
Pangeran Kichiro yang masih merasa sangat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Dewa itu, membuatnya terus bertanya-tanya, Pangeran tidak dapat bertanya kepada Dewa lagit lagi karena, dia sudah pergi dari hadapan Pangeran Kichiro, kemudian Pangeran Kichiro segera meloncati dahan lainnya untuk dapat keluar dari tempat itu. Sambil terus memikirkan maksud dari ucapan Dewa langit.
"Apa maksudnya? Kembali ketempat asal? Jika aku bukan terlahir dari Dunia ini ataukah aku...? Tapi bagaimana bisa semua itu terjadi?" dalam benak Pangeran Kichiro yang merasa sangat bingung.
Dia terlihat masih memikirkan ucapan dari Dewa langit, yang ia ketahui dia hanya mewarisi kekuatan milik mendiang Ibunya Permaisuri Jian, ternyata hanya dirinyalah yang memiliki kekuatan itu, sedangkan kakanya yaitu Pangeran Rendra sama sekali tidak mewarisi kekuatan bundanya sendiri.
Sutu hal yang membuat Pangeran Kichiro merasa bahwa ucapan dari Dewa langit itu benar, adalah tidaklah mungkin seorang Dewa berdusta dalam berkata, dan lagi hidup semasa kecil sampai saat ini Pangeran Kichiro selalu seperti dianak tirikan oleh keluarganya sendiri, Pangeran Kichiro yang terlahir kuat sejak kecil, seolah dijadikan tameng untuk melindungi Istana Yu.
Hal itu sudah dirasanya sejak lama, sifat dan sikapnya pun sangat bertolak belakang dengan kakanya sendiri, namun Pangeran Kichiro selama ini tidak pernah berpikir bahwa dia bukanlah anak kandung dari ayah dan ibu yang telah merawatnya sejak kecil. Dia selalu merasa perlakuan ayah dan ibunya yang terkesan cuek, acuh dan dingin itu, hanyalah sebagai cara agar Pangeran Kichiro tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Hmm... Sungguh sangat naif, saat Pangeran berpikir seperti itu, kini ia telah dipertemukan dengan satu kunci jawaban yang memberikannya berjuta pertanyaan selama ini yang selalu tersimpan didalam hatinya.
Pangeran Kichiro terus bergerak untuk dapat keluar dari tempat itu, hatinya merasa sangat bingung, diantara dia harus senang atu sebaliknya. Namun, Pangeran Kichiro berusaha untuk tetap tenang, dia akan kembali kedalam Istana Yu. Yang sudah ia pastikan ayahnya Kaisar Yu, tengah menanti kedatangannya, bukanlah sambutan hangat yang pastinya Pangeran dapatkan, melainkan tekanan yang pastinya membuat diri Pangeran merasa tidaklah nyaman.
Yah... Apa boleh buat, itu adalah resiko baginya, menjadi bagian dari keluarga anak Kerajaan.
Di samping itu, Haruka telah sampai didalam Hutan. Dia melihat sebuah rumah kayu yang sangat rapi dan terbentuk dengan sangat baik, disamping rumah kayu itu terlihat sebuah lilin yang menyinarinya, Haruka merasa bahwa teman-temannya hari ini telah melakukan banyak hal tanpa ada dirinya.
Haruka kemudian melangkahkan kakinya untuk mendekati rumah kayu itu, lalu segera ia menganggkat lengan kanannya untuk mengetuk pintu dari rumah kayu, yang pada saat itu kondisinya tengah tertutup rapat.
Tok... Tok... Tok....
Suara ketukkan dari pintu yang terbuat dari kayu, membuat Putri Kirana, Norr, dan Leo yang saat itu tengah berbincang-bincang sambil duduk diatas kursi yang terbuat dari kayu menghentikan perbincangan mereka, Kirana kemudian segera berbicara kepada Norr dan Leo.
"Sepertinya itu Haruka." Ucap, Putri Kirana yang menatap wajah Norr dan Leo.
