Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
32


malam hari di dalan kamar Amuya.


"Hmm sekarang tamat lah riwayatmu Hanna, kau akan benar-benar lenyap dari dunia ini." Ucapnya sambil menggenggam sebilah pisau, dengan tatapan benci kepada Hanna.


"Hahaha, benar kak ,sekarang kita harus cepat pergi dan menemui Hanna." Ucap Zofan dengan sangat senang. Di dalam benaknya. "Hanna kali ini kau harus mati!


Segera mereka berjalan tergesa menuju kamar Hanna, Putri Kirana yang menatap dari balik jendela.


"Apa yang sedang mereka lakukan disana? Dan untuk apa Selir Amuya membawa pisau? Ucapnya dengan menatap curiga.


Putri Kirana yang penasaran akhirnya keluar dari kamar dan mengikuti mereka.


Putri Kirana yang muncul tiba-tiba dia berdiri di belakang Amuya dan Zofan. "Malam-malam begini kedua Selir Pangeran hendak kemana? Sepertinya tergesa sekali."


Amuya dan Zofan terkejut lalu membalikkan tubuh mereka.


"Ah Permaisuri Kirana, ada apa anda kemari? Anda belum istirahat? Bukankah ini sudah larut? ucap Zofan dengan gugup.


Amuya segera menyembunyikan pisau yang dia pegang.


"Kenapa kalian terlihat sangat gugup?? Seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu? Ucap Kirana yang menatap tajam ke arah Amuya.


"Ah tidak Permaisuri, kami tidak sedang menyembunyikan apapun." Ucap Amuya dengan panik.


"Jika begitu mengapa malam begini kalian keluar dari kamar?? Dan berjalan sangat tergesa? Cepat jawab aku sedang bertanya?! ucap Kirana dengan membentak.


"Kami...." Ucapnya dengan sangat gugup. Didalam batinnya. "Ah sial mengapa harus bertemu dengannya disini."


"Ada apa ini? Tanya Permaisuri Jian yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka, kemudian dia berjalan mendekati Putri Kirana.


Putri Kirana menatap Permaisuri Jian yang berada disampingnya. "Ini bunda aku sedang menangkap seekor maling!Ucapnya yang menatap tajam Amuya dan Zofan.


Permaisuri Jian menatap Amuya dan Zofan denga dingin. "Apa yang sedang kalian lakukan malam-malam disini?


"Permaisuri kami hanya sedang berjalan-jalan saja, benarkan kak." Ucap Zofan dengan gugup lalu dia menatap Amuya.


"Ah, iya benar Permaisuri." Ucap Amuya dengan takut.


"Berjalan-jalan? Lalu untuk apa membawa pisau? Ucap Kirana dengan dingin saat menatap Amuya.


"Pisau ini tadi kami gunakan untuk memotong buah, dan ingin segera kami kembalikan ke dapur Istana." Ucap Amuya dengan gugup.


Amuya dan Zofan merasa sangal lega "Baik Permaisuri, kami pamit undur diri." Mereka segera berbalik badan dan pergi.


Permaisuri Kirana menatap Permaisri Jian. "Bunda apakah anda tidak curiga sama sekali dengan kedua Selir itu? Perkataannya tidak masuk akal dan mereka Berbicara dengan sangat gugup."


"Aku curiga, tapi apa gunanya memperluas masalah ini? ucap Permaisuri Jian dingin.


"Tapi jika memang benar mereka merencanakan niat buruk untuk Permaisuri Hanna, Pangeran Kichiro tidak akan tinggal diam." Balas Kirana dengan tegas.


"Hari sudah larut sebaiknya kau pergi ke kamar dan istirahat." Ucap Permaisuri Jian yang menatap Kirana.


"Baik Permaisuri." Ucapnya lalu pergi meninggalkan.


"Mereka benar-benar sangat ceroboh." Ucap Permaisuri Jian yang segera berbalik dan pergi.


"Aku yakin Bunda Jian sudah tau maksud mereka, tapi mengapa bunda tidak perduli akan hal ini? Sebenranya ada apa? Ucap Kirana yang curiga segera memasuki kamar.


Pagi hari di Istana Qin.


Pangeran Kichiro membuka tandu.


Seorang Putri dari Kerajaan Qin menatap dari atas istana.


"Siapa pria itu? dia sungguh sangat tampan." Ucap Puteri Kina yang terpesona.


Kichiro dan Kaisar Yu berjalan memasuki Istana.


"Sahabatku Yu. Apa kabarmu? ucap Kaisar Dikkan yang menyambut hangat.


"Tentu saja baik." Ucap Kaisar.


Kaisar Dikkan segera menatap Kichiro. "Ini putramu?


"Benar dia adalah Kichiro." Ucap Kaisar.


"Semoga Kaisar Dikkan panjang umur." Ucap Kichiro memberi hormat.


Putri Kina menatap ke arah Pangeran Kichiro. "Dia sangat tampan." Ucapnya dengan tersenyum.