
Putri Yuri yang tengah berada didalam kamarnya, kini tengah merias Wajahnya yang dibantu oleh para Pelayan Istana. Putri Yuri merasa janggal dengan sikap mereka semua terhadap dirinya. Pakaian yang ia kenakan pun tidak semewah biasanya, timbul rasa curiga dalam dirinya.
"Hentikan!" Ucap, Putri Yuri yang meminta kepada salah Seorang Pelayannya untuk menghentikan pekerjaannya.
Pelayan yang tengah menyisir rambut Putri Yuri seketika terkejut, lalu dirinya segera menghentikannya, Pelayan itu nampak ketakutan, ia berpikir bahwa dirinya telah melakukan suatu kesalahan.
"Ampun Putri, saya mohon ampunan anda." Ucap, Seorang Pelayan Wanita itu yang segera bersujud disamping Putri Yuri.
Putri Yuri yang melihat sikap dari salah satu Pelayannya yang nampak begitu amat takut dengan dirinya, segera ia berbicara kepada Pelayannya itu.
"Aku tidak akan menghukum dirimu, jika kau menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi, aku merasa kalian semua bersikap begitu sangat aneh, juga Paman Lu, katakan! Atau aku akan benar-benar menghukum kalian!" Ucap, Putri Yuri yang tengah memandangi dirinya didepan cermin.
Ke-tiga Pelayan Istana yang mendengar ucapan dari Putri Yuri, terlihat Wanita itu telah curiga dengan apa yang telah terjadi pada diri Raja Age. Rasa takut menghantui diri mereka, berberapa Pelayan yang tengah berada didalam Kamar Putri Yuri hanya saling memandang satu sama lain, mereka terlihat begitu sangat gugup dan takut setengah mati jika harus mengatakan yang sejujurnya. Tidak lama kemudian datanglah Lu Meng, yang tengah berdiri didepan pintu kamar Putri Yuri.
"Putri Yuri, mengapa belum usai juga? Kami sudah menunggu dirimu begitu sangat lama?" ucap, Paman Lu Meng yang tengah menatap Putri Yuri.
Putri Yuri yang terkejut akan kehadiran dari Pamannya segera ia bangkit dari duduknya, dan berjalan untuk dapat menghampiri Pamannya itu, Putri Yuri kemudian melihat Pakaian yang dikenakan oleh Pamannya itu terlihat sangat membuat jantungnya berdegup cepat, karena Pakaian yang tengah dikenakan oleh Pamannya itu adalah Pakaian untuk menghadiri kematian seseorang.
"Paman Lu, mengapa kau mengenakan Pakaian itu? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa aku merasa kalian semua tengah menyembunyikan sesuatu dari diriku, jika kau tidak mengatakannya kepada diriku, maka aku akan meminta kepada ayah untuk menghukum dirimu!" Ucap, Putri Yuri dengan perasaan kesal.
Lu Meng yang mendengar perkataan dari Keponakannya itu dengan segera ia menjawabnya dengan raut Wajah dingin dan santai itu.
"Kemari ikutkah dengan diriku, karena aku akan membawa Putri Yuri untuk menemui jawaban yang tengah kau cari itu." Ucap, Paman Lu Meng yang masih berdiri didepan pintu Kamar Putri Yuri.
Putri Yuri merasa bingung, namun ia segera mendekati Pamannya, ketika sudah berada dihadapan Paman Lu Meng, Putri Yuri segera menghentikan langkahnya.
"Baiklah, Paman." Ucap, Putri Yuri yang menatap Wajah dingin Paman Lu Meng.
Lu Meng yang melihat Keponakannya itu segera ia memalingkan tubuhnya dan berjalan terlebih dahulu untuk dapat menuju halaman Istana. Putri Yuri kemudian segera mengikuti Paman Lu Meng yang telah berjalan mendahului dirinya. Dengan perasaan curiga dan juga Putri Yuri berharap apa yang ia dapatkan nantinya adalah sebuah keuntungan untuk dirinya, bukan sebaliknya.
Pelayan yang tengah berada didalam Kamar Putri Yuri merasa sangat gugup, Pelayan yang semula tengah bersujud segera bangkit dan menatap Putri Yuri yang tengah mengikuti Paman Lu Meng.
"Sial! Hampir saja aku mati!" Ucap, Pelayan itu dengan perasaan kesal.
Ke-tiga Pelayan yang juga tengah berada didalam Kamar Putri Yuri segera menatap salah seorang temannya.
"Hmm, anggap saja ini sebuah keberuntungan untuk dirimu." Ucap, salah Seorang Pelayan lainnya.
"Hmm... Aku sungguh sangat tidak sabar melihat Putri sombong itu menangis dihadapan jasad ayahnya!" Ucap, salah seorang Pelayan yang tengah menatap teman-temannya.
"Benar juga." Ucap, ketiga temannya, lalu mereka segera berjalan untuk dapat keluar dari dalam kamar Putri Yuri.
