
Haruka kemudian segera berjalan untuk keluar dari dalam Istana Xiao Chen, Haruka kemudian menatap Rong, Naga emas milik Xiao Chen yang tengah berdiri diluar Istana, Rong nampak cantik dengan sisik keemasannya, Haruka kemudian segera mendekat ke arah Rong, Naga emas itu. Xiao Chen yang terlebih dahulu mendekat pada diri Rong, segera mengelus tubuhnya dengan lembut.
Haruka kemudian menatap Rong yang tengah berdiri dihadapannya itu, Xiao Chen kemudian segera menoleh ke arah belakang dia melirik Haruka yang tengah berdiri sambil terus memperhatikan Naga emasnya itu.
"Silahkan, naiklah terlebih dahulu." Ucap, Xiao Chen pada Haruka.
Haruka yang menatap wajah Rong yang nampak gagah, segera ia berjalan Rong yang segera menoleh ke arah Haruka dia kemudian merendahkan tubuhnya agar Haruka dapat naik diatas tubuhnya itu.
Haruka yang melihat hal itu, segera ia menaiki tubuh Rong dengan perlahan, Xiao Chen yang melihat Haruka telah duduk diatas tubuh Naga miliknya itu. Kemudian dia hanya terdiam tanpa ikut menunggangi tubuh Naganya itu. Haruka segera menatap diri Xiao Chen dia terlihat bingung, mengapa Xiao Chen tidak ikut dengan dirinya.
"Mengapa kau tidak ikut bersama dengan kami?" tanya Haruka dengan raut wajah dingin.
Xiao Chen yang sedari tadi masih memperhatikan Haruka, segera ia menjawab tanya Haruka yang nampaknya dia penasaran.
"Aku, akan menunjukkan arahnya kepada dirimu, namun aku tidak bisa ikut dengan dirimu, tiba-tiba saja ada panggilan mendesak dari dunia atas yang memerintahkan aku untuk kembali ke sana." Ucap, Xiao Chen dengan tegas.
Haruka yang mendengar ucapan dari Xiao Chen terlihat biasa saja, tidak ada perasaan curiga sedikitpun terhadap Xiao Chen.
"Hm, jika begitu pastinya Nagamu ini mengetahui dimana letak Bukit Zhandou itu bukan?" ucap, Haruka dengan tegas.
Xiao Chen yang tengah menatap wajah Haruka kemudian dia segera menganggukkan kepalanya, sambil membalas ucapan Haruka itu.
"Benar, sebaiknya kau segera pergi ke Bukit Zhandou itu." Ucap, Xiao dengan tegas.
Kemudian Xiao Chen berjalan mendekat ke arah Rong dia nampak tengah berbisik pada Naganya itu, Haruka yang melihatnya hanya terdiam dan terlihat sangat tidak perduli dengan apa yang Xiao Chen lakukan.
"Ingat untuk tetap berada disisinya, jangam biarkan dia terluka, aku harus kembali kedunia atas, apa kau mengerti?" ucap, Xiao Chen dengan berbisik pada Naganya itu.
Rong Naga emas milik Xiao Chen setelah mendengar pesan dari Xiao Chen kemudian hewan bertubuh besar itu menggerakkan kepalanya dan mendekat pada tubuh Xiao Chen, Xiao Chen kemudian segera mengelus-elus tubuh Rong yang bersikap manja kepada dirinya, Haruka yang melihat hal itu terlihat serius dalam memandang Rong.
"Berhati-hatilah." Ucap, Xiao Chen yang segera melepaskan lengannya dan berjalan untuk menjauh dari Haruka dan Naganya itu.
Haruka yang melihat Xiao Chen kemudian dia segera memalingkan wajahnya lagi dan Haruka segera memerintahkan pada Rong agar bergegas untuk pergi menuju Bukit Zhandou.
"Rong, mari kita pergi dari sini." Ucap, Haruka.
Rong yang mengerti akan perintah Haruka kemudian Rong segera mengangkat tubuh dan pergi untuk meninggalkan Xiao Chen.
Xiao Chen menatap Haruka yang tengah berada diudara bersama dengan Rong, terlihat tampangnya sangat masam itu semua karena dia tidak dapat menemani Haruka dalam bertarung. Perlahan Xiao Chen memejamkan kedua matanya cahaya putih segera menyelimuti tubuh pria itu, perlahan dia pun menghilang dari tempatnya.
