
Xiao Chen nampak begitu terkejut saat mendengar ucapan dari Haruka, pantas saja orang-orang itu begitu sangat menginginkan diri Haruka.
"Lalu bagaimana dengan sekarang, apakah kita akan tetap menyelamatkan teman-temanmu itu, atau kita kembali?" ucap, Xiao Chen dengan tampang yang begitu serius saat menatap wajah Haruka.
Haruka terdiam sejenak kemudian dia segera menghela napasnya, dia memikirkan bebarapa hal disamping harus menyelamatkan teman-temannya ia juga harus mengetahui kemampuan musuh yang harus ia hadapi nantinya.
"Aku percaya mereka pasti tidak akan dilukai oleh pria itu, karena yang ia inginkan sebenarnya adalah diriku. Kalau begitu lebih baik kita kembali, aku pasti akan berlatih dengan sangat keras, itu pasti." Ucap, Haruka dengan raut wajah seriusnya.
Xiao Chen yang melihat sikap Haruka yang begitu amat setia terhadap kawan-kawannya itu merasa sangat khawatir, jika nantinya hal itu malah akan membuat dirinya sendiri terluka.
"Haruka, kau juga harus memikirkan dirimu sendiri, jangan terlalu bersikap egois terhadap dirimu ini." Ucap, Xiao Chen dengan perasaan yang terlihat begitu sangat tidak suka terhadap perilaku Haruka yang terlihat begitu keras.
Haruka yang mendengar ucapan dari Xiao Chen nampak tersinggung dengan semua perkataan dari pria itu. Segera Haruka menolehkan kepalanya kearah samping, tatapan matanya terlihat begitu kesal terhadap Xiao Chen.
"Apa maksud dari ucapanmu itu?!" ucap, Haruka yang terlihat kesal terhadap Xiao Chen.
Xiao Chen nampak sangat terkejut saat ucapaannya ternyata telah membuat Haruka menjadi tersinggung. Dirinya sungguh merasa tak enak hati kepada Haruka.
Haruka yang mendengar ucapan dari Xiao Chen yang telah berbicara seperti itu terhadap dirinya membuatnya terdiam sambil memikirkan kembali ucapan dari Xia Chen.
Benar, jika dipikirkan lagi semua memang terlihat sangat konyol, entah dia akan mendapatkan apa dari semua pengorbanannya. Namun, saat ia ingin menyerah dan berpikir untuk menyudahi semuanya, lantas untuk apa dia memulai semua ini jika bukan karena sebuah kemauan? Ini bagaikan takdir yang sudah digariskan untuk hidupnya. Mau tidak mau, suka tida suka ia harus menerimanya.
Haruka kemudian segera meminta kepada Xiao Chen untuk memerintahkan kepada Naganya, agar membawa mereka kembali ketempat yang lebih rendah.
"Tidak perlu bertanya terus-menerus, kita harus kembali ketempat yang lebi rendah, aku akan segera mengamalkan semuanya yang berada dibuku kuno mili Zie, oh ya Chen, tindakanku mungkin terlihat begitu egois. Namun, jika bukan diriku lalu siapa lagi?" ucap, Haruka yang segera memalingkan bawahnya.
Xiao Chen yang mendengar ucapan dari Haruka, sungguh merasa amat kagum. Mungkin jika orang lain yang harus menerima tanggung jawab seberat ini, pastilah ia juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah Haruka lakukan.
"Baiklah, Rong kembali ke Istana." Ucap, Xiao Chen yang segera memerintahkan kepada Naga emasnya untuk berbalil arah, dan segera kembali ketempat mereka semula.
Haruka menatap langit biru yang terlihat sangat cerah, kedua bola mata biru itu menyaksikan keindahan yang begitu menawan, setiap saat selalu disajikan, setiap hari selalu hadir. Namun, terkadang langit yang cerah tidak pernah dikagumi, seringnya mereka menatap langit, tetapi yang membuatnya kagum adalah hadirnya mentari, dan bulan. Bukanlah langit yang setiap saat selalu hadir tidak seperti mentari dan bulan yang akan lenyap ditelan awan.