
Langkah kaki itu tak berhenti bergerak, Pangeran Rendra terus menyusuri tempat yang begitu sangat asing baginya, Pangeran Rendra kemudian melihat dihadapannya terdapat sungai yang cukup deras, namun memiliki batu hitam yang cukup besar, untuk dapat menuju ke tempat lain Pangeran Rendra harus melewati sungai deras itu. Air itu terlihat begitu sangat tenang, namun Pangeran Rendra tetap harus berwaspada, ia menatap sekeliling ketika tidak ditemukannya sesuatu yang mencurigakan Pangeran Rendra segera mengangkat kaki kanannya untuk dapat berjalan menyusuri sungai. Tetapi tampaknya langkahnya harus ia hentikab ketika dirinya melihat dari dalam air Wajah seseorang yang tengah menatap dirinya dengan sepasang Mata merah merekah, Pangeran Rendra yang terkejut segera ia menatap tajam bayangan itu, kemudian pandangannya segera ia alihkan, untuk menatap ke arah samping kanannya, namun ternyata tidak ada siapapun yang tengah berada disamping dirinya. Namun, bayangan itu terus berada dihadapannya ketika ia melihat air sungai.
Pangeran Rendra mulai berpikir bahwa tempat itu memanglah tengah dijaga oleh seseorang atau sesuatu yang sangat berkuasa. Untung saja dirinya belum sempat memasukkan kakinya ke dalam air, jika itu terjadi mungkin saja penjaga sungai itu akan semakin murka terhadap dirinya.
"Siapakah dirimu? Tunjukkan wujudmu?" ucap, Pangeran Rendra yang menatap tajam bayangan itu.
Tidak lama kemudian bayangan itu menghilang dengan perlahan, hal itu semakin membuat diri Pangeran Rendra curiga, ia merasa penjaga sungai itu sangat tidak menyukai dirinya, Pangeran Rendra terus menatap sekeliling dengan sikap waspada, ia mengeluarkan Pedangnya yang saat itu berada didalam jubah hitamnya itu. Pangeran Rendra yang sudah sangat siap untuk menghadapi mahluk apapun yang akan menyerang dirinya itu, tengah menggenggam erat sebuah Pedang yang saat ini tengah berada didalam kepalan tangan kanannya.
Syat.... Terlihat sebilah Pisau tajam tengah melayang dari arah belakang Pangeran Rendra.
Pangeran Rendra yang mendengar suara Pisau yang berasal dari arah belakangnya itu, segera ia menoleh ke arah belakang dan menghindar dari Pisau yang sudah siap untuk menusuk tubuhnya itu. Sampai pada akhirnya Pisau itu menancap pada batang Pohon yang tengah berada di seberang sungai. Pangeran Rendra menatapnya dengan perasaan sedikit cemas, lalu pandangannya segera beralih dan ia mulai menatap seseorang yang sudah berada dibelakang tubuhnya itu.
Di lihatnya seseorang tengah mengenakan topeng Wajah dengan sepasang bola Mata merah merekah tengah menatap diri Pangeran Rendra dengan tatapan tidak suka. Pangeran Rendra mengetahui hal itu karena itu memanglah wilayah dari orang itu, namun Pangeran Rendra hanya ingin melewatinya saja tidak lebih dari itu.
"Aku hanya ingin melewati air sungai ini untuk dapat melanjutkan langkahku." Ucap, Pangeran Rendra dengan tegas.
Sosok Wanita bertopeng itu hanya menatap Wajah Pangeran Rendra dengan sepasang bola Mata mengerikan, tampaknya ia tidak menyukai diri Pangeran.
"Tidak ada yang berhak untuk menginjak air sungai ini, tempat ini adalah milikku, jangan sekali-kali kau berani untuk menodainya dengan tubuhnya yang begitu sangat menjijikkan itu!" Ucap, Wanita bertopeng itu dengan pandangannya yang masih sangat mengerikan.
Pangeran Rendra yang melihat juga mendengar perkataan dari Wanita bertopeng itu yang tampaknya sangat tidak bersahabat dengan dirinya, membuatnya sedikit kesal, karena sedari tadi perjalanannya selalu dihalangi oleh seorang pengganggu.
"Sial! Jika seperti ini mungkin jalannya hanya satu, yaitu bertarung!" Dalam benak Pangeran Rendra yang sudah merasa sangat jengkel.
Sosok Wanita bertopeng itu menatap Wajah Pangeran Rendra yang terlihat sudah tidak lagi bersahabat dengan dirinya, membuatnya juga merasakan sebuah kekesalan terhadap diri Pangeran, dia yang seharusnya memohon baik-baik terhadap dirinya, tetapi Pangeran Rendra malah menunjukkan sorot Mata yang tidak menunjukkan itikat baik darinya.