Haruka yang tengah berada diudara menatap Rong yang terlihat sangat patuh pada Xiao Chen, entah apa yang dikatakan oleh pria itu. Tapi pastinya itu adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, iya Haruka berharap begitu, meskipun tidak dapat dipungkiri timbul rasa curiga terhadap Xiao Chen dan Naga emasnya ini, Haruka tidak ingin bertanya apapun kepada Rong, dia hanya terdiam saja. Baginya rahasia akan teta menjadi sebuah rahasia, hanya kepada mereka yang terpercayalah seseorang dapat mengutarakannya. Dan Haruka tidak ingin membuat seseorang harus menceritakan hal itu terhadap dirinya, jika itu memang berkaitan dengan dirinya, maka cepat atau lambat ia akan mengetahui rahasia itu dengan sendirinya.
Pagi har didalam Istana Yu.
Putri Yuri terlihat sangat kesal, raut wajahnya begitu tidak enak dipandang. Dia yang tengah berada didalam kamar sambil ditemani beberapa pelayan yang tengah mendampingi dirinya.
Di depan pintu kamar yang terbuka Yuan tengah bersujud tanpa bergerak sedikitpun, terlihat diatas kasurnya ada sebuah pakaian yang telah rusak. Tak lama Putri Yuri segera bersuara dengan perasaan kesal pada Yuan.
"Apa kau tau gaun itu adalah sesuatu yang sangat berarti bagiku, dan kau malah merusaknya! Aku hanya memintamu untuk membawanya kepadaku, aku juga tidak berbuat buruk terhadap dirimu, tapi mengapa kau sebegitu bencinya kepada diriku, Yuan!" Ucap, Putri Yuri dengan kesal.
Yuan yang masih bersujud kemudian segera berbicara dalam tundukkannya.
"Saya tidaklah berbuat apapun pada pakaian anda Putri, saat saya tengah mengambilnya dari dalam lemari milik anda, pakaian itu memang sudah rusak." Ucap, Yuan dengan suaranya yang terdengar tegas.
Putri Yuri yang mendengar ucapan dari Yuan terlihat begitu sangat kesal, dia tidaklah menyangka dari cara bicara pelayan itu, tidaklah sedikitpun dia takut kepada dirinya.
"Sial!" Dalam benak Putri Yuri yang terlihat sangat kesal.
Pangeran Kichiro yang tengah berjalan untuk menuju ruangan ayahnya dikejutkan dengan suara gaduh dari dalam kamar Putri Yuri, saat itu ia tengah bersama dengan kakanya Pangeran Rendra yang tadi pagi baru saja kembali dari berburu hewan didalam Hutan, Pangeran Rendra berniat menemui Pangeran Kichiro untuk membicarakan suatu hal yang baginya sangat penting. Keduanya nampak bingung dengan suara gaduh dari dalam kamar Putri Yuri, terlebih lagi Pangeran Rendra dia kemudian segera mengerutkan dahinya, dan menatap wajah Kichiro.
Tetapi, Pangeran Kichiro nampak sangatlah tidak perduli dengan apa yang tengah Putri Yuri lakukan, namun karena kakanya yang terlihat begitu penasaran dengan apa yang telah dibuat oleh Putri Yuri, akhirnya Pangeran Rendra menghampiri kamar dari Putri Yuri yang tengah terbuka lebar itu. Pangeran Kichiro mau tidak mau juga harus mengetahuinya.
Setibanya diluar kamar itu, Pangeran Kichiro dikejutkan dengan Yuan yang tengah bersujud dihadapan Putri Yuri, hal itu membuat Pangeran Kichiro merasa sangat marah.
"Ada apa ini!" Bentak Pangeran Kichiro.
Pangeran Rendra yang melihat tampang Kichiro yang terlihat sangat kesal, hanya terdiam sambil menatap ke arah bawah dilihatnya Yuan tengah bersujud dihadapan Putri Yuri. Putri Yuri yang terkejut segera ia terbangun dari duduknya dan mendorong tubuh dari pelayan-pelayan yang tengah mengelilinya itu.
"Ah! Pangeran, sebenarnya aku tengah menghukum Yuan, lihatlah dia telah merusak gaun kesayanganku." Ucap, Putri Yuri yang segera menunjuk ke arah gaunnya.
