
Tak lama akhirnya mereka sampai di Istana megah milik Xia Chen, dengan segera Xiao Chen meloncat kebawah. Kemudian Xiao Chen memperhatikan Haruka, dia ingin membantunya. Tetapi, menurutnya itu bukanlah ide yang bagus, Haruka adalah seorang wanita yang tangguh. Salah-salah nanti dia malah akan menyinggung perasaannya lagi.
Segera Xiao Chen berjalan ruangan pribadinya, perlahan ia segera menghentikan langkah dan menolehkan wajahnya ke arah belakang untuk dapat melihat Haruka.
Haruka dengan lincahnya segera meloncat ke bawah dengan sempurna. Segera Haruka berjalan untuk mendekati Xiao Chen.
"Aku akan memakai taman belakangmu, apakah kau tidak keberatan?" tanya Haruka sambil menatap wajah Xiao Chen.
"Tidak masalah." Jawab Xiao Chen yang segera mempersilahkan Haruka untuk memakai tamannya.
"Baiklah, aku tidak akan merasa sungkan lagi." Ucap, Haruka dengan segera ia berjalan menuju halaman belakang milik Xiao Chen.
Xiao Chen melihat Haruka yang begitu sangat bersemangat untuk dapat menyelamatkan teman-temannya. Nampak cemas. Namun, mau dikata apa lagi ini sudah menjadi tekadnya yang tidak bisa digoyahkan oleh siapapun juga. Kemudian segera ia pergi meninggalkan Haruka untuk kembali kedalam ruangannya.
Haruka yang tengah berada ditaman belakang milik Xiao Chen, nampak sangat fokus untuk memperhatikan setiap jurus yang berada didalam buku kuno itu. Haruka membacanya hanya sebentar saja, lalu dengan segera ia menyimpannya kembali didalam pakaiannya.
Haruka berjalan dengan perlahan ke arah tengah halaman. Segera ia mengangkat tangan kanannya ditekuknya ketiga jari sedangkan yang tengah berdiri didepan hidungnya adalah jari telunjuk dan tengah yang harus rapat.
Jurus itu harus ia ucapkan dari dalam hati, agar tidak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya. Haruka menarik napasnya kemudian segera ia menghelanya.
"Kame no me." Ucap, Haruka didalam benaknya, sambil menanamkan sebuah kepercayaan bahwa dialah yang akan menguasai kekuatan itu, bukan sebaliknya.
Tak lama rambut Haruka yang terurai memanjang itu, terhembus oleh angin. Mata kanannya berubah menjadi merah berkat batu perak yang telah mendarah daging dalam dirinya itu. Kedua jari kanan Haruka dengan segera mengeluarkan arus listrik, yang perlahan membesar. Mata kanan Haruka yang berwarna merah dengan simbol bintang segera berganti menjadi mata merah dengan simbol hitam yang melingkar.
Tak lama Haruka segera menggabungkan kekuatan yang telah ia miliki sebelumnya.
"Red Phoenix Fur." Ucap, Haruka dengan segera punggung dari tangan kanan Haruka terdapat bulu berwarna merah layaknya bulu dari burung Phoenix api.
"Three Shadows." Ucap, Haruka yang membangkitkan kekuatan itu, dengan segera kini tubuhnya dapat menjadi tiga orang yang sama.
"Kekuatan benih petir." Ucap, Haruka lagi tak lama pedang pusaka keluar dari atas langit, menembus gelapnya awan yang telah berubah menjadi gelap.
Segera Haruka menangkap pedang pusakanya dengan tangan kanan, Haruka masih belum tau kekuatan apa yang akan ia dapatkan dari mata barunya ini.
"Tidak ada salahnya untuk kita coba, kalian kemarilah." Ucap, Haruka yang segera meminta kepada kedua bayangannya itu untuk menyerang dirinya.
Kedua bayangan Haruka yang mengerti segera mengitari tubuh Haruka. Namun entah mengapa saat mereka belum melakukan penyerangan apapun mata kanan Haruka segera bekerja. Ia dapat melihat semua gerakan yang akan dilakukan oleh kedua bayangannya itu.
Haruka terlihat sangat terkejut, namun dia merasa sangat senang karena menadapatkan sebuah mata yang amat berguna.