Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
26


"Hanna kita akan pergi kemana? tanya Leo.


Hanna memejamkan matanya dan merasakan keberadaan Norr. "Bukit Hitam." Ucapnya sambil membuka mata.


Harimau Putih segera berlari dengan cepat. "Baik kita akan segera kesana."


Bukit Hitam.


Yuan tergeletak diatas punggung Norr yang tak sadarkan diri, Hanna yang melihatnya segera berjalan mendekat.


"Hanna dia sangat terluka parah, kau harus cepat mencari obat untuk menyembuhkannya." Ucap Leo yang menatap tubuh Yuan yang lemah.


Hanna segera mendekati Yuan. "Aku tau." Ia segera menyentuh wajahnya. "Aku akan menyembuhkanmu."


"Lukanya cukup dalam dan terlebih lagi panah itu sudah dilumuri racun, cepat atau lambat jika dia tidak segera diobati maka pelayanmu ini akan kehilangan nyawanya." Ucap Norr yang sedari tadi menatap Hanna.


Hanna kemudian menatap Norr. "Aku tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi."


Sepertinya aku tau sedikit obat untuk menyembuhkan pelayanmu ini." Ucap Leo yang menatap Hanna.


Hanna segera menoleh kearah Leo "Dimana itu? ucapnya dengan penasaran.


"Tidak terlalu jauh dari bukit ini ,obat itu berada di sebuah lembah kekeringan, namun kau harus hati-hati disana banyak hewan yang sangat menyeramkan." Ucap Leo yang menjelaskan.


"Aku tidak perduli, sebenarnya obat seperti apa itu?? tanya Hanna lagi.


Itu adalah telur dari burung api raksasa."


"Sebaiknya kita segera kesana untuk mengambil telur itu." Ucap Hanna yang segera mendekati Leo.


"Hanna apa kau sangat yakin? Disana sangat berbahaya." Ucap Norr memperingati.


"Apa aku terlihat sedang bercanda? ucap Hanna yang menatap Norr dan segera menaiki tubuh Leo.


"Berhati-hatilah." Ucap Norr.


"Leo cepat kita tidak memiliki banyak waktu." Ucap Hanna kepada Leo.


Harimau Putih itu bergegas pergi denga cepat. "Baik."


Di perjalanan.


"Hanna, ternyata kau begitu memperdulikan nyawa pelayan mu itu, kau bahkan rela mempertaruhkan keselamatanmu demi menolongnya." Ucap Leo dengan kagum.


"Dia adalah Pelayan setiaku." Jawab Hanna.


Hmm jadi kau sebagai tuannya akan membantu setiap kesulitan yang Pelayanmu hadapi itu." Ucap Leo.


"Dia selalu mendampingiku, membantu dan menyemangatiku, jadi dia tidak pantas untuk mati." Ucap Hanna tegas.


"Aku sungguh sangat terkesan padamu, Hanna."


"Benarkah, bukankah aku ini hanya seorang gadis angkuh, mana mungkin kau dapat terkesan padaku." Ucap Hanna dengan santai.


"Iya kau memang angkuh dan sombong, tapi aku merasa semua itu hanyalah untuk menutupi kebaikan hati yang kau miliki." Ucap Leo lagi.


"Aku tidak menyangka ,ternyata kau juga memiliki kata-kata semanis itu, tapi aku heran mengapa kau masih sendirian tidak memiliki pendamping." Ucap Hanna dengan sedikit penasaran.


"Haha aku masih menikmati masa mudaku, tidak seperti dirimu yang sekarang bersandang menjadi Permaisuri Pangeran." Ucapnya dengan sedikit meledek.


"Aku pun tidak berniat untuk menikah, aku bahkan tidak serius dengan pria itu." Jawab Hanna.


"Aku takut jika nantinya pria yang tidak kau seriusi itu akan menjadi pria yang paling kau sayangi." Ucap Leo.


"Perhatikan saja langkahmu." Ucap Hanna tidak suka.


"Hahaha, sehebat-hebat nya seorang gadis dia akan luluh karna satu orang pria yang dia cintai." Ucap Leo dengan terus meledek Hanna.


"Hey kau pandai sekali merakit kata-kata, padahal dirimu saja belum pernah merasakan cinta." Ucap Hanna kesal.


"Memang benar, tapi aku ini tidak sebodoh manusia-manusia yang sok pintar tapi sebenarnya tidak memiliki keyakinan apapun." Ucap Leo dengan sombong.


"Hmm tapi sekarang aku merasa kau tidak jauh berbeda dari manusia bodoh itu, kau dapat berkata tapi tidak dapat menjalaninya." Ucap Hanna yang terlihat dingin.


Sebentar lagi kita akan sampai." Ucapnya yang segera mengalihkan pembicaraan.


"benar juga." Uca Hanna.