
Tepat tengah malam Kaisar Yu, tengah berjalan meninggalkan Istananya yang sudah hancur, dia menggenggam sesuatu didalam kepalan tangan kanannya, Kaisar Yu dengan perasaan waspada dia segera menuju Goa dekat perbukitan. Kaisar Yu terlihat begitu sangat yakin dengan apa yang akan dirinya lakukan terhadap Ratu Elang dan juga Suaminya.
Kaisar Yu menunggu sampai tengah malam bukan tidak memiliki alasan, dia bermaksud untuk mengalahkan Ratu dan Raja Elang Emas ketika mereka tengah lengah, tersadar akan kekuatan yang dia miliki tidak seberapa membuatnya melakukan hal semacam itu untuk dapat dengan mudah mengalahkan Raja dan Ratu Elang Emas.
"Hmh! Aku harus membunuh mereka, sebelum mereka yang membunuhku!" Dalam benak Kaisar Yu.
Dia berjalan dengan sangat tergesa, pertama karena tidak sabar dan yang kedua dia tidak ingin orang lain melihat dirinya yang sudah menjadi seperti itu. Kaisar Yu menatap Pegunungan yang sangat besar didalam pandangannyapandangannya, ia tersenyum tipis kemudian tanpa mengulur waktu lebih lama lagi diri Kaisar segera berjalan untuk dapat memasuki Goa tempat dimana Ratu Elang dan juga Raja Elang Emas tinggal.
Kaisar Yu berjalan dengan tergesa, sungguh Pria yang sangat tidak sabaran, sampai terjatuh-jatuh dirinya ketika ingin menuju Goa tempat dimana Ratu dan Raja Elang Emas tinggal, beserta dengan telur yang tengah ia cari.
Ketika sudah sampai dibibir Goa, Kaisar Yu menatap ke arah dalam, ia memperhatikan Raja Elang Emas dan j7ga juga Ratu Elang Emas tengah beristirahat disamping telur besar milik mereka.
"Aku harus mendapatkan telur itu, jika aku memakannya aku pasti akan menjadi sorang Pria yang tidak dapat terkalahkan oleh siapapun." Dalam benak Kaisar Yu yang terlihat dari raut Wajahnya tampang kelicikan.
Dengan perlahan Kaisar Yu berjalan untuk dapat memasuki Goa besar itu dan segera ia mendekati telur besar yang tengah bersinar-sinar dalam penglihatannya. Namun, sebelum ia mengambil telur yang ia inginkan itu Kaisar Yu segera mengeluarkan sesuatu dari dalam pakaiannya, sebuah botol dengan ukuran tidak terlalu besar kini tengah berada dalam genggamannya.
Kaisar Yu yang tengah berdiri dihadapan Ratu Elang dan juga Raja Elang, dirinya menatap kedua orang itu dengan tampang licik dan dingin, dia kemudian mengangkat lengannya tepat dihadapannya sambil memutar-mutar botol yang tengah berada dalam genggamannya itu.
Tetapi, tak lama kemudian Raja Elang memalingkan tubuhnya membuat diri Kaisar Yu merasa sangat terkejut dengan pergerakan tiba-tiba dari Raja Elang. Tatapan dari sepasang Mata milik Kaisar Yu dengan seketika telihat sangat bulat, kemudian dia terdiam sejenak sambil terus memperhatikan diri Raja Elang Emas, melihat tidak ada masalah dengan dirinya, membuatnya merasa sedikit tenang, tanpa pikir panjang lagi Kaisar Yu segera membuka botol itu kemudian dia berjalan untuk dapat semakin mendekati diri Raja Elang dan juga Ratu Elang, Kaisar Yu dengan perlahan meletakkan botol itu disamping keduanya.
Aroma yang keluar dari dalam botol itu terhirup oleh Ratu Elang dan juga Raja Elang Emas, Kaisar Yu terus menatap ke arah Raja dan Ratu yang tengah tertidur dengan sangat lelap, sambil menunggu aroma dari dalam botol itu bekerja. Tak lama kemudian Kaisar Yu segera menatap ke arah sangkar yang sangat besar berisikan telur yang begitu sangat ia inginkan.
