Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
196


Pangeran Kichiro hanya terdiam kemudian dia segera meninggalkan Putri Yuri sendirian, Putri Yuri yang melihat hal itu kemudian nampak kesal, dia segera memukul kedua tangannya ke lantai dengan cukup keras. Tak lama Putri Yuri segera terbangun dari sujudnya. Dia berjalan ke arah tempat rias, Putri Yuri membuang semua barang yang berada di atas meja, dengan perasaan marah dan kesal.


"Mengapa! Dia hanyalah seorang budak, tetapi mengapa martabatnya begitu tinggi dihadapan Pangeran Kichiro, Ahh... Aku sungguh sangat membenci dirimu Hanna." Ucap, Putri Yuri sambil menatap wajahnya sendiri didepan cermin.


Kemudian dengan segera Putri Yuri memukul cermin itu dengan tangannya.


"Sialan!" Bentak Putri Yuri dengan kesal.


Kini cermin dihadapannya retak dan bercak darah berwarna merah memenuhi cermin yang retak itu, lengan kanan Putri Yuri terluka, darah segar mengalir dari dalam lukanya. Dia terlihat begitu kesal, dan marah terhadap sikap Pangeran Kichiro yang selalu saja mengungkit tentang Putri Hanna saat tengah bersama dengan dirinya.


"Apa bagusnya wanita ini dimatamu Pangeran!" Bentak, Putri Yuri dengan perasaan marah.


Hmh, jika aku berjumpa dengan dirimu sudah dipastikan kau akan mati ditangangku hai Putri pembawa sial!" Ucap, Putri Yuri dengan sepasang mata membunuh.


Tak terasa hari sudah semakin siang, Norr, Leo sejak semalam tetap terjaga, Norr yang tengah menggendong tubuh Kirana tampak tak ingin melepaskan wanita itu.


Norr selalu beralasan bahwa Kirana tengah terluka, meskipun sudah beberapa kali Kirana membantah dan berkata dia baik-baik saja. Namun, Norr nampaknya tidak ingin mendengar alasan apapun dari dirinya.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup panjang, dan memakan waktu yang tidak singkat. Namun, nampaknya mereka sudah sampai di Lembah kematian, Norr menatap ke arah depan dia melihat sebuah lembah yang tandus, kering dan rusak. Semua nampak tidak terlihat baik, Kirana yang melihatnya kemudian meminta kepada Norr agar dapat menurunkan dirinya.


"Turunkan aku." Ucap, Kirana dengan tegas.


Norr yang tengah menatap sebuah Lembah dihadapannya kemudian dia segera menundukkan kepalanya dan menatap wajah Kirana, dengan tegas Norr segera berbicara kepada Kirana dengan sepasang mata yang tidak lari untuk memandang kedua bola mata Kirana.


"Kau ini berisik sekali, bagaimana caranya agar kau tetap diam tanpa terus berbicara?" ucap, Norr dengan tampang dinginnya.


Kirana yang melihat hal itu nampak kesa dibuat Norr, dia rasa kali ini sudah melakukan hal baik untuk kedua pria itu. Namun, Kini Norr malah tidak puas dengan dirinya dan menunjukkan tampang itu lagi kepada diri Kirana.


"Aku hanya meminta dirimu untuk menurunkan aku, aku tidaklah selemah itu apa kau tau!" Ucap, Kirana dengan raut wajah kesal kepada Norr.


Norr nampak tersentak saat Kirana berkata dengan nada tinggi kepada dirinya, sebelumnya dia hanya terdiam namun kini Norr merasa Kirana sudah mulai berani.


"Bukan seperti itu maksud diriku, apa kau tidak lihat kondisi dirimu seperti apa? Jika kau terus saja keras kepala maka itu akan membuat tubuhmu semakin terluka." Ucap, Norr dengan penuh perhatian, kedua mata tajamnya pun menatap sepasang mata Kirana yang terlihat kesal dengan sikapnya.


Di dalam benaknya sungguh Kirana merasa bingung dengan sikap dari Norr, terkadang dia terlihat baik namun, terkadang pula dia terlihat kejam terhadap dirinya.


"Terima kasih, karena Tuan telah mengkhawatirkan saya, tetapi saya bukanlah seorang anak kecil yang patut untuk dirisaukan, turunkan saya sekarang juga!" Ucap, Kirana dengan raut wajah tidak suka.


Norr nampak terkejut dengan perubahan sikap yang Kirana tunjukkan biasanya dia nampak lembut. Namun, kali ini entah mengapa sifatnya begitu kasar dan dingin terhadap dirinya. Norr sempat berpikir bahwa Kirana masih kesal terhadap diri Norr, iya dia faham tidak mungkin dengan mudahnya Kirana melupakan tindakan buruk yang sudah Norr lakukan kepada dirinya.


Perlahan Norr segera menurunkan tubuh Kirana, Kirana hanya terdiam kemudian dia segera menginjak pasir yang berwarna kuning keemasan, rasa sakit pada tubuhnya masih dapat ia bendung. Namun, entah mengapa rasa sakit didalam hatinya tak dapat ia lenyapkan.


