandangannya, membuatnya melirik kearah samping kanan, dan kiri, dia hanya berpikir bahwa Xiao Chen masih berada disekitarnya, namun dia tengah menggunakan kekuatannya saja agar Putri Kirana tidak dapat menyerang dirinya, Putri Kirana terlihat masih begitu fokus memperhatikan sekitar, sampai dia merasa bahwa Xiao Chen memanglah telah pergi dari dalam hutan.
Tak lama kemudian Putri Kirana segera menurunkan lengan kanannya, dan tak lama pusaran hitam yang berada disamping kirinya itu menghilang dari pandangan dengan perlahan.
"Hm, dasar pria pengecut, beraninya bermain-main dengan diriku!" Ucap, Putri Kirana dengan tegas.
Tak lama kemudian Putri Kirana segera memperhatikan langit-langit malam, yang sudah hampir terang, pepohonan ditempat itu tidaklah terlalu lebat, sehingga dapat memudahkan dirinya untuk melihat langit. Saat Putri Kirana melihat hari sudah hampir pagi, hal itu membuat dirinya terpaksa untuk mengurungkan niatannya yang ingin melihat kondisi Istananya saat ini, dengan perasaan kesal Putri Kirana segera berjalan untuk kembali ke rumah kayu, sebelum Norr dan Haruka menyadari bahwa dirinya tidak ada didalam kamar.
"Ini semua karena pria aneh itu! Sial sekali aku dapat bertemu dengan dirinya!" Ucap, Putri Kirana yang segera pergi meninggalkan tempatnya, dan kembali kedalam rumah kayu yang terletak ditengah hutan.
Dengan langkah cepat Putri Kirana segera pergi untuk kembali kedalam rumah kayu, sambil meloncati beberapa dahan pohon besar dihadapannya. Sedangkan ditempat lain terlihat Xiao Chen tengah duduk diatas kursi besarnya, dengan raut wajah kesal dia begitu sangat marah, dia tidaklah menyangka ada seseorang yang berani menolak penawarannya itu, dan lagi dia hanyalah seorang wanita lemah seperti Putri Kirana.
"Sialan!" Ucap, Xiao Chen dengan perasaan kesal terhadap Putri Kirana.
Sedangkan didalam Istana Yu, suasana didalam ruangan Kaisar Yu terlihat sangat sunyi, tidak ada lagi perbincangan diantara mereka, hanya terlihat raut wajah penuh amarah dan raut wajah yang begitu dingin dari ketiganya, hingga membuat suasana didalam ruangan itu terasa sangat mencekam, dan sangat canggung.
Putri Yuri yang masih berada diluar ruangan, masih saja setia kepada pintu besar yang tertutup rapat itu, sedari tadi dia terus saja diam diluar ruangan Kaisar Yu, sambil terus mendekatkan telinganya pada pintu masuk ruangan Kaisar Yu itu, kantuk pun ia hiraukan, dingin yang begitu menusuk sampai ketulangnya pun tidak ia permasalahkan, bahkan serangga terbang yang datang untuk sekedar makan pun ia hanya nampu mengusirnya dengan perlahan-lahan, sungguh Putri Yuri tidak dapat mengetahui sebenarnya apa yang tengah bicarakan didalam sana, karena suasana yang semula begitu ricuh dengan perlahan menjadi sunyi.
Putri Yuri yang sudah tidak sanggup lagi berada ditempat itu dengan segera ia terbangun dari duduknya, sambil menggaruk-garuk seluruh tubuhnya yang terasa sangat gatal dan sakit akibat gigitan dari serangga, tubuhnya terlihat bentol-bentol dengan warna merah, membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman.
"Ah sialan! Dasar serangga sialan! Sudahlah lebih baik aku kembali saja kedalam kamarku, dan menyembuhkan tubuhku yang terasa gatal ini, urusan ayah itu bisa aku atur dengan mudah, lebih baik segera pergi saja dari tempat ini, sebelum mereka mengetahui keberadaanku disini." Ucap, Putri Yuri yang segera pergi untuk meninggalkan ruangan Kaisar Yu, sambil terus menggaruk tubuhnya yang terasa gatal itu.
Tak lama kemudian Pangeran Kichiro yang merasa sudah sangat jenuh berada ditempat itu membuat dirinya segera berbicara kepada diri Kaisar Yu dengan suaranya yang terdengar begitu tegas, dan sorotan matanya yang begitu tajam.
"Baiklah, jika anda tidak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, tak apa, saya bisa bisa mencari kebenarannya itu dengan sendiri, permisi, selamat malam." Ucap, Pangeran Kichiro dengan perasaannya yang begitu kesal terhadap Kaisar Yu.
Pangeran Kichiro kemudian segera berjalan untuk keluar dari dalam ruangan Kaisar Yu, Kaisar Yu yang melihatnya hanya mampu terdiam dia sangatlah tidak berani berkata apapun terhadap Pangeran Kichiro, karena dia adalah aset berharga bagi dirinya, lebih tepatnya adalah kekuatan dari Pangeran Kichiro yang begitu hebat itu adalah suatu hal yang harus dijaga dengan baik, dan Kaisar Yu tidak boleh kehilangan Pangeran Kichiro apapun yang terjadi.
Sedangkan Pangeran Rendra yang masih berada didalam ruangan Kaisar Yu hanya terdiam seribu bahasa, dia begitu sangat tidak mengerti dengan semua yang terjadi, dengan sebuah rahasia yang tengah Kaisar Yu sembunyikan, dengan sebuah kebenaran yang seharusnya ia ketahui, percaya? Mungkin dahulu mereka berdua dapat mempercayai Kaisar Yu yang mereka anggap sebagai ayah mereka. Patuh? Mungkin mereka dahulu dapat patuh dengan semua perintah dari Kaisar Yu, karena dahulu mereka tidaklah tau bahwa sebenarnya Ayah yang begitu kejam ini ternyata bukanlah Ayah kandung mereka, pantaskah seorang anak patuh dengan semua tindakan yang begitu tidak adil bagi mereka?.
Kini Pangeran Rendra harus kembali mencari kebenaran yang sudah ditumbuk dengan sangat halus, bahkan sudah hampir menghilang itu, kedua Pangeran itu merasa telah dibohongi, Pangeran Kichiro yang tengah berjalan untuk pergi meninggalkan Istana Yu, sungguh merasa sangat kesal dengan semuanya, hingga tak lama kemudian Pangeran Rendra yang masih berada didalam ruangan milik Kaisar Yu, segera ia pergi untuk meninggalkan Kaisar Yu sendiri didalam ruangan pribadinya itu.