"Datanglah pada ayah, hahaha!" Ucap, Kaisar Yu yang segera berjalan untuk dapat mendekati sangkar berisikan telur dengan sinar kemerahan yang menyelimutinya. Melihat Ratu Elang Emas dan juga Suaminya yang telah tidak sadarkan diri karena mereka telah menghirup aroma dari dalam botol milik Kaisar Yu. Membuat diri Kaisar Yu sangat leluasa untuk mengambil telur itu dari dalam sangkar dan menyantapnya untuk dijadikan santapan makan malam.
"Aku harus cepat-cepat memakan telur itu sebelum efek dari ramuanku hilang, hmh." Dengan segera Kaisar Yu menyentuh sangkar besar dengan warna keemasan dihadapannya. Sinar yang dipantulkan dari telur itu membuatnya sedikit kesulitan untuk mengambil telur itu dari dalam sangkarnya.
"Hiah!" Kedua telapak tangan Kaisar Yu segera ia angkat, dan ia perlihatkan tepat dihadapan telur itu, kekuatan yang dilancarkan oleh telur itu sepertinya lebih tinggi dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Kaisar.
"Sial! Kekuatanku belum pulih, karena pertarungan itu, tetapi bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan telur itu dan menjadi orang yang paling kuat, dan tidak akan ada satupun orang yang bisa mengalahkan diriku, hahaha!" Ucap, Kaisar Yu yang tengah berusaha untuk dapat mengalahkan telur itu.
°^°^°^
Sementara didalam Istana Raja Age, terlihat Putri Yuri tengah duduk diatas kasur, Lu Meng yang melihat sikap dari Putri Yuri yang murung membuatnya merasa sangat prihatin akan nasib dari keponakannya itu.
"Putri, sudahlah tidak perlu bersedih lagi." Ucap, Paman Lu Meng yang segera menyentuh Wajah Putri Yuri dengan telapak tangan kanannya.
Putri Yuri yang melihat sikap dari Pamannya, membuatnya merasa bahwa kasih sayang dari Pamannya tampak melebihi rasa sayang dari Ayahnya.
"Paman Lu, aku harus membalaskan kematian ayahku, aku tidak bisa menerima semua ini begitu saja, tolong pinjamkan aku Gada besimu, aku mohon kali ini saja." Ucap, Putri Yuri dengan penuh harap.
Paman Lu Meng yang melihat sikap dari keponakannya membuatnya merasa bergetar, rasa sayang juga iba membuatnya tak kuasa untuk menolak permintaan dari keponakannya itu. Namun, Lu Meng juga tidak ingin kehilangan Putri Yuri, setelah Raja Age gugur, ia tidak dapat membiarkan Putri Yuri meninggalkan dirinya untuk membalaskan kematian dari ayahnya.
"Tetapi, Paman tidak begitu yakin kau bisa mengalahkan Kaisar Yu, lagipula Istana Yu sudah hancur, meskipun aku tidak melihat jasad dari Kaisar Yu, tetapi dia pasti sudah sangat menderita, Paman mohon jangan pernah gegabah, pikirkanlah semuanya dengan cermat." Ucap, Paman Lu Meng yang tengah memandangi Wajah Putri Yuri dengan tampang iba dalam dirinya.
Putri Yuri yang melihat sikap dari Pamannya, juga penolakan yang ia dapatkan membuatnya merasa sangat kesal, dengan segera Putri Yuri menepis lengan Paman Lu Meng yang tengah membelai Wajahnya.
"Paman tidak pernah perduli dengan diriku! Aku benci pada Paman! Pergi! Biarkan aku sendiri! Pergi! Aku tidak butuh siapapun disampingku!" Bentak Putri Yuri yang segera mendorong tubuh Paman Lu Meng dengan sangat kencang.
Lu Meng yang segera menjauh dari diri Putri Yuri, dirinya tengah menatap Wajah Putri Yuri dengan tatapan kesal akan sikap keras kepala yang dimiliki Keponakannya itu.