
Hanna menatap langit dan menggerakkan Pedang ke atas, kekuatan alam bergabung.
"Hanna apa yang sedang kau lakukan?ucapnya sambil menatap Hanna.
"Aku sedang menggabungkan kekuatanku." Jawab Hanna.
"Maksudmu? Kau ingin membuat hujan turun? ucap Leo tak percaya.
"Benar, jika petir adalah penanda akan datangnya hujan, maka angin adalah pelengkap untuk membuat hujan datang." Ucap Hanna.
"Hmm benar-benar tak terduga, kau mampu berfikir kritis seperti itu." Ucap Leo.
"Jika tidak di coba ,maka kita tidak akan tau? ucap Hanna yang melirik Leo.
"Sungguh cerdas." Ucap Leo kagum.
"Hmm kau baru mengetahuinya?? ucap Hanna yang menatap Leo.
"Aku sudah menduganya sedari awal, kau memanglah gadis yang sangat cerdas." Ucapnya dengan bangga.
Tak lama awan mulai berkumpul, petir menyambar dengan sangat kencang, angin berhembus semakin cepat, air mulai turun dari langit setetes demi setetes."
Hanna menatap keatas langit dengan tersenyum. "Aku berhasil."
"Sungguh luar biasa." Ucap Leo yang menatap langit yang menuruni air.
Hujan semakin deras.
"Jika api adalah sesuatu yang dapat membakar habis semua benda, maka ada air yang dapat memadamkannya, dan meskipun Seekor Ular dapat hidup di dalam air, namun jangan lupakan air bisa menghanyutkan apapun yang menghalanginya!!
"Sungguh tidak disangka dia berhasil, aku bangga padanya." Ucap Leo yang menatap Hanna.
"Apa yang terjadi mengapa hujan ini terus-menerus tidak berhenti! Jka begini aku akan mati, siapa sebenarnya gadis ini. Ucap Ular itu yang menatap Hanna takut.
"Jika hujan tidak segera berhenti tempat ini secepatnya akan menjadi lautan air." Ucap Hanna menatap Siluman Ular.
siluman ular : "Aku tidak ingin mati begini ,ku mohon ampuni aku, aku masih menyayangi nyawaku, kumohon padamu." Memohon tulus pada Hanna. "Maafkan aku yang sudah menantangmu, aku tidak tau ternyata kau begitu hebat, kumohon."
Hanna berfikir, dalam hatiny "Jika aku tidak menghentikan hujan ini maka sama saja aku bunuh diri." Segera dia memalingkan pandangan.
"Aku sudah menghentikan nya sekarang pergi dari jalanku." Ucap Hanna menatap Siluman Ular.
"Terimakasih, sebenarnya apa yang membuatmu datang kemari?
"Aku sedang mencari obat untuk temanku." Ujar Hanna.
"Obat seperti apa yang kau butuhkan? tanya Siluman itu.
"Telur burung api." Jawab Hanna.
Siluman ular itu sangat terkejut "Jika kau benar membutuhkannya, aku dapat menunjukan jalan untukmu, tapi berhati-hatilah telur burung api dijaga oleh burung api betina raksasa, jika kau tidak berhati-hati maka kau akan mati, meskipun kau memiliki kemampuan yang cukup luar biasa tapi burung api raksasa memiliki kekuatan yang sangat menakutkan."
"Terimakasih aku sudah tau apa yang aku lakukan, tidak sedikitpun aku merasa gentar untuk mengambil telur itu, jika aku tidak bisa meminta telur itu dengan cara baik-baik maka terpaksa harus dengan cara kasar." Ucap Hanna.
"Berhati-hati lah dia bukan lah lawan yang mudah kau hadapi." Ucap Siluman itu memperingati.
"Aku tau, tapi kau tenang saja aku tidak akan mati semudah itu." Ucap Hanna yang menatap Siluman Ular dengan santai.
Hanna berjalan mendekati Leo dan menaiki harimau putih itu.
"Leo kita pergi dari sini." Ucap Hanna.
Leo dengan cepat berlari menuju tempat burung api berada.
"Hanna benar apa yang dikatakan oleh siluman ular itu padamu, burung api raksasa itu bukanlah lawan yang mudah kau hadapi." Ucap Leo mempertingati.
"Apa sekarang kau coba untuk meragukan kekuatanyan pernah kau berikan padaku? Apa sekarang kau tidak mempercayaiku?? Tenang saja Leo kau tidak akan mati aku akan mendapatkan telur itu."
"Aku tidak takut mati, tapi aku mengkhawatirkan dirimu.
Kau banyak berkorban demi orang lain." Ucap Leo.
"Hmmm bukan kah itu sudah jadi tugasku." Balas Hanna.