Kirana yang sudah berdiri dengan tegak kemudian menatap sebuah Lembah yang mengerikan nampak tandus, dia saat ini tengah membayangkan mungkin saja didalam sana terdapat Monster yang lebih berbahaya dari lawan-lawannya yang sebelumnya.


Kirana mulai berjalan untuk mendekat ke arah Leo yang saat itu tengah berada dihadapannya. Leo yang menyadari kehadiran dari Kirana kemudian dia segera memalingkan wajah untuk melihat Kirana, lirikkan mata dari Leo terlihat tajam segera dia berbicara kepada Kirana.


"Mungkin saja tempat ini akan jauh lebih berbahaya lagi, persiapkan dirimu baik-baik." Ucap, Leo dengan tampang tegas.


Kirana yang masih menatap ke arah Lembah segera dia melirik sedikit untuk melihat Leo yang tengah menasehati dirinya.


"Itu pasti." Ucap, Kirana dengan tegas.


Norr hanya terdiam kemudian mereka bertiga segera berjalan mendekat untuk memasuki Lembah kematian, yang konon katanya jika ada seseorang nekat untuk melewati tempat itu maka dia tidak akan pernah kembali dengan selamat, meskipun itu adalah seorang Pendekar sekali pun.


Kini mereka telah memasuki Lembah kematian Kirana mengamati tempat itu dengan sangat hati-hati dan penuh kewaspadaan yang cukup tinggi, Norr dan Leo yang tengah berjalan disamping Kirana juga terlihat saat berhati-hati dalam bergerak, karena mereka tidaklah tau akan seperti apa lawan yang mereka hadapi nantinya.


Bukan hanya mengandalkan kekuatan, namun disini mereka dituntut untuk bersikap tenang, tetapi tetap berwaspada. Tak lama kemudian saat mereka tengah menyusuri jalan Kirana dikejutkan dengan suara aneh dari dalam pasir, dari pandangan Kirana dia melihat dikejauhan nampak pasir itu bergerak dengan sangat cepat. Kirana menatap dengan tajam pasir yang bergerak semakin mendekat ke arah dirinya itu. Kemudian....


"Awas!" Ucap, Kirana yang segera mendorong tubuh Norr dan Leo ke arah samping, dengan cepat Kirana meloncat ke atas dan dia melewati sesuatu yang tengah berada didalam pasir itu.


Leo dan Norr sangat terkejut mereka tidaklah menyadari hal itu, semua berlalu dengan sangat pesat. Norr yang tengah berada disisi samping kemudian segera mengumpulkan kekuatannya untuk menyerang sesuatu yang tengah berada didalam pasir itu.


Tetapi sepertinya sesuatu yang tengah bersembunyi didalam pasir itu sedang mengincar diri Kirana, Kirana yang masih membelakanginya kemudian dia membalikkan tubuh dengan cepat, ditatapnya sesuatu yang tengah bersembunyi didalam pasir itu.


Kirana sempat berpikir sosok itu adalah Siluman Ular, namun nampaknya dugaan dari Kirana meleset, pasir yang tengah berada dihadapan dirinya kini semakin meninggi sampai membuat Kirana harus menengadahkan kepalanya ke atas untuk dapat mengetahui sosok apa yang tengah dihadapi oleh dirinya itu.


Tetapi sepertinya Kirana hanya tengah menghadapi sebuah pasir yang bergerak. Namun tidak mungkin benda mati dapat bergerak sendiri tanpa ada yang mengendalikannya. Kirana mulai berpikir bahwa lawan yang dihadapi oleh mereka semua bukanlah pasir itu melainkan seseorang yang tengah berada dibalik pasir itu.


Kemudian dengan segera Norr, Leo dan Kirana saling memandang satu sama lain. Nampaknya mereka juga tengah memikirkan hal yang serupa dengan apa yang tengah Kirana pikirkan.


Kirana kemudian terdiam sejenak sambil memperhatikan pasir yang tengah meninggi kini berada dihadapannya. Lalu tak lama kemudian pasir itu mengubah dirinya menjadi Monster pasir dengan tubuh yang sangat besar, pasir yang mereka injak bergoyang dengan cukup hebat, hingga membuat tubuh Kirana hampir terjatuh, namun semua berlangsung dengan sangat cepat, Kirana yang melihat hal itu kemudian dia segera mengeluarkan kekuatannya, Kirana mulai memutar Pedang merah yang saat itu tengah dia genggam, cahaya berwarna merah menyelimuti Pedangnya.


Kirana sedikit menggigit bibir bawahnya nampaknya dia agak goyah dengan kemampuannya, yang dia khawatirkan saat ini adalah jika saja pemilik dari kekuatan pasir itu adalah sosok yang lebih hebat dibandingkan dengan dirinya.


Karena menurut legenda kekuatan pasir adalah salah satu kekuatan terkuat, yang mampu meremukkan tubuh seseorang dengan mudah.