Di dalam Kamar Raja Age.
Putri Yuri merasa sangat terkejut ketika mendapati orang yang tengah berkumpul dihalaman Kamar Ayahnya, ia merasa sangat bingung dengan semua itu, Pakaian mereka pun nampak sederhana, hanya warna putih dan hitam. Dugaannya mulai mencuat tentang Ayahnya, timbul rasa khawatir dalam dirinya. Lalu Putri Yuri melihat tubuh Ayahnya yang telah berada diatas tempat tidur dengan segala luka yang memenuhi tubuhnya.
"Tidak! Paman Lu, apa maksud dari semua ini! Paman jawab aku! Apa kau sudah menjadi bisu! Hah!" Bentak Putri Yuri dengan perasaan kesal.
Paman Lu Meng kemudian menghentikan langkahnya, dia terdiam sejenak kemudian Pria itu segera menjawab perkataan dari Putri Yuri, tanpa sedikitpun menoleh ke arah belakang.
"Raja Age telah kalah dalam medan perang." Ucap, Lu Meng yang menatap tubuh Raja Age yang tengah berada diatas tempat tidur.
Putri Yuri yang mendengar perkataan dari Paman Lu Meng, merasa sangat terpukul dengan hal itu, tak terasa bola Matanya berkaca-kaca, tak lama kemudian butiran air asin jatuh dari dalam Matanya dan menyentuh pipi Putri Yuri.
"Ti... Tidak! Tidaaaak!" Teriak Putri Yuri yang segera bersimpuh dibelakang tubuh Pamannya.
Paman Lu Meng yang tengah berada didepan Putri Yuri, segera ia memalingkan tubuhnya dan melihat diri Putri Yuri yang tampak terpukul akan kepergian dari Raja Age, Paman Lu Meng kemudian segera merendahkan tubuhnya dan meraih tubuh Putri Yuri yang tengah bergetar.
"Kau tidak sendiri! Aku akan merawatmu, Putri Yuri." Ucap, Paman Lu Meng yang segera mendekap tubuh Putri Yuri dengan erat.
"Aku pasti akan membalaskan dendam Ayahku, aku berjanji kepada langit dan bumi, aku tidak akan mati sebelum aku membunuh Kaisar Yu! Nyawa dibayar dengan nyawa!" Dalam benak Putri Yuri yang merasa sangat terpukul akan kepergian dari Raja Age.
"Paman Lu, tolong jadikan aku muridmu, aku ingin menjadi kuat, aku ingin membalaskan dendam ayahku! Aku mohon Paman Lu, tolong, tolonglah diriku." Ucap, Putri Yuri yang segera menatap Wajah Pamannya.
Lu Meng yang mendengar perkataan dari Putri Yuri, dirinya dibuat terkejut dengan apa yang ia dengar, dia terlahir tanpa adanya kasih sayang dari seorang Wanita, dididik dengan sangat keras oleh Raja Age, hingga melahirkan pribadinya yang penuh dengan rasa kebencian, serakah, kejam, sungguh Putri Yuri yang malang.
"Aku... Hm, baiklah." Ucap, Paman Lu Meng yang masih merasa sangat tidak yakin dengan jawaban yang ia berikan.
Putri Yuri yang mendengar jawaban dari Pamannya segera ia memeluk tubuh Pamannya lagi sambil melekatkan kepalanya pada dada Pamannya itu. Lu Meng yang melihat Putri Yuri yang masih dalam kondisi tidak stabil, ia harus menerima permintaan dari Putri Yuri. Tidak mungkin ia menolak untuk membantu Keponakannya itu, karena Paman Lu Meng berpikir bahwa tidak ada satupun orang yang dapat menjaga Putri Yuri saat ini selain dirinya, setidaknya jik ia yang menjaga Putri Yuri, ia akan merasa lebih tenang.
"Hmm, aku turuti saja permintaannya, saat ini ia tengah tidak dalam kondisi stabil, pikirannya sedang kacau, mungkin beberapa hari kemudian aku akan berbicara baik-baik dengan dirinya, jika semua orang tidak bisa saling memaafkan maka akan terjadi sebuah pertengkaran, timbul rasa dendam yang terus berkepanjangan hingga pada akhirnya akan menyisakan kehancuran." Dalam benak Paman Lu Meng, lalu dia segera memejamkan sepasang Matanya sambil mengelus rambut Putri Yuri.
Putri Yuri yang tengah berada dalam dekapan Pamannya itu, menunjukkan raut Wajah penuh kebencian, bibirnya bergetar, tubuhnya pun juga sama.
"Mengapa Dewa sekejam itu terhadap diriku! Aku tidak akan menunggu Dewa yang melakukan tugasnya, tapi aku sendirilah yang akan membalas perbuatan dari Kaisar Yu terhadap Ayahku!" Dalam benak Putri Yuri yang merasa sangat terpukul.