"Hmh! Sepertinya kau sangatlah ingin melewati sungai ini, jika aku lihat kau sepertinya bukanlah orang biasa, tetapi aku tidak perduli akan hal itu, karena ditempat ini kau bukanlah siapa-siapa." Ucap, Wanita bertopeng itu yang terus menatap Wajah Pangeran Rendra yang tengah berdiri dihadapannya.
Kemudian dirinya segera mengeluarkan sebuah Pedang yang berada didalam air sungai, Pedang itu muncul dengan perlahan, Pangeran Rendra yang melihatnya kemudian dia segera menoleh ke arah belakang untuk dapat melihat Pedang itu, tak lama kemudian Pedang dengan warna bening itu segera melayang dan bergerak dengan sangat cepat untuk dapat berada dalam genggaman Wanita bertopeng itu.
"Jika kau dapat mengalahkan diriku, maka aku akan membiarkan dirimu untuk melewati sungai ini, namun jika kau tidak berhasil maka aku akan membunuh dirimu, wahai Pria!" Ucap, Wanita bertopeng itu yang menatap diri Pangeran Rendra dengan tatapan sinis.
Pangeran Rendra yang mengerti persyaratan itu, mau tidak mau dirinya harus bertarung dengan Wanita bertopeng itu, meskipun kini tenaganya sudah cukup banyak yang terkuras namun, ia harus melanjutkan perjalanannya.
"Baiklah, aku Terima tawaranmu itu." Jawab, Pangeran Rendra yang segera bersiap untuk menghadapi Wanita itu.
"Hmh! Bagus." Ucap, Wanita bertopeng itu yang segera memutar Pedangnya.
"Bocah bodoh! Beraninya kau menantang diriku!" Dalam benaknya dengan perasaan kesal.
Tak lama kemudian dedaunan jatuh diatas tanah, saat itu juga Pangeran Rendra dan Wanita bertopeng itu berjalan mendekat untuk dapat melakukan penyerangan.
"Hak... Hiah." Ucap, Pangeran Rendra yang segera memberikan serangan terhadap Wanita bertopeng itu.
Sosok Wanita bertopeng itu juga begitu, ia memberikan sebuah perlawanan yang sangat cepat, terdengar suara Pedang tajam dan runcing telah saling bertabrakan, Pangeran Rendra kemudian mencoba untuk mendorong tubuh Wanita bertopeng itu dengan sangat kuat, terlihat mereka bertarung hanya mengandalkan kemampuan bela diri saja, ternyata hal itu memanglah sangat sengaja dilakukan oleh Wanita bertopeng itu.
"Hmh!" Dalam benak Wanita bertopeng itu ia kemudian tersenyum sinis kepada Pangeran Rendra, tak lama kemudian Wanita bertopeng itu yang beralih untuk mendorong tubuh Pangeran Rendra dengan begitu sangat kuat.
Wanita bertopeng itu terlihat begitu sangat lihai memainkan Pedangnya, langkahnya pun terlihat sengat gesit.
Sring....
Sring....
Sring....
Suara Pedang yang saling bertabrakan itu menimbulkan suara nyaring, Pangeran Rendra terus didorong oleh sosok Wanita bertopeng itu dengan menggunakan Pedangnya, sampai tubuhnya menabrak batang Pohon yang cukup besar tengah berada dibelakangnya.
"Menyerahlah!" Ucap, Wanita bertopeng itu dengan tatapan tajam.
"Emh! Mustahil!" Jawab Pangeran Rendra yang segera menendang tubuh sosok Wanita bertopeng itu dengan sangat kuat.
Wanita bertopeng itu terjatuh diatas tanah, kemudian dia tersenyum sinis dengan hal itu, ia merasa semakin tertantang dengan pertarungan itu.
"Hmh! Sungguh sangat mengasyikkan sekali, sudah sekian lama aku tidak menjajal kekuatan yang aku miliki, tidak disangka hari ini aku akan menggunakannya." Ucapnya, lalu ia segera menancapkan ujung Pedang runcingnya dalam tanah tempat ia terjatuh.
Pangeran Rendra yang melihatnya dibuat terkejut dengan apa yang tengah ia saksikan, senyum sinis nampak begitu sangat jelas mewarnai Wajah Wanita bertopeng itu, hingga tak lama kemudian air sungai yang semula tenang dan damai terangkat ke atas seperti ombak yang begitu sangat besar dibelakang tubuh Wanita bertopeng itu. Pangeran Rendra terlihat tidak tinggal diam, ia dengan sekuat tenaga mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki, meskipun itu tidak dapat menandingi kekuatan dari Wanita bertopeng itu.
Tak lama kemudian Wanita bertopeng itu segera bangkit dan tertawa sinis terhadap diri Pangeran.
"Hanya itu yang kau miliki, sayang sekali!" Ucapnya, dengan tatapan sinis.