Pangeran Rendra kemudian segera melirik sebuah gaun yang tengah berada diatas kasur dan itu memang terlihat sudah rusak. Pangeran Kichiro kemudian menatap wajah Putri Yuri dengan hawa membunuh, lalu dia segera menatap Yuan yang tengah bersujud.
"Yuan, bangkitlah." Ucap, Pangeran Kichiro.
Yuan yang mendengar hal itu nampak terkejut saat Pangeran Kichiro membela dirinya, namun dia tetap bersujud dihadapan Putri Yuri.
"Putri Yuri, Yuan adalah salah satu pelayan yang aku percaya, jadi tidaklah mungkin ia melakukan hal itu, Yuan cepat bangun." Ucap, Pangeran Kichiro.
Perlahan Yuan pun bangkit dari sujudnya, Putri Yuri yang mendengar hal itu terlihat sangat kesal, lagi-lagi Pangeran Kichiro tidak mempercahainya. Para pelayan yang berada didalam kamar Putri Yuri nampak dibuat takut dengan sikap dari Pangeran Kichiro yang terlihat sangat mengerikan.
"Jika bukan dia pelakunya lalu siapa lagi?!" Ucap, Putri Yuri dengan kesal, saat melihat ke arah Yuan.
Pangeran Rendra yang sedari tadi tengah menatap Putri Yuri, dengan tegas ia segera berbicara yang membuat Putri Yuri mati kutu dibuatnya.
"Tentu saja itu ulah orang lain, yang pastilah dia sengaja ingin membuat Yuan celaka, dan terimpa masalah." Ucap, Pangeran Rendra dengan tegas.
"Hm, saya tidak mengerti maksud anda Pangeran, tapi sudahlah hari ini saya harus pergi ke Bukit Zhandou untuk bertarung dengan seseorang, masalah ini biarkan saja berlalu." Ucap, Putri Yuri dengan perasaan gugup.
Pangeran Rendra yang melihatnya nampak curiga dengan sikap dari Putri Yuri dia terlihat begitu tenang sekarang, setelah tadi dia nampak sangat marah pada Yuan.
"Hm, anda yakin tidak ingin mengusut masalah ini sampai tuntas? Ataukah anda ingin menerima bantuan dari saya, saya dengan senang hati anda membantu anda, untuk menemukan pelaku yang sesungguhnya." Ucap, Pangeran Rendra dengan tegas.
Putri Yuri terlihat semakin gugup dengan ucapan Pangeran Rendra, tangannya terlihat sedikit bergetar. Lalu dia kemudian berbicara sambil memasang tampang manis dihadapan Pangeran Rendra.
"Tidak perlu Pangeran, terima kasih, saya akan melupakan masalah ini, tidak perlu repot-repot begitu Pangeran, oh iya kapan anda kembali?" ucap, Putri Yuri yang terlihat gugup.
Pangeran Rendra yang menatap wajah Putri Yuri yang nampak gugup, juga dia dengan segera mengalihkan pembicaraan membuat semuanya terlihat sangat jelas dimata Pangeran Rendra dan Kichiro.
"Hm, pagi-pagi buta." Ucap, Pangeran Rendra dengan dingin.
Putri Yuri yang melihatnya kemudian dia segera tersenyum, sambil bersuara dalam hati.
"Untung saja dia tidak kembali dimalam hari, huh tapi nampaknya kedua Pangeran ini tidaklah mempercayai diriku, sial!" Dalam benak Putri Yuri yang terlihat begitu kesal.
"Hm hari sudah mulai siang, saya dan Pangeran Kichiro harus segera pergi, bukankah begitu Pangeran?" ucap, Putri Yuri yang menatap wajah Pangeran Kichiro.
Pangeran Kichiro yang mendengarnya kemudian dia segera menjawab ucapan dari Putri Yuri.
"Hm, benar tetapi aku harus menemui ayah terlebih dahulu." Ucap, Pangeran Kichiro tegas.
Putri Yuri kemudian tersenyum tipis pada Pangeran Kichiro lalu dia segera berjalan mendekat ke arah pangeran.
"Benar, saya juga harus ikut, untuk meminta izin kepada Kaisar Yu." Ucap, Putri Yuri yang terlihat mendekat pada Pangeran Kichiro.