Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
125


Hanna yang dengan raut wajah yang bisa dikatakan sangat dingin dan menyeramkan karena bola matanya berwarna biru dengan mengeluarkan sinar. Hanna berjalan mendekati Ayahnya yang tengah berada dihadapannya itu. Sambil memutarkan pedang pusaka Hanna dengan cepatnya berlari menuju kearah Ayahnya.


Kaisar Lin yang melihat hal itu segera mengeluarkan kekuatan yang dia miliki sebuah sinar berwarna merah memenuhi telapak tangan Kaisar.


Dengan cepat dia memberikan serangan itu kepada Hanna. Hanna yang tengah berjalan mendekat kearah Kaisar dengan mudahnya mengelak serangan itu, sehingga membuat Kaisar Lin semakin gentar untuk menghadapi Hanna.


"Siapa dia yang sebenarnya?." Dalam benaknya dengan panik.


Hanna tersenyum tipis melihat raut wajah dari ayahnya yang terlihat sangat panik.


Semua orang memandang Hanna, tidak ada satupun pandangan yang lepas untuknya. Hanna dengan tiba-tiba menggerakkan pedang pusaka kearah Permaisuri Ayunian dan Amuya yang berada didepan Istana.


Sinar biru segera keluar dari pedangnya dan mengarah ketubuh mereka berdua. Tanpa dapat mengelak karena serangan Hanna yang tiba-tiba membuat mereka berdua terluka cukup parah bahkan mulut keduanya mengeluarkan darah.


Semua orang yang melihat hal itu sungguh tidak menyangka terlebih lagi Kaisar Lin yang sudah terkecoh dengan permainan yang Hanna berikan.


Seluruh penjaga istana dan pelayan hanya terdiam melihat hal itu mereka sangat ketakutan jika membantu maka mereka lah yang akan menjadi mangsa Hanna selanjutnya.


Melihat tidak ada satupun orang yang membantu, membuat Kaisar Lin menjadi geram dengan nada membentak Kaisar Lin memerintahkan kepada penjaga dan pelayan istana untuk membantu Permaisuri Ayunian dan Amuya.


"Dasar kalian semua tidak berguna! Kuperintahkan kalian untuk membantu Permaisuri Ayunian dan juga puteri Amuya!."


Melihat hal itu perasaan Kaisar semakin geram dan membuatnya melontarkan kata yang menyinggung para pelayan dan prajurit istana.


"Tidak tau diuntung! Beraninya kalian membangkang perintahku! Jika kalian tidak membantunya maka aku akan membunuh kalian semua!."


Hanna yang melihat hal itu hanya tersenyum sinis. Terlihat sangatlah jelas bahwa penjaga Istana sangat takut pada diri Hanna.


"Heh! Kaisar, apa kau buta! Mereka semua takut kepada diriku!." Ucap Hanna yang tengah memandang wajah prajurit dan pelayan Istana yang gemetaran tubuhnya.


Kaisar Lin yang memandang wajah Hanna dengan sinis kemudian merendahkan martabatnya sebagai wanita sekaligus seorang puteri.


"Kau pikir siapa kau?! Lihat saja dirimu ini betapa sangat menyedihkannya kau Hanna! Kau tidak pernah pantas menjadi puteri dari kerajaan Lin, kau lebih pantas untuk mati." Ucap Kaisar dengan sinis.


Ucapan Kaisar Lin membuat Norr terbelalak mendengarnya dia dahulu sempat berpikir bahwa Kaisar Lin sangatlah menyayangi Hanna. Namun tidak disangka perlakuan Kaisar hari ini mengubur semua pemikiran Norr bahwa Kaisar Lin adalah orangtua yang baik.


"Apa kau hanya akan bertarung dengan mulutmu Kaisar?! Jika itu benar sungguh sangat disayangkan, aku tidak pernah suka untuk bermain-main dalam pertarungan! Tidak ada yang ingin mendengarkan perkataanmu itu. Jika kau muak dengan ku angkat pedangmu dan hadapi aku!."


Pandangan Hanna terlihat sangat menakutkan tatapan matanya tajam seperti Elang. Gerakannya seperti seekor Singa yang tengah kelaparan dan siap menerkam mangsa yang sudah berada didepan mata.


"Jangan kau kira air sungai yang tenang tidak berbahaya."