Norr dan Leo yang masih terduduk diatas kursi segera menatap wajah Putri Kirana, Putri Kirana tidak membuang waktu lagi untuk membiarkan Haruka berada diluar yang semakin gelap dan dingin itu sendirian. Putri Kirana segera bagun dari duduknya lalu, ia berjalan untuk membukkakan pintu, dan mempersilakan Haruka masuk kedalam rumah kayu. Dengan perlahan, Putri Kirana segera mengangkat lengan kanannya dan menggenggam daun pintu itu, ditariknya perlahan kemudian pintu segera terbuka.
Sebagian wajah Haruka terlihat, salah satu matanya terkena sinar dari dalam ruangan yang terang, setelah pintu yang dibuka oleh Putri Kirana semakin melebar, membuat seluruh Haruka dipenuhi dengan sinar. Putri Kirana kemudian segera mempersilahkan Haruka untuk masuk kedalam rumah.
Haruka kemudian segera melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah kayu itu, Haruka dengan perlahan berjalan untuk menghampiri kedua temannya, Norr dan Leo yang saat itu tengah terbangun dari duduknya.
Haruka segera mendekati kedua temannya, ia sangat paham teman-temannya sudah sangat menantikan kehadiaran dirinya, dan pastilah merekas sudah menyiapkan berbagak macam pertanyaan kepada diri Haruka. Haruka kemudian menyentuh bagian kepala dari kursi kayu yang salah satunya berada dihadapannya. Ia menariknya sedikit dan segera ia duduk diatas kursi kayu itu.
Putri Kirana yang tengah memperhatikan Haruka, kemudian dia segera memalingkan wajahnya untuk menatap pintu yang masih terbuka, dengan perlahan Putri Kirana menutup pintu dengan rapat.
Norr dan Leo tanpa basa-basi mereka segera bertanya kepada Haruka, dengan tampang penasaran Leo yang saat itu tengah duduk diatas kursi yang berbentuk persegi, dengan ukuran yang tidak terlalu tinggi, segera bertanya pada diri Haruka, yang saat itu baru saja sampai.
"Hal apa saja yang sudah kau lalui selama tidak bersama dengan kami? Lalu mengapa kau terlihat sangat dekat dengan Kichiro?" tanya Leo yang menatap tajam wajah Haruka.
Haruka yang mendengar ucapan dari Leo, segera ia menjawabnya, dengan raut wajah dingin dan terkesan sangag cuek itu.
"Banyak hal, banyak hal yang sudah aku lalui, saat Sharon ingin melukai diriku, tiba-tiba saja ada seorang pria yang membantu diriku, dan membawaku pergi, maaf tidak bisa membantu kalian." Ucap, Haruka yang tengah terduduk diatas kursi kayu sambil menatap wajah Leo dan Norr.
Kirana yang tengah berjalan untuk mendekati Haruka, kemudian dia segera memberikan jawaban dan juga pertanyaan untuk Haruka, sambil menyentuh kepala kursi kayu agar dia dapat duduk disamping Haruka.
"Tidak apa, toh kami selamat, pria siapakah pria itu? Dan mengapa dia ingin membantu dirimu? Seperti bukan sesuatu yang sangat kebetulan." Ucap, Putri Kirana yang menatap wajah Haruka dengan perasaan curiga.
Haruka yang tengah menatap wajah Leo dan Norr yang berada didepannya itu kemudian Haruka memalingkan wajahnya ke arah kanan untuk dapat menatap wajah Putri Kirana.
"Dugaanmu benar, itu bukanlah suatu kebetulan belaka, terselip maksud tertentu mengapa dia membantu diriku, dia berpikir aku adalah kawan lamanya, sosok seseorang yang menyelamatkan Dunia ini dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri itu bernama Zie, dan benar saja dugaan yang mengarah kepada diriku bahwa akulah Reinkarnasi dari wanita itu, dibenarkan dengan pria yang membantu diriku, dia bernama Xiao Chen." Jawab Haruka dengan tegas.
Putri Kirana, Leo dan Norr hanya terdiam sambil berpikir, lalu Norr yang tengah terdiam segera ia berbicara kepada diri Haruka, dan membuat Leo, Kirana dan Haruka memperhatikan diri Norr.
"Hmm, jadi pria itulah si pemilik Naga emas? Dan dirimu terlahir dari Dunia atas?" tanya Norr dengan tegas.