
Kirana terus berlari sampai akhirnya mendorong tubuh dari Siluman wanita itu, dengan cepat Kirana menggerakkan lengan kirinya untuk mengendalikan bara api yang tengah berada disamping dirinya. Kirana melakukan ha itu dengan sangat cepat, karena dia sudah memikirkan semuanya dengan penuh rencana, sebelum Siluman itu menyemburkan api panas dari dalam mulutnya segera Kirana memasukkan puluhan bara api kedalam mulut Siluman itu, Kirana kemudian mulai menyeringai saat melihat Siluman itu merasa kesakitan dengan bara api yang menumpuk didalam mulutnya, Kirana segera mengangkat Pedang merahnya untuk menusuk tubuh dari Siluman itu, Siluman yang terkejut kemudian dia segerbalik menindih tubuh Kirana dengan kuat. Kirana nampak tercengang Pedangnya dengan segera dilempar jauh oleh Siluman itu, Kirana kemudian mulai memperhatikan Pedangnya yang kini telah berada di ujung bibir dari lubang api.
Norr yang melihat Kirana dari kejauhan, nampak sedikit khawatir terhadap dirinya. Norr kemudian segera menendang tubuh dari Siluman yang tengah berada dihadapnnya sampai terpental jauh membentur dinding-dinding Mulut Neraka. Noer kemudian berlari untuk segera menghampiri Kirana, namun sialnya dia harus melewati lima api yang menyala-nyala secara bergantian. Norr tidak dapat dengan jelas melihat keduanya karena pandangannya tertutup dengan kobaran api yang menyala-nyala dihadapannya.
Kirana kemudian menatap wajah Siluman itu yang menatap dirinya dengan tatapan tajam, namun hal itu sama sekali tidak membuat Kirana merasa gentar untuk menghadapi Siluman itu. Didalam batinnya dia bersuara sambil memperhatikan wajah Siluman itu dengan tampang waspada.
"Hanya tatapan seperti itu, jika aku ingin maka aku juga dapat melakukannya!" Didalam benak Kirana sambil mengeluarkan kekuatan mata teratai yang gunanya untuk menyegel Monster dan Siluman-siluman yang berada di muka bumi.
Tak lama tatapan dari kedua mata Kirana nampak mengerikan, Siluman wanita yang melihatnya dibuat tersentak dengan hal itu, saat dia ingin menjauh dari tubuh Kirana, entah mengapa tubuhnya tidak dapat dia gerakkan seperti sudah terkunci oleh kekuatan milik Kirana.
Kirana yang melihat ekspresi Dari Siluman wanita yang nampak kaku dan ketakutan hanya terdiam sambil tersenyum tipis kepadanya. Sungguh wanita yang murah senyum, di situasi seperti itu dia masih sempat-sempatnya tersenyum kepada lawan.
Tetapi sebenarnya senyuman manisnya itu mengartikan sebuah makna yang berbeda, jika di pikirkan lagi senyumannya semakin lama semakin mengerikan karena ditambah dengan tatapan dari sepasang mata yang nampak tajam.
Kirana kemudian menggerakkan tangannya tepat dihadapan Siluman itu kekuatan dari Kirana dengan segera terbuka terlihat cahaya hitam membentuk bunga teratai dihadapan Siluman itu, Siluman wanita yang melihatnya kemudian merasa amat takut terhadap Kirana, namun apa daya dia sudah tidak mampu lagi untuk menghindari serangan dari Kirana, Kini dia harus menerima ajalnya.
Sinar hitam kemudian menyelimuti tubuh dari Siluman wanita itu, tak lama kekuatan Kirana mendorong tubuh Siluman itu sampai terpental jauh membentur dinding Mulut Neraka. Norr yang tengah melewati api ketiga dari lima kobaran api, dibuat terkejut dengan hal itu, karena hampir saja tubuhnya tertabrak oleh tubuh dari Siluman wanita itu.
Kirana kemudian segera terbangun sambil merapikan pakaiannya, Norr yang melihat Kirana hanya terdiam tak terasa kini bibirnya tengah sedikit terangkat ke atas yang mengartikan dia sedang tersenyum tipis pada Kirana. Norr kemudian segera melewati kobaran api keempat dan kelima. Setelah berhasil melaluinya Norr kemudian berjalan untuk menghampiri Kirana.
Kirana yang tengah tertunduk ke bawah sambil merapikan pakaian, segera dikejutkan dengan kehadiran Norr yang tiba-tiba berada dihadapannya.
"Apa kau terluka?" tanya Norr dengan tampang serius.
Kirana kemudian segera mengangkat kepalanya dengan cepat karena dia juga merasa sangat terkejut dengan kehadiran Norr yang datang dengan tiba-tiba.
"Iya aku baik-baik saja, aw!" Ucap, Kirana yang merasa kesakitan saat kepalanya membentur dagu Norr, yang begitu dekat dengan dirinya.
Norr kemudian dibuat tersentak dengan teriakan Kirana, secara naluriah Norr kemudian segera menyentuh tubuh Kirana dengan kedua tangannya.
"Apa itu sakit?!" ucap, Norr dengan menatap wajah Kirana dengan sepasang bola mata hijau itu.
Deg...
Deg...
Deg...
Kirana yang melihat wajah Norr yang nampak dekat dengan dirinya terlihat sangat gugup, kemudian dia segera membuang wajahnya dan menatap ke arah bawah.
"Aku baik-baik saja!" Ucap, Kirana denga raut wajah malu-malu, namun dia nampak kesal dengan sikap Norr yang tiba-tiba saja begitu perhatian dengan dirinya.
Norr hanya terdiam saat melihat Kirana yang tidak ingin melihat wajahnya. Didalam benak Norr, Kirana sangatlah marah terhadap dirinya karena selama ini Norr selalu menyimpan rasa curiga terhadap diri Kirana. Tak sengaja Norr merendahkan pandangannya dia memperhatikan kedua kaki Kirana yang tidak beralaskan apapun itu menginjak bara api yang sangat panas, Norr tercengang saat melihat kedua kaki Kirana yang tengah terluka.
"Mengapa dia senekat ini!" Dalam benak Norr tidak suka.
Kirana yang merasa tidak enak dengan apa yang dilakukan Norr terhadap dirinya kemudian dia segera menyentuh kedua tangan Norr yang tengah menyentuh tubuh Kirana. Kirana mencoba untuk menyingkirkan tangan Norr yang berada di tubuhnya.
"Hmm... Norr, lepaskan!" Ucap, Kirana yang segera menjauhkan tangan Norr dari tubuhnya.
Norr kemudian menatap wajah Kirana denga tajam, tanpa meminta persetujuan dari Kirana Norr kemudian segera mengangkat tubuh Kirana ke pelukakkannya, Kirana sangat terkejut dengan hal itu.
Norr kemudian menatap wajah Kirana yang merasa kesal dengan sikap Norr, namun Norr jauh merasa kesal lagi terhadap Kirana.
"Apa kau tidak lihat, kau sedang terluka!" Ucap, Norr dengan tegas.
Kirana sungguh dibuat terkejut dengan ucapan dari Norr, dia sangatlah tidak menyangka pria yang dahulu sangat cuek, dingin bahkan acuh terhadap dirinya kini dapat memperlihatkan sikap lembut dan perduli terhadap dirinya.
"Tapi...." Ucap, Kirana yang merasa sangat gugup dihadapan Norr.
"Tidak ada tapi, sekarang cepat rangkul aku!" Ucap Norr dengan tegas.
Kirana hanya terdiam sambil menatap wajah Norr, dia tidaklah dapat berkata tidak dihadapan Norr. Kemudian dengan segera Kirana mengangkat kedua tangannya dan dia kalungkan di pundak Norr, Norr yang melihat itu kemudian segera berjalan keluar dari dalam Mulut Neraka.
Tetapi sepertinya Norr melupakan sesuatu, masih ada pria tampan yang tengah berada didalam Mulut Neraka. Dengan tampang kesal Leo kemudian segera memiringkan kepalanya.
"Mengapa aku ditinggalkan? Siapa diriku? Dimana aku?" ucap, Leo dengan hati yang sedih.
Leo kemudian segera berjalan untuk meninggalkan Mulut Neraka, dengan meloncati dinding tinggi dan besar itu. Tak lama akhirnya mereka dapat keluar juga dari dalam Mulut Neraka, Kirana merasa amat lega akhirnya dia mampu untuk mengalahkan Siluman itu.
Kini dengan segera mereka melanjutkan perjalanan untuk menuju Lembah kematian. Kirana kemudian segera mengangkat kepalanya ke atas untuk menatap wajah Norr.
"Kita sepetinya melupakan Leo?" ucap, Kirana dengan tegas.
Norr kemudian segera menundukkan wajahnya, saat dia ingin berbicara tiba-tiba Leo segera menyela ucapan Kirana, dan berjalan untuk mendahului Norr dan Kirana.
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja." ucap, Leo dengan segera mendahului Norr dan Kirana.
Kirana sungguh merasa tidak enak terhadap Leo yang nampaknya sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan Norr terhadap dirinya.
"Leo aku bisa jelaskan ini tidak seperti... Ah aku tau kau dan Norr itu...." Ucap, Kirana dengan gugup.
belum sempat dia melanjutkan ucapannya Norr dan Leo kemudian segera menatap wajah Kirana dengan kaku.
"Hei, aku ini pria sejati, tidaklah mungkin aku dengan Leo." Ucap, Norr dengan tegas.
Leo yang melihat Kirana kemudian nampak memperlihatkan tampang kesalnya.
"Meskipun Dewa belum memberikan aku jodoh, tetapi aku tidak mungkin berpikir sempit semacam itu, Kirana!" Ucap Leo dengan tegas.
Kirana kemudian merasa sangat canggung ternyata Norr dan Leo telah salah mengartikan ucapannya.
"Ah, tidak-tidak bukan seperti itu maksudku?!" Ucap, Kirana dengan panik.
"Sudah diamlah, jangan terus bergerak" Ucap, Norr dengan tegas.
Kirana yang melihat Norr berbicara dengan tegas terhadap dirinya kemudian dia segera terdiam, sambil menundukkan kepalanya. Norr kemudian segera tersenyum tipis saat melihat sikap dari Kirana yang begitu sangat penurut dan berhati-hati dalam bertindak.
"Mengapa dia terlihat sangat lucu sekali, eh apa maksud dari ucapanku ini, hmm." Dalam benak Norr yang kemudian segera menggelengkan